100 Hari Perang Iran: Negosiasi Buntu, Trump Tak Mau Tarik Pasukan
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Upaya perdamaian antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali menemui jalan buntu ketika perang yang telah berlangsung selama 100 hari memasuki fase yang semakin kompleks. Ketegangan meningkat setelah kedua pihak saling melancarkan serangan pada akhir pekan, sementara jalur diplomasi yang selama ini dijaga dengan susah payah semakin rapuh.
Dalam laporan yang diperbarui CNN pada Minggu (07/06/2026) pukul 09.58 EDT atau sekitar 20.58 WIB, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan hambatan utama dalam negosiasi dengan Washington adalah perubahan sikap dan posisi AS yang dinilai tidak konsisten. Menurut Teheran, pemerintah AS kerap mengirimkan sinyal yang saling bertentangan sehingga menyulitkan proses pencapaian kesepakatan damai.
Baca Juga
Trump Janji Kesepakatan Nuklir Iran Lebih Baik Dibanding Era Obama
Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya kembali aktivitas militer di kawasan Teluk. Militer AS mengumumkan berhasil menembak jatuh dua drone Iran yang dianggap mengancam lalu lintas pelayaran internasional di Selat Hormuz. Insiden itu terjadi sehari setelah pasukan AS menyerang sejumlah fasilitas radar Iran, sementara Teheran meluncurkan rudal dan drone ke sejumlah negara Teluk yang dianggap mendukung operasi militer Washington.
Situasi ini menunjukkan bahwa gencatan senjata yang selama beberapa pekan terakhir menjadi landasan perundingan semakin rentan runtuh. Selat Hormuz, jalur yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dunia, kembali menjadi titik panas yang berpotensi mengguncang pasar energi global apabila konflik meluas.
Di tengah kebuntuan diplomasi, Presiden AS Donald Trump menegaskan belum memiliki rencana menarik sekitar 50.000 personel militer AS yang terlibat dalam operasi terkait Iran. Dalam wawancara program Meet the Press NBC yang direkam pada Jumat (5/6/2026) dan ditayangkan Minggu (7/6/2026), Trump mengatakan pasukan AS akan tetap berada di kawasan hingga misi dianggap selesai.
“Saya tidak menganggap mereka dalam bahaya. Kami memiliki sistem pertahanan terbaik dan kemampuan ofensif terbaik yang pernah ada,” kata Trump. Menurut Trump, menarik pasukan saat ini justru akan menjadi langkah yang tidak bijaksana karena AS mungkin masih membutuhkan kehadiran militer tersebut dalam perkembangan konflik berikutnya. Ia juga menyebut jumlah korban jiwa AS dalam konflik ini masih jauh lebih rendah dibandingkan perang-perang besar yang pernah diikuti Washington. Hingga kini, 13 personel militer AS dilaporkan tewas dalam berbagai serangan dan kecelakaan yang berkaitan dengan perang Iran.
Pernyataan Trump tersebut memperkuat sinyal bahwa Washington belum siap mengurangi tekanan militer terhadap Teheran meskipun jalur diplomasi tetap dibuka.
Pemimpin Baru Iran
Dalam wawancara yang sama, Trump juga memberikan penilaian menarik terhadap Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, putra dari Ayatollah Ali Khamenei yang tewas pada hari pertama perang akibat serangan Israel. Trump menyebut Mojtaba sebagai sosok yang “lebih muda dan lebih rasional” dibandingkan pendahulunya. Ia juga mengungkapkan bahwa pemimpin baru Iran tersebut mengalami luka serius akibat serangan yang menewaskan ayahnya.
“Lebih muda, saya kira lebih rasional. Dia terluka cukup parah, tetapi ada keberanian tertentu di sana,” ujar Trump. Meski demikian, Trump menolak menjelaskan apakah pemerintah AS mengetahui lokasi keberadaan Mojtaba Khamenei saat ini. Ia hanya mengatakan ada kemungkinan besar Washington mengetahui posisi pemimpin Iran tersebut.
Sementara itu, konflik di Lebanon juga menunjukkan eskalasi baru. Israel kembali mengeluarkan peringatan evakuasi bagi warga Kota Tirus (Tyre), salah satu kota tertua di dunia yang berada di Lebanon selatan.
Bentrok antara militer Israel dan kelompok Hizbullah yang didukung Iran meningkat dalam beberapa hari terakhir, meskipun sebelumnya kedua negara telah mencapai gencatan senjata yang dimediasi AS. Serangan udara dan baku tembak di wilayah perbatasan meningkatkan kekhawatiran bahwa front Lebanon dapat berubah menjadi medan perang kedua yang memperumit penyelesaian konflik Iran-AS.
Diplomasi Belum Menyerah
Meski situasi lapangan terus memburuk, berbagai upaya diplomatik masih berlangsung. Sebelumnya, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan Washington tetap membuka ruang dialog dengan Iran untuk mengakhiri konflik dan menjamin kebebasan pelayaran di Selat Hormuz. Sementara Qatar terus memainkan peran sebagai mediator utama dalam menjembatani komunikasi antara kedua negara.
Baca Juga
Namun, sejumlah pengamat menilai peluang tercapainya kesepakatan damai dalam waktu dekat masih terbatas. Perbedaan pandangan mengenai program nuklir Iran, status cadangan uranium yang telah diperkaya, keamanan Selat Hormuz, serta keberadaan pasukan AS di kawasan menjadi batu sandungan utama yang hingga kini belum menemukan titik temu.
Setelah 100 hari perang, konflik Iran-AS tampaknya telah memasuki fase baru: perang masih berlanjut, diplomasi belum mati, tetapi kepercayaan antara kedua pihak semakin menipis. Bagi pasar global, terutama pasar energi, kondisi ini berarti risiko geopolitik Timur Tengah masih jauh dari kata berakhir.

