Kekhawatiran Inflasi Bayangi Ekonomi AS, Yield Treasury 30-Tahun Tembus 5,1%
Poin Penting
|
WASHINGTON, investortust.id - Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat melonjak tajam. Serangkaian data inflasi yang mengecewakan memperburuk kekhawatiran pasar terhadap arah kebijakan suku bunga di bawah Ketua Federal Reserve yang baru, Kevin Warsh.
Yield Treasury tenor 30 tahun, Jumat (15/5/2026), melonjak hampir 11 basis poin menjadi 5,121%, level tertinggi sejak 22 Mei 2025 dan mendekati posisi tertinggi sejak Oktober 2023.
Baca Juga
Yield Treasury AS Melonjak, Pasar Waspadai Konflik Iran dan Inflasi
Sementara itu, yield obligasi Treasury tenor 10 tahun — yang menjadi acuan utama biaya pinjaman di AS — melonjak hampir 14 basis poin menjadi 4,595%.
Yield Treasury tenor 2 tahun, yang lebih sensitif terhadap ekspektasi kebijakan suku bunga jangka pendek The Fed, juga naik hampir 9 basis poin menjadi 4,079%.
Kevin Warsh, yang baru saja dikonfirmasi Senat AS pada Rabu lalu sebagai Ketua The Fed, menghadapi situasi inflasi yang semakin rumit. Presiden Donald Trump terus mendorong pemangkasan suku bunga meskipun data ekonomi terbaru menunjukkan tekanan harga kembali meningkat.
Baca Juga
Kevin Warsh Gantikan Jerome Powell di Tengah Tekanan Inflasi dan Desakan Trump
Data pekan ini menunjukkan inflasi konsumen AS mencapai 3,8% secara tahunan, tertinggi sejak Mei 2023. Sementara itu, indeks harga produsen (PPI) melonjak ke level tahunan 6%, tertinggi sejak akhir 2022.
Baca Juga
Tekanan inflasi juga datang dari sektor perdagangan internasional. Data Biro Statistik Tenaga Kerja AS menunjukkan harga impor naik 1,9% pada April dibanding bulan sebelumnya dan meningkat 4,2% secara tahunan.
Kenaikan harga impor itu dipicu lonjakan harga energi akibat konflik Timur Tengah, yang mendorong perusahaan importir menaikkan biaya. Bahkan, biaya ekspor AS melonjak 8,8% dibanding tahun sebelumnya, tertinggi sejak September 2022.
Harga minyak dunia kembali naik setelah Presiden Donald Trump meninggalkan China tanpa membawa hasil besar dari pertemuannya dengan Presiden Xi Jinping.
Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik US$3,22 menjadi US$104,39 per barel, sedangkan Brent menguat US$2,58 menjadi US$108,30 per barel.
Chief Investment Officer One Point BFG Wealth Partners, Peter Boockvar, menyebutkan gejolak di pasar obligasi menjadi pengingat bahwa inflasi masih menjadi masalah serius, sementara utang dan defisit fiskal semakin membebani pasar global.
“Yield jangka panjang kini pada dasarnya mengendalikan kebijakan moneter,” tulisnya dalam sebuah catatan yang dikutip CNBC.
Menurutnya, Kevin Warsh tetap akan menghadapi tekanan besar dari kondisi makroekonomi global, meskipun telah resmi memimpin The Fed.
Pasar obligasi AS juga dibayangi persoalan fiskal pemerintah federal. Meski pemerintah mencatat surplus anggaran sebesar US$215 miliar pada April — periode yang biasanya kuat karena penerimaan pajak — angka tersebut masih 17% lebih rendah dibanding periode sama tahun lalu.
Biaya pembayaran bunga utang pemerintah mencapai US$97 miliar dan menjadi pengeluaran terbesar kedua setelah program jaminan sosial.
Tekanan di pasar obligasi tidak hanya terjadi di Amerika Serikat. Yield obligasi pemerintah Jerman tenor 10 tahun naik menjadi 3,127%, sementara obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun meningkat 7 basis poin menjadi 2,69%.
Di Inggris, yield gilt tenor 10 tahun naik lebih dari 8 basis poin menjadi 4,56%, mencerminkan kekhawatiran investor global terhadap inflasi, utang, dan prospek suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama.

