Trump Janji Kesepakatan Nuklir Iran Lebih Baik Dibanding Era Obama
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali menyerang kesepakatan nuklir Iran era Presiden Barack Obama atau Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA), seraya berjanji bahwa perjanjian damai dan nuklir baru yang sedang dirundingkan dengan Teheran akan jauh lebih baik dibanding kesepakatan yang ditandatangani pada 2015. Pernyataan tersebut disampaikan Trump saat diwawancarai NBC News pada Jumat (05/06/2026) dan dilaporkan CNBC pada Sabtu (06/06/2026).
Trump menilai JCPOA merupakan “kesepakatan yang buruk” dan bahkan menyamakan perjanjian tersebut dengan memberikan jalan bagi Iran untuk memiliki senjata nuklir. Ia menegaskan bahwa pemerintahan sebelumnya telah menunjukkan kepemimpinan yang lemah sehingga memberi ruang bagi Iran memperkuat posisinya.
“Kesepakatan yang sedang kami upayakan dengan Iran akan jauh lebih baik,” tulis Trump sebelumnya di media sosial Truth Social pada 20 April 2026. Pernyataan itu muncul ketika perang Iran-AS-Israel yang pecah sejak akhir Februari 2026 memasuki bulan keempat tanpa kesepakatan damai permanen. Trump sebelumnya memperkirakan konflik hanya berlangsung empat hingga enam pekan, namun hingga kini negosiasi masih berjalan alot.
Baca Juga
Perdebatan Lama
JCPOA ditandatangani pada Juli 2015 oleh Iran dan kelompok negara P5+1 yang terdiri atas AS, Inggris, Prancis, Jerman, Rusia, dan China. Perjanjian tersebut membatasi program nuklir Iran, memperketat inspeksi internasional, serta memberikan pelonggaran sanksi ekonomi secara bertahap.
Di bawah kesepakatan itu, Iran diwajibkan membatasi pengayaan uranium hingga 3,67% selama 15 tahun dan mengurangi jumlah sentrifugal yang digunakan untuk memproduksi bahan bakar nuklir. Sebagai imbalannya, berbagai sanksi ekonomi internasional dicabut.
Namun pada 2018, Trump menarik AS keluar dari JCPOA dengan alasan perjanjian tersebut tidak mencakup program rudal balistik Iran, aktivitas regional Teheran, maupun dukungannya terhadap kelompok-kelompok militan di Timur Tengah.
Trump juga berulang kali mengklaim bahwa apabila AS tetap bertahan dalam JCPOA, Iran pada akhirnya akan memperoleh senjata nuklir.
Pakar Nilai JCPOA Efektif
Pandangan Trump tidak sepenuhnya sejalan dengan banyak pakar keamanan internasional. Mantan Menteri Energi AS era Obama, Ernest Moniz, yang terlibat langsung dalam perundingan JCPOA, menilai kesepakatan tersebut berhasil memperlambat program nuklir Iran sekaligus membuka akses inspeksi yang sangat ketat bagi Badan Energi Atom Internasional (IAEA).
Menurut Moniz, salah satu keunggulan utama JCPOA adalah mekanisme verifikasi dan transparansi yang belum pernah diterapkan pada negara lain. Inspektur IAEA memiliki hak untuk meminta akses ke lokasi yang dicurigai dalam waktu maksimal 24 hari.
Direktur Kebijakan Nonproliferasi dari organisasi Arms Control Association, Kelsey Davenport, bahkan menyebut JCPOA sebagai rezim inspeksi nuklir paling intrusif yang pernah dinegosiasikan dalam sejarah. “Kesepakatan itu tidak sempurna, tetapi efektif dan dapat diverifikasi. Tujuan utamanya tercapai,” kata Davenport kepada CNBC.
Data IAEA menunjukkan bahwa setelah AS keluar dari JCPOA, Iran secara bertahap melanggar berbagai pembatasan yang sebelumnya disepakati. Persediaan uranium Iran melonjak tajam dari batas sekitar 300 kilogram menjadi hampir 9.900 kilogram pada pertengahan 2025. Sebagian di antaranya telah diperkaya hingga 60%, mendekati level yang dapat digunakan untuk senjata nuklir.
Negosiasi Baru Lebih Sulit
Meski Trump terus menjanjikan kesepakatan yang lebih kuat, sejumlah analis menilai kondisi saat ini jauh lebih rumit dibanding satu dekade lalu. Selain kemajuan teknologi nuklir Iran, perang yang berlangsung sejak Februari 2026 juga menciptakan ketidakpastian baru mengenai fasilitas, material, dan kemampuan nuklir Teheran.
Menurut Davenport, perjanjian baru harus menghadapi tantangan yang jauh lebih besar dibanding JCPOA karena pengawasan internasional telah berkurang dan Iran memiliki kapasitas nuklir yang lebih maju dibanding saat kesepakatan 2015 ditandatangani.
Baca Juga
Harga Minyak Turun, Harapan Deeskalasi Konflik AS-Iran Redakan Pasar
Pandangan serupa juga disampaikan Moniz. Menurutnya, saat JCPOA lahir, situasi diplomatik jauh lebih kondusif dibanding sekarang. “Mungkin saja ada terobosan yang mengejutkan. Semua orang berharap demikian. Namun saat ini kondisi jelas jauh kurang menguntungkan dibandingkan satu dekade lalu,” ujarnya.
Perundingan nuklir kini menjadi salah satu isu paling menentukan dalam upaya mengakhiri konflik Iran-AS-Israel. Selain persoalan pengayaan uranium, negosiasi juga mencakup pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz, pencairan aset Iran yang dibekukan, serta mekanisme pengawasan internasional terhadap fasilitas nuklir Iran.
Sejumlah laporan media internasional, termasuk CNBC, The New York Times, Reuters, dan Al Jazeera, menyebutkan kedua pihak sebenarnya telah menunjukkan kemajuan dalam beberapa putaran perundingan. Namun hingga awal Juni 2026, belum ada kesepakatan final yang mampu mengakhiri konflik maupun menyelesaikan sengketa nuklir yang telah berlangsung lebih dari dua dekade.
