Wall Street Waspada Pekan Ini, Pasar Menanti Laporan Kinerja Nvidia
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Kontrak berjangka saham Amerika Serikat bergerak pada kisaran sempit dalam perdagangan Minggu (17/5/2026) malam setelah Wall Street mencetak rekor baru sepanjang pekan lalu. Pelaku pasar kini menunggu laporan kinerja emiten teknologi raksasa, termasuk Nvidia, di tengah meningkatnya tensi geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran.
Baca Juga
Pesta Rekor di Wall Street Berlanjut, S&P 500 Tembus 7.400 Pertama Kali
Kontrak futures untuk indeks Dow Jones Industrial Average turun sekitar 100 poin atau 0,2%. Sementara itu, futures S&P 500 dan Nasdaq-100 bergerak tipis di sekitar level datar.
Pasar juga mencermati lonjakan harga minyak mentah yang kembali menguat seiring memanasnya konflik di Timur Tengah. Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) naik 1,8% menjadi US$107,26 per barel, sedangkan Brent menguat 1,1% ke level US$110,47 per barel.
Fokus utama investor pekan ini tertuju pada laporan keuangan perusahaan teknologi dan ritel besar AS. Nvidia dijadwalkan merilis kinerja kuartalan pada Rabu bersama Target, sementara Walmart akan melaporkan hasil keuangannya pada Kamis.
Laporan tersebut hadir pada momen yang sensitif bagi pasar saham AS. Pekan lalu, indeks S&P 500 dan Nasdaq kembali mencetak rekor tertinggi baru, sementara Dow Jones sempat menembus level psikologis 50.000.
Namun reli tersebut mulai kehilangan tenaga pada Jumat lalu setelah imbal hasil obligasi pemerintah global melonjak tajam. Imbal hasil obligasi Treasury AS tenor 30 tahun menyentuh level tertinggi dalam sekitar satu tahun terakhir. Di Inggris, yield obligasi pemerintah tenor panjang mencapai level tertinggi sejak akhir 1990-an, sementara imbal hasil obligasi Jepang juga terus menanjak.
Baca Juga
Wall Street Ambruk Terseret Saham Teknologi, Dow Jones Anjlok Lebih 500 Poin
Kenaikan yield tersebut dipicu kekhawatiran inflasi yang masih tinggi akibat lonjakan harga energi dan ketegangan geopolitik antara Washington dan Teheran. Presiden AS Donald Trump pada Minggu menyatakan Iran harus segera bergerak dalam proses negosiasi atau “tidak akan ada yang tersisa.” Meski demikian, kedua negara masih melanjutkan pembicaraan untuk mengakhiri perang.
Saham-saham teknologi yang sebelumnya menjadi motor utama reli Wall Street justru terkena tekanan paling besar akibat lonjakan yield obligasi. Indeks Nasdaq-100 anjlok 1,5% pada Jumat, menjadi penurunan harian terburuk sejak 27 Maret.
Tekanan terhadap pasar juga datang dari data inflasi terbaru AS yang dirilis pekan lalu. Data tersebut memperkuat pandangan bahwa Federal Reserve kemungkinan belum akan memangkas suku bunga dalam waktu dekat.
Baca Juga
Inflasi AS Memanas, Pasar Mulai Prediksi Kenaikan Bunga The Fed
Menurut Presiden Yardeni Research, Ed Yardeni, seperti dikutip CNBC, pasar kini memperkirakan suku bunga akan tetap tinggi lebih lama meskipun Presiden Trump terus mendesak Ketua The Fed yang baru, Kevin Warsh, untuk segera menurunkan suku bunga.
“Kondisi makroekonomi saat ini tidak lagi mendukung kebijakan pelonggaran moneter agresif, apalagi pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat,” tulis Yardeni dalam sebuah catatan.

