Hormuz: Iran Kuasai Laut, AS Kuasai Akses
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Siapa yang sesungguhnya menguasai Selat Hormuz saat ini? Pertanyaan itu menjadi semakin penting setelah perang Iran-AS-Israel memasuki hari ke-100 dan jalur energi paling strategis di dunia tersebut berubah menjadi arena perebutan pengaruh militer, ekonomi, dan diplomasi.
Jawabannya tidak sesederhana menunjuk satu pihak sebagai penguasa tunggal. Secara de facto, Iran menguasai wilayah geografis dan kemampuan gangguan (disruption capability) di Selat Hormuz, sedangkan Amerika Serikat menguasai akses internasional melalui kekuatan angkatan laut dan sistem sanksi global. Dengan kata lain, Iran dapat menghambat pelayaran, tetapi AS masih memiliki kapasitas terbesar untuk menentukan apakah lalu lintas maritim internasional dapat kembali normal.
Sejak perang pecah pada 28 Februari 2026, Garda Revolusi Iran atau IRGC secara efektif membatasi lalu lintas pelayaran melalui Selat Hormuz. Iran mengeluarkan berbagai peringatan kepada kapal-kapal dagang, melakukan pengawalan paksa, menyerang sejumlah kapal, serta menerapkan sistem pungutan bagi kapal yang ingin melintas. Akibatnya, arus pelayaran yang biasanya menjadi jalur sekitar 20% perdagangan minyak dunia turun drastis dan ratusan kapal terpaksa menunggu di luar kawasan Teluk.
Di sisi lain, Washington merespons dengan blokade maritim terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran sejak April 2026. Militer AS secara rutin mencegat drone Iran, menyerang radar pantai Iran di Goruk dan Pulau Qeshm, serta mengawal keamanan pelayaran internasional. Pemerintahan Presiden Donald Trump juga menegaskan bahwa pembukaan Selat Hormuz tanpa pungutan dan tanpa pembatasan merupakan syarat utama dalam setiap pembicaraan damai dengan Teheran.
Situasi tersebut menciptakan realitas baru. Iran memang berada di posisi geografis yang sangat menguntungkan. Sebagian besar jalur pelayaran Hormuz berada di dekat perairan Iran dan berada dalam jangkauan rudal, drone, kapal cepat, serta sistem radar IRGC. Bahkan sejumlah analis menyebut Iran saat ini memiliki kemampuan untuk “menutup” selat tersebut kapan saja, meskipun tidak mampu mengelolanya secara bebas tanpa konsekuensi internasional.
Baca Juga
Namun kekuatan Iran juga memiliki keterbatasan. Meski mampu mengganggu lalu lintas, Iran tidak mampu memulihkan perdagangan energi global tanpa kesepakatan dengan AS dan negara-negara Barat. Fakta bahwa Teheran menjadikan pembukaan kembali Hormuz sebagai salah satu tuntutan utama dalam perundingan damai menunjukkan bahwa kendali Iran belum bersifat absolut. Reuters melaporkan bahwa dalam berbagai rancangan kesepakatan, Iran bersedia memulihkan lalu lintas pelayaran ke tingkat normal sebelum perang dengan imbalan pencabutan blokade AS dan pelonggaran sanksi ekonomi.
Perkembangan terbaru juga menunjukkan bahwa Selat Hormuz kini menjadi salah satu titik utama kebuntuan diplomasi. Iran menuntut pengakuan atas perannya dalam pengelolaan jalur tersebut, sementara AS menolak segala bentuk pungutan maupun pembatasan pelayaran internasional. Uni Eropa bahkan pada 8 Juni 2026 menjatuhkan sanksi terhadap unit Angkatan Laut IRGC dan sejumlah pejabat Iran karena dianggap mengganggu kebebasan navigasi di Hormuz.
Dengan demikian, jika pertanyaannya adalah siapa yang paling berkuasa di Selat Hormuz saat ini, jawabannya adalah: Iran menguasai kemampuan untuk mengganggu dan menutup jalur tersebut, sedangkan Amerika Serikat menguasai kemampuan untuk membuka kembali dan menormalkannya. Tidak ada satu pihak yang memiliki kendali penuh. Selat Hormuz kini berada dalam kondisi “dual control”, di mana Iran memegang tuas geografis dan militer, sementara AS memegang tuas ekonomi, diplomatik, dan keamanan internasional.
Konsekuensinya sangat besar. Selama perebutan pengaruh itu belum terselesaikan, pasar energi global akan tetap rentan terhadap gejolak. Setiap serangan drone, rudal, atau kapal patroli di Hormuz dapat memicu lonjakan harga minyak, meningkatkan biaya logistik, dan memperburuk inflasi dunia. Karena itu, banyak analis menilai bahwa perdamaian di Timur Tengah pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh hubungan Iran dan Israel, tetapi juga oleh siapa yang akan memiliki pengaruh dominan atas Selat Hormuz, urat nadi energi dunia.

