IEA Peringatkan Pasar Minyak Masuk “Zona Merah” pada Juli-Agustus
Poin Penting
|
LONDON, investortrust.id - Pasar minyak global berpotensi memasuki “zona merah” dalam beberapa bulan ke depan seiring menipisnya stok minyak dunia dan meningkatnya permintaan selama liburan musim panas. Peringatan itu disampaikan peringatan Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA).
Baca Juga
Harga Minyak Anjlok Lebih dari 5% Usai Trump Sebut Negosiasi Iran Masuki ‘Tahap Akhir’
Direktur Eksekutif IEA, Fatih Birol, Kamis (21/5/2026), mengatakan solusi paling penting untuk meredakan guncangan energi akibat perang Iran adalah pembukaan penuh dan tanpa syarat Selat Hormuz.
Menurut Birol, jika jalur strategis tersebut gagal dibuka kembali dan tidak ada tambahan pasokan minyak baru dari Timur Tengah, maka pengurangan stok global yang terus berlangsung ditambah lonjakan permintaan selama musim panas dapat membuat pasar minyak memasuki “zona merah” pada Juli atau Agustus.
Pernyataan itu disampaikan dalam forum Chatham House yang membahas krisis Selat Hormuz dan keamanan energi global.
IEA sebelumnya telah menyebut gangguan pasar energi saat ini sebagai salah satu yang paling parah dalam sejarah modern. Meski pasar awalnya memasuki krisis dengan kondisi surplus pasokan yang cukup untuk menyerap guncangan, stok tersebut kini terus terkikis.
Biasanya sekitar 20% pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia melewati Strait of Hormuz. Namun, lalu lintas pengiriman praktis terhenti sejak serangan AS dan Israel terhadap Iran dimulai pada 28 Februari lalu.
Birol memperingatkan bahwa dampak terbesar dari krisis ini kemungkinan akan dirasakan negara-negara berkembang di Asia dan Afrika. Ia bahkan mengaku sama khawatirnya terhadap ancaman perang Iran terhadap ketahanan pangan global seperti terhadap keamanan energi.
Ia juga memperingatkan bahwa produksi dan pengolahan minyak Timur Tengah kemungkinan membutuhkan waktu lama untuk kembali ke level sebelum perang. Karena itu, IEA menyatakan siap mengambil langkah tambahan dengan mengoordinasikan pelepasan cadangan minyak strategis jika diperlukan.
Pada Maret lalu, IEA telah mengoordinasikan pelepasan 400 juta barel minyak dari cadangan strategis untuk mengatasi gangguan pasokan akibat perang Iran. Langkah tersebut menjadi pelepasan cadangan terbesar sepanjang sejarah organisasi tersebut.
Baca Juga
Atasi Gangguan Pasokan, IEA Sepakat Lepas 400 Juta Barel Minyak Cadangan
Kepala strategi ekuitas Eropa Barclays, Lydia Rainforth, menyebut situasi pasar minyak global saat ini sebagai kondisi yang “sangat sulit.”
“Ini adalah gangguan pasokan terbesar yang pernah terjadi. Produksi yang hilang kini melebihi satu miliar barel dan akan membutuhkan waktu lama untuk kembali normal, bahkan jika Selat Hormuz dibuka besok,” kata Rainforth kepada CNBC.
Dalam perdagangan sore di London, harga minyak kembali menguat karena pelaku pasar terus memantau hasil negosiasi AS-Iran. Brent naik 1,9% menjadi US$106,92 per barel, sementara WTI melonjak 2,4% ke level US$100,59 per barel.
Sejak perang Iran dimulai, kedua kontrak minyak tersebut telah melonjak sekitar 45%.

