Wall Street Mayoritas Melemah Terseret Saham Teknologi, tapi Dow Berbeda Arah
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Wall Street ditutup bervariasi pada perdagangan Senin waktu AS atau Selasa (19/5/2026) WIB. Indeks Nasdaq dan S&P 500 kembali melemah akibat tekanan pada saham teknologi, sementara investor terus mencermati lonjakan harga minyak, kenaikan yield obligasi, serta perkembangan konflik di Timur Tengah.
Indeks teknologi Nasdaq Composite turun 0,51% menjadi 26.090,73, menandai penurunan dua hari berturut-turut. Indeks S&P 500 melemah tipis 0,07% menjadi 7.403,05. Sebaliknya, Dow Jones Industrial Average justru menguat 159,95 poin atau 0,32% ke level 49.686,12.
Baca Juga
Wall Street Waspada Pekan Ini, Pasar Menanti Laporan Kinerja Nvidia
Tekanan terbesar datang dari sektor chip memori setelah CEO Seagate Technology dalam konferensi JPMorgan mengatakan pembangunan pabrik baru akan “memakan waktu terlalu lama”.
Komentar tersebut memperburuk kekhawatiran investor bahwa industri chip memori tidak memiliki kapasitas cukup untuk memenuhi lonjakan permintaan, terutama dari sektor kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Saham Seagate anjlok hampir 7%, menyeret saham Micron Technology turun hampir 6%.
Tekanan juga menjalar ke perusahaan lain di sektor serupa. Saham Western Digital turun 4,8%, sementara SanDisk melemah 5,3%.
Saham-saham terkait AI juga ikut terkoreksi. Nvidia dan Broadcom masing-masing turun sekitar 1%.
Tekanan terhadap saham teknologi datang di saat sensitif setelah Nasdaq dan S&P 500 sempat mencetak rekor tertinggi baru pekan lalu, sementara Dow Jones sempat kembali menembus level psikologis 50.000.
Namun reli pasar terhenti setelah yield obligasi global melonjak tajam. Yield obligasi Treasury AS tenor 30 tahun mencapai level tertinggi dalam hampir satu tahun terakhir. Di Inggris dan Jepang, yield obligasi jangka panjang juga melonjak ke level tertinggi dalam puluhan tahun.
Baca Juga
Pasar Obligasi Global Bergejolak Dipicu Inflasi dan Konflik Timur Tengah
Kenaikan yield membuat saham teknologi, yang sebelumnya memimpin reli pasar, menjadi sasaran aksi jual. Indeks Nasdaq-100 bahkan jatuh 1,5% pada Jumat lalu, menjadi penurunan harian terburuk sejak 27 Maret.
Di sisi geopolitik, ketegangan antara AS dan Iran tetap tinggi dan terus menjaga harga minyak di level tinggi. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) ditutup naik sekitar 3% menjadi US$108,66 per barel, sementara Brent crude naik lebih dari 2% ke US$112,10 per barel.
Reli minyak sempat mereda setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan dalam unggahan Truth Social bahwa dirinya menunda rencana serangan terhadap Iran yang sebelumnya dijadwalkan Selasa.
Menurut Trump, keputusan itu diambil atas permintaan Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab yang menyebut “negosiasi serius sedang berlangsung” dan berpotensi menghasilkan kesepakatan yang dapat diterima AS.
Sebelumnya pada Minggu, Trump memperingatkan Iran agar segera “bergerak cepat” atau “tidak akan ada yang tersisa.”
Selain faktor geopolitik, pasar juga dibayangi data inflasi AS terbaru yang memperkecil peluang Federal Reserve untuk segera memangkas suku bunga.
CEO WEBs Investments, Ben Fulton, mengatakan harga minyak yang tetap tinggi menjadi persoalan besar bagi inflasi global.
“Ada masalah inflasi yang nyata. Harga minyak tinggi adalah isu besar dan akan sulit diimbangi,” ujarnya kepada CNBC.
Baca Juga
Ia menambahkan, tanpa perkembangan positif dari Timur Tengah - terutama terkait keamanan Selat Hormuz - pasar saham berpotensi bergerak dalam kisaran terbatas dengan volatilitas tinggi dalam waktu dekat.

