Trump Ingin Suku Bunga Turun, The Fed Justru Bahas Potensi Kenaikan
Poin Penting
|
WASHINGTON DC, investortrust.id - Mayoritas pejabat bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve (The Fed) mulai membuka peluang kenaikan suku bunga apabila perang Iran terus memperburuk inflasi AS. Hal tersebut terungkap dalam risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang dirilis Rabu (20/5) waktu setempat.
Baca Juga
The Fed Tahan Suku Bunga di Tengah Perpecahan Internal dan Tekanan Inflasi Akibat Perang Iran
Dalam rapat terakhir yang dipimpin Jerome Powell, The Fed memutuskan mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,5%-3,75%. Namun, pertemuan itu mencerminkan perpecahan pandangan yang semakin tajam di internal bank sentral.
Tercatat empat suara berbeda (dissenting votes), jumlah terbanyak sejak 1992. Tiga pejabat regional The Fed menginginkan agar bank sentral membuka opsi kenaikan suku bunga di tengah lonjakan inflasi akibat perang Iran dan kenaikan harga energi global.
Risalah rapat menyebutkan mayoritas peserta menilai “pengetatan kebijakan tambahan kemungkinan akan diperlukan” apabila inflasi terus bertahan di atas target 2%.
Perdebatan utama muncul terkait dampak perang Iran terhadap inflasi dan arah kebijakan moneter selanjutnya. Sebagian pejabat masih mendukung pemangkasan suku bunga jika inflasi kembali mendekati target atau pasar tenaga kerja melemah. Namun banyak pejabat lain menilai risiko inflasi kini jauh lebih besar.
“Mayoritas peserta mencatat meningkatnya risiko bahwa inflasi akan membutuhkan waktu lebih lama untuk kembali ke target 2% dibanding perkiraan sebelumnya,” tulis risalah tersebut.
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah telah mendorong lonjakan harga minyak dan energi global. Inflasi AS yang sebelumnya menuju target 2% kini kembali naik di atas 3%.
Goldman Sachs memperkirakan indikator inflasi utama pilihan The Fed akan mencapai 3,3% secara tahunan pada April, seperti dikutip CNBC.
Rapat tersebut juga menjadi yang terakhir dipimpin Jerome Powell sebagai ketua The Fed. Mantan Gubernur Kevin Warsh resmi mengambil alih posisi tersebut setelah melalui proses seleksi panjang dengan 11 kandidat.
Baca Juga
Kevin Warsh Gantikan Jerome Powell di Tengah Tekanan Inflasi dan Desakan Trump
Presiden Donald Trump secara terbuka menginginkan Warsh memangkas suku bunga guna menopang pertumbuhan ekonomi AS. Namun pasar kini justru mulai memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada akhir 2026 atau awal 2027 semakin besar.
Warsh menghadapi tantangan berat untuk meyakinkan pejabat The Fed bahwa peningkatan produktivitas berbasis kecerdasan buatan (AI) dapat membantu menekan inflasi dan mengimbangi dampak lonjakan harga energi.
Baca Juga
The Fed Tahan Suku Bunga di 3,5%–3,75%, Powell Bertahan di Tengah Tekanan Politik
Menariknya, Jerome Powell memutuskan tetap bertahan sebagai anggota Board of Governors The Fed selama beberapa waktu. Langkah tersebut menjadi fenomena langka karena tidak ada mantan ketua The Fed yang tetap bertahan di dewan gubernur selama hampir 80 tahun terakhir.

