Selat Hormuz Siap Dibuka Kembali, Minyak Brent Terjun di Bawah US$ 80
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Harga minyak dunia jatuh ke level terendah dalam tiga bulan pada perdagangan Selasa (16/6/2026). Amerika Serikat dilaporkan akan mengizinkan Iran segera kembali menjual minyak mentah sebagai bagian dari kesepakatan untuk mengakhiri konflik yang mengguncang kawasan Timur Tengah.
Minyak Brent anjlok 5% dan ditutup di US$78,96 per barel. Ini menjadi pertama kalinya patokan minyak global tersebut turun di bawah level US$80 sejak Maret. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat merosot 5,8% menjadi US$76,05 per barel.
Baca Juga
Menurut laporan The Wall Street Journal yang mengutip sumber yang mengetahui proses negosiasi, keringanan sanksi minyak terhadap Iran akan berlaku segera setelah perjanjian resmi ditandatangani.
Seorang pejabat senior AS mengatakan kepada CNBC bahwa Iran hanya dapat menikmati manfaat ekonomi dari kesepakatan tersebut apabila mematuhi seluruh komitmennya. Persyaratan itu mencakup penghentian program pengembangan senjata nuklir, netralisasi uranium yang telah diperkaya, serta tidak mengganggu lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz.
Upaya mengakhiri perang menjadi agenda utama dalam Konferensi Tingkat Tinggi G7 di Evian-les-Bains, Prancis. Detail lebih lanjut mengenai nota kesepahaman antara Washington dan Teheran diperkirakan akan diumumkan dalam beberapa hari mendatang.
Meski demikian, sejumlah pengamat masih mempertanyakan substansi kesepakatan tersebut.
Amos Hochstein, mantan penasihat energi Presiden Joe Biden, mengatakan pasar masih belum melihat dokumen resmi yang menjelaskan isi perjanjian.
“Tidak seorang pun melihat teksnya. Jika memang kesepakatan itu dicapai tiga hari lalu, cukup aneh jika hingga sekarang belum dipublikasikan,” ujarnya kepada CNBC.
Belum Normal
Sebelumnya, Washington dan Teheran mencapai kesepakatan sementara pada Minggu lalu yang memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari dan membuka kembali Selat Hormuz bagi seluruh kapal komersial.
Presiden Donald Trump, saat menghadiri KTT G7, menyatakan kerangka perdamaian dengan Iran telah ditandatangani dan Selat Hormuz akan “sepenuhnya dibuka kembali” pada Jumat mendatang tanpa pungutan dari Iran. Upacara penandatanganan resmi dijadwalkan berlangsung di Jenewa, Swiss.
Baca Juga
Kabar tersebut disambut positif oleh perusahaan pelayaran raksasa Jerman, Hapag-Lloyd. Perusahaan berharap empat kapal yang masih tertahan dapat kembali melintasi Selat Hormuz pada akhir pekan ini.
Namun, pelaku industri tanker menilai proses normalisasi tidak akan berlangsung secepat yang diharapkan pasar.
Chief Executive Officer Mitsui OSK Lines, Jotaro Tamura, mengatakan kepada Financial Times bahwa banyak operator kemungkinan menunggu beberapa pekan sebelum mengizinkan armada mereka kembali melintas.
Menurut Tamura, industri pelayaran membutuhkan bukti nyata bahwa situasi keamanan benar-benar membaik, bukan sekadar kesepakatan politik di atas kertas.
“Yang dibutuhkan bukan hanya kesepakatan antarnegara, tetapi implementasi nyata di lapangan sehingga perusahaan pelayaran merasa aman untuk kembali melintasi Selat Hormuz,” katanya.
Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang sebelum pecahnya perang pada akhir Februari lalu menyalurkan sekitar 20% pasokan minyak dunia. Karena itu, setiap perkembangan terkait keamanan kawasan tersebut langsung memengaruhi harga energi global.
