Inflasi AS Memanas, Pasar Mulai Prediksi Kenaikan Bunga The Fed
Poin Penting
|
WASHINGTON, investortrust.id – Pelaku pasar keuangan global mulai mengubah drastis ekspektasi terhadap arah kebijakan moneter Amerika Serikat setelah data inflasi terbaru menunjukkan tekanan harga yang masih sangat kuat.
Usai laporan inflasi April yang dirilis Selasa (12/5/2026), trader semakin menyingkirkan kemungkinan pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve dalam beberapa tahun ke depan.
Baca Juga
Inflasi AS April Melonjak 3,8% YoY, Harga Energi Jadi Biang Kerok
Berdasarkan alat pemantau FedWatch milik CME Group yang menggunakan kontrak futures suku bunga fed funds 30 hari, pasar bahkan mulai memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga sebelum akhir tahun ini.
Probabilitas kenaikan suku bunga kini diperkirakan mencapai sekitar 37%, mencerminkan meningkatnya kekhawatiran bahwa tekanan biaya hidup akan lebih dominan dibanding risiko perlambatan pasar tenaga kerja.
“Pada titik ini saya menduga The Fed hanya akan tetap menahan suku bunga,” ujar Kepala Ekonom Moody’s Analytics, Mark Zandi, kepada CNBC.
Menurutnya, faktor penentu utama bagi The Fed adalah ekspektasi inflasi masyarakat. “Jika ekspektasi inflasi terus meningkat, saya pikir The Fed akan mulai fokus pada pengendalian inflasi dan menaikkan suku bunga, bukan memangkasnya,” katanya.
Sebelumnya, survei konsumen memang telah menunjukkan ekspektasi inflasi yang tinggi. Namun ukuran berbasis pasar relatif masih terkendali.
Situasi berubah sejak perang Iran pecah pada akhir Februari. Kontrak derivatif forward yang mencerminkan ekspektasi inflasi terus meningkat dan kini berada di level tertinggi sejak musim gugur 2025.
Lonjakan harga energi menjadi pemicu utama tekanan inflasi tersebut. Harga minyak dan bahan bakar melonjak tajam sejak konflik Timur Tengah memanas.
Baca Juga
Minyak Brent Sentuh US$ 104, Eskalasi Konflik Timur Tengah Kembali Mengancam
Data Biro Statistik Tenaga Kerja AS menunjukkan inflasi tahunan April mencapai 3,8%, tertinggi dalam hampir tiga tahun terakhir.
Komponen energi menyumbang lebih dari 40% kenaikan indeks harga konsumen (CPI). Kondisi itu memperkuat kekhawatiran bahwa perang Iran mulai menimbulkan dampak luas terhadap ekonomi domestik AS.
Ekspektasi pasar yang semakin hawkish juga menjadi tantangan berat bagi Kevin Warsh yang diperkirakan segera mengambil alih kepemimpinan bank sentral bulan ini.
Warsh selama ini dikenal mendukung penurunan suku bunga, sejalan dengan sikap Presiden Donald Trump yang terus mendorong kebijakan moneter lebih longgar.
Namun menurut Zandi, kondisi inflasi saat ini membuat ruang pemangkasan suku bunga semakin sempit. “Saya tidak melihat bagaimana Warsh bisa mendapatkan dukungan untuk memangkas suku bunga dalam situasi sekarang,” katanya.
Meski demikian, sejumlah ekonom Wall Street menilai lonjakan inflasi masih banyak dipengaruhi faktor energi.
Kepala Ekonom Raymond James, Eugenio Aleman, mengatakan kenaikan inflasi April sebenarnya lebih moderat jika komponen makanan, energi, dan perumahan dikeluarkan dari perhitungan.
Ekonom Jefferies, Thomas Simons, juga menyebut dampak lonjakan harga energi terhadap sektor ekonomi lainnya masih relatif terbatas.
Ia memperkirakan The Fed kemungkinan besar tetap mempertahankan suku bunga sambil memantau perkembangan konflik Timur Tengah dan inflasi dalam beberapa bulan ke depan.
“Peluang pemangkasan suku bunga tahun ini memang semakin memudar, tetapi kami masih melihat langkah kebijakan berikutnya kemungkinan tetap berupa penurunan suku bunga, bukan kenaikan,” tulis Simons dalam catatannya.

