Minyak Brent Anjlok Hampir 5% Usai Iran Bahas Selat Hormuz dengan Saudi dan Oman
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Harga minyak dunia turun tajam setelah muncul harapan bahwa ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran mulai mereda. Penurunan terjadi di tengah pembicaraan diplomatik Iran dengan Arab Saudi dan Oman mengenai situasi di Selat Hormuz, jalur pelayaran yang menjadi urat nadi perdagangan energi dunia.
Baca Juga
Konflik AS-Iran Mereda, Minyak Brent Anjlok di Bawah US$ 90 per Barel
Dikutip dari CNBC, minyak mentah Brent, acuan internasional, ditutup turun 4,8% menjadi US$84,09 per barel pada perdagangan Selasa (28/7/2026). Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat turun 4% ke level US$79,26 per barel, kembali berada di bawah ambang psikologis US$80.
Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan Menteri Luar Negeri Seyyed Abbas Araqchi melakukan pembicaraan terpisah dengan para menteri luar negeri Arab Saudi dan Oman. Dalam pertemuan tersebut dibahas perlunya menghilangkan ketidakamanan di Selat Hormuz yang menurut Teheran dipicu oleh tindakan agresif Amerika Serikat.
Penurunan harga minyak juga didorong oleh berlanjutnya jeda sementara dalam konflik antara Washington dan Teheran. Meskipun Iran membantah telah menyepakati gencatan senjata selama 10 hari dengan Amerika Serikat, kedua pihak untuk sementara menghentikan aksi militer sehingga memunculkan harapan deeskalasi konflik yang sebelumnya mengganggu pasokan energi global.
Situasi tersebut muncul setelah beredar laporan bahwa persediaan amunisi Amerika Serikat mulai menipis. Presiden Donald Trump sebelumnya dikabarkan mempertimbangkan serangan besar terhadap Iran, namun rencana tersebut disebut ditunda karena pertimbangan stok persenjataan.
Meski demikian, Trump membantah laporan tersebut saat berbicara kepada wartawan di Air Force One dalam perjalanan menuju Michigan. Ia menegaskan militer Amerika Serikat masih memiliki persediaan senjata yang "berlimpah".
Baca Juga
Wall Street Ditutup Bervariasi, Dow dan S&P 500 Menguat di Tengah Penurunan Harga Minyak
Commonwealth Bank of Australia menilai penurunan harga minyak mencerminkan berkurangnya kekhawatiran akan eskalasi konflik dalam waktu dekat. Namun bank tersebut mengingatkan bahwa risiko terhadap pasokan energi global tetap tinggi.
Jeda konflik memang mengurangi ekspektasi serangan besar terhadap infrastruktur energi dan sipil. Namun, perbedaan pandangan mengenai Selat Hormuz masih berpotensi memicu kembali konflik.
Sementara itu, analis Goldman Sachs memperkirakan harga Brent dapat turun menuju US$80 per barel pada akhir tahun apabila Selat Hormuz kembali dibuka sepenuhnya pada kuartal terakhir tahun ini.
Meski demikian, Goldman Sachs mengingatkan bahwa gangguan pelayaran di Laut Merah maupun kemungkinan serangan terhadap infrastruktur minyak Arab Saudi masih menjadi faktor yang dapat kembali mendorong kenaikan harga minyak dan produk energi olahan.
