Trump Ungkap Operasi Rahasia Hormuz, Klaim Amankan 100 Juta Barel Pasokan Minyak Dunia
Poin Penting
|
WASHINGTON DC, investortrust.id – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengungkap operasi rahasia militer AS yang disebut telah membantu lebih dari 200 kapal dagang dan lebih dari 100 juta barel minyak melewati Selat Hormuz selama konflik dengan Iran.
Baca Juga
Dalam unggahan di Truth Social pada Rabu (9/6/2026), Trump menegaskan keberhasilan operasi tersebut menunjukkan bahwa Washington tetap menjadi kekuatan dominan di jalur pelayaran energi paling penting di dunia. “Keberhasilan luar biasa ini terjadi karena Amerika Serikat mengendalikan Selat Hormuz, bukan Iran,” tulis Trump.
Trump bahkan mengeklaim tanpa operasi tersebut harga minyak dunia bisa melonjak di atas US$200 per barel. Saat ini harga minyak masih bertahan di kisaran US$90 per barel meskipun pasar tetap menghadapi ketidakpastian tinggi.
Pernyataan tersebut menjadi pengakuan publik pertama mengenai skala operasi yang selama ini hanya disinggung secara terbatas oleh pejabat pertahanan AS.
Sebelum perang pecah pada 28 Februari, sekitar 20 juta barel minyak per hari atau hampir 20% pasokan minyak dunia melintasi Selat Hormuz.
Namun setelah serangan AS dan Israel terhadap Iran, Teheran membalas dengan menyerang kapal-kapal komersial dan memasang ranjau di sejumlah jalur pelayaran.
Akibatnya, lalu lintas kapal tanker anjlok tajam dan memicu gangguan pasokan terbesar dalam sejarah modern.
Menurut perkiraan pasar, lebih dari 1 miliar barel minyak hilang dari rantai pasokan global akibat terganggunya arus pengiriman melalui Hormuz.
Meski Trump mengklaim operasi rahasia tersebut berhasil menjaga aliran minyak, sejumlah analis menilai kondisi di lapangan masih jauh dari normal.
Helima Croft, Kepala Strategi Komoditas Global RBC Capital Markets, mengatakan volume minyak yang melewati Hormuz masih jauh lebih rendah dibanding periode sebelum perang.
“Dunia masih kehilangan volume minyak yang sangat besar setiap hari,” ujarnya kepada CNBC.
Kapal “Gelap” dan Operasi Senyap
Lembaga keuangan JPMorgan pekan lalu mengungkap indikasi bahwa volume minyak yang bergerak melalui Hormuz sebenarnya lebih besar daripada yang terlihat dalam data pelacakan publik.
Bank tersebut memperkirakan sekitar 2 juta barel per hari diangkut oleh kapal tanker yang mematikan transponder atau sistem identifikasi otomatis mereka untuk menghindari deteksi.
“Meski blokade laut masih berlangsung dan lalu lintas komersial turun tajam, volume minyak mentah dan produk energi yang melintasi Hormuz ternyata masih cukup besar,” tulis analis JPMorgan dalam laporannya.
Pada Mei lalu, Trump sempat mengumumkan misi pengawalan tanker bernama Project Freedom, namun program itu dihentikan secara mendadak.
Belakangan, pejabat pertahanan AS mengakui Angkatan Laut membantu koordinasi keamanan kapal-kapal yang melintas Hormuz, meskipun tidak secara langsung mengawal mereka.
Risiko Konflik Tetap Tinggi
Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan pasukannya terus melindungi kapal sipil dari serangan Iran.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio pekan lalu juga mengonfirmasi bahwa Washington telah merespons sejumlah serangan Iran terhadap kapal komersial.
Baca Juga
Serangan Israel ke Lebanon Persulit Kesepakatan Damai AS-Iran
Menurut Rubio, drone Iran yang digunakan dalam serangan memiliki tingkat akurasi rendah sehingga berisiko memicu bencana lingkungan jika menghantam kapal tanker besar.
“Jika mereka tidak menembaki kapal-kapal itu, kami tidak akan menembak. Tetapi kami harus merespons ketika serangan terjadi,” kata Rubio di hadapan Komite Hubungan Luar Negeri DPR AS.
Meskipun Iran dan Israel saat ini menghentikan serangan langsung satu sama lain, situasi di Selat Hormuz masih menjadi salah satu faktor risiko terbesar bagi pasar energi global. Selama jalur pelayaran tersebut belum kembali normal, harga minyak dan inflasi dunia diperkirakan tetap berada dalam tekanan.

