Inflasi PPI AS April Melonjak 6% YoY, Tertinggi Sejak 2022
Poin Penting
|
WASHINGTON, investortrust.id - Inflasi tingkat grosir di Amerika Serikat melonjak tajam pada April 2026 dan mencatat kenaikan tahunan terbesar dalam lebih dari tiga tahun terakhir. Hal ini memperkuat kekhawatiran terkait tekanan harga di ekonomi AS.
Baca Juga
Inflasi AS April Melonjak 3,8% YoY, Harga Energi Jadi Biang Kerok
Departemen Tenaga Kerja AS, Rabu (13/5/2026), melaporkan indeks harga produsen (Producer Price Index/PPI) naik 1,4% secara bulanan setelah disesuaikan secara musiman. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibanding ekspektasi ekonom yang disurvei Dow Jones sebesar 0,5%.
Kenaikan itu juga melampaui revisi data Maret yang menunjukkan kenaikan 0,7%, sekaligus menjadi lonjakan bulanan terbesar sejak Maret 2022.
Secara tahunan, PPI meningkat 6%, tertinggi sejak Desember 2022.
Inflasi inti yang tidak memasukkan komponen pangan dan energi juga meningkat tajam sebesar 1%, lebih tinggi dibanding estimasi pasar sebesar 0,4%. Sementara indeks yang mengecualikan pangan, energi, dan jasa perdagangan naik 0,6%.
Lonjakan harga energi menjadi faktor utama kenaikan inflasi produsen. Biro Statistik Tenaga Kerja AS menyebut sekitar tiga perempat kenaikan harga barang berasal dari lonjakan 7,8% pada energi permintaan akhir.
Harga bensin menjadi kontributor terbesar dengan kenaikan 15,6% hanya dalam satu bulan, di tengah melonjaknya harga minyak akibat ketegangan perang Iran dan ancaman terhadap jalur energi global.
Namun tekanan inflasi tidak hanya terjadi pada sektor energi. Data menunjukkan kenaikan harga mulai menyebar luas ke sektor jasa dan distribusi.
Indeks jasa naik 1,2%, terbesar sejak Maret 2022. Sekitar dua pertiga kenaikan tersebut berasal dari lonjakan 2,7% pada jasa perdagangan, yang dinilai menjadi sinyal awal dampak tarif impor terhadap harga domestik.
Margin perdagangan grosir mesin dan peralatan juga melonjak 3,5%.
Kepala strategi pasar global TradeStation, David Russell, mengatakan inflasi kini menunjukkan pola yang lebih struktural dan sulit dikendalikan. “Inflasi bersifat kaku dan meningkat. Angka inti mengkonfirmasi tren struktural yang lebih dalam, terutama di sektor jasa,” kata David Russell, seperti dikutip CNBC.
Menurutnya, krisis Selat Hormuz memang memperburuk situasi, namun tekanan harga saat ini telah melampaui sekadar lonjakan harga minyak.
Data inflasi tersebut muncul sehari setelah pemerintah AS melaporkan inflasi konsumen (CPI) mencapai 3,8% secara tahunan, didorong kenaikan energi dan biaya perumahan.
Meski inflasi inti berada di level 2,8%, angka itu masih jauh di atas target inflasi 2% milik bank sentral AS, Federal Reserve.
Pasar kini semakin yakin bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Bahkan, probabilitas kenaikan suku bunga kembali meningkat menjadi sekitar 39% setelah data PPI dirilis.
Baca Juga
Inflasi AS Memanas, Pasar Mulai Prediksi Kenaikan Bunga The Fed
Saat ini, The Fed mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,5% hingga 3,75% di tengah pasar tenaga kerja yang masih kuat dan inflasi yang tetap membandel.

