Inflasi AS Mei Tembus 4,2% YoY, Tertinggi dalam Tiga Tahun
Poin Penting
|
WASHINGTON DC, investortrust.id – Inflasi Amerika Serikat kembali memanas dan mencapai level tertinggi dalam tiga tahun terakhir. Hal ini memperumit upaya Federal Reserve (The Fed) dalam menentukan arah kebijakan suku bunga di tengah gejolak geopolitik Timur Tengah.
Baca Juga
Inflasi AS Memanas, Pasar Mulai Prediksi Kenaikan Bunga The Fed
Data Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) yang dirilis Rabu (10/6/2026) menunjukkan Indeks Harga Konsumen (Consumer Price Index/CPI) naik 0,5% pada Mei secara bulanan setelah disesuaikan secara musiman. Secara tahunan, inflasi mencapai 4,2%, meningkat dari 3,8% pada April dan menjadi level tertinggi sejak April 2023.
Kenaikan tersebut sesuai ekspektasi pasar, namun menandai pertama kalinya inflasi kembali menembus level 4% dalam tiga tahun terakhir.
Lonjakan harga energi menjadi penyumbang terbesar. Komponen energi melonjak 3,9% dibanding bulan sebelumnya dan melesat 23,5% secara tahunan. Kenaikan ini terjadi di tengah gangguan pasokan minyak global akibat konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang telah berlangsung lebih dari 100 hari.
“Warga Amerika kembali terjepit oleh inflasi yang mencapai level tertinggi dalam tiga tahun,” kata Heather Long, Kepala Ekonom Navy Federal Credit Union, seperti dikutip CNBC.
Menurut Long, harga kebutuhan pokok seperti bahan bakar, pangan, listrik, dan layanan kesehatan menjadi sumber tekanan utama bagi rumah tangga AS.
“Berakhirnya perang dengan Iran akan membantu meredakan inflasi, tetapi tekanan harga pangan kemungkinan masih akan berlanjut,” ujarnya.
Meski demikian, data menunjukkan tekanan inflasi inti masih relatif terkendali. Inflasi inti yang tidak memasukkan komponen pangan dan energi hanya naik 0,2% secara bulanan dan 2,9% secara tahunan.
Angka tersebut lebih rendah dibanding kenaikan 0,4% pada April, mengindikasikan dampak tarif perdagangan dan lonjakan energi belum sepenuhnya merembet ke seluruh sektor ekonomi.
Harga pangan hanya naik 0,2%, sementara biaya perumahan—komponen terbesar dalam CPI—naik 0,3% secara bulanan dan 3,4% secara tahunan.
Biaya kendaraan baru turun 0,3%, sedangkan tarif transportasi turun 0,6%. Namun harga tiket pesawat meningkat 2,7%, mencerminkan dampak langsung kenaikan harga bahan bakar.
Chris Rupkey, Kepala Ekonom Fwdbonds, menilai data tersebut menunjukkan tekanan biaya hidup belum separah yang dikhawatirkan.
“Risiko inflasi pada barang-barang konsumen inti justru sedang mereda untuk saat ini,” katanya.
Dilema The Fed
Laporan inflasi muncul hanya beberapa hari sebelum rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada 17 Juni.
Pasar secara luas memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga acuannya. Namun investor kini semakin memperhatikan apakah bank sentral mulai mempertimbangkan kenaikan suku bunga tambahan apabila harga energi terus melonjak.
Baca Juga
Trump Ingin Suku Bunga Turun, The Fed Justru Bahas Potensi Kenaikan
Pelaku pasar saat ini memperkirakan langkah The Fed berikutnya kemungkinan berupa kenaikan suku bunga pada Desember, bukan pemangkasan seperti yang sebelumnya diharapkan.
Ketidakpastian semakin besar setelah Presiden Donald Trump memperingatkan Iran akan “membayar harga mahal” jika menolak proposal perdamaian terbaru Washington.
Analis menilai setiap gangguan baru di Selat Hormuz dapat memperburuk inflasi energi dan memaksa The Fed mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama.

