Yield Treasury AS Melonjak, Pasar Waspadai Konflik Iran dan Inflasi
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury) bergerak naik. Investor mencermati perkembangan geopolitik terkait perang Iran serta bersiap menghadapi rilis data inflasi terbaru AS.
Baca Juga
Kenaikan yield juga terjadi menjelang pertemuan Presiden Donald Trump dengan Presiden China Xi Jinping di Beijing pekan ini, yang diperkirakan membahas perdagangan hingga geopolitik global.
Dikutip dari CNBC, Selasa (12/5/2026), yield obligasi Treasury tenor 10 tahun — acuan utama biaya pinjaman pemerintah AS — naik lebih dari 4 basis poin menjadi 4,41%.
Yield Treasury tenor 2 tahun, yang lebih sensitif terhadap ekspektasi suku bunga Federal Reserve (The Fed), naik lebih dari 5 basis poin ke level 3,951%. Yield obligasi tenor panjang 30 tahun juga meningkat lebih dari 3 basis poin menjadi 4,98%.
Pasar obligasi tertekan setelah situasi perang Iran kembali memburuk. Optimisme pasar yang sempat muncul pekan lalu memudar setelah Presiden Donald Trump menolak proposal balasan Iran untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama 10 pekan.
Trump menyebut proposal Iran “sama sekali tidak dapat diterima”, sementara Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan negaranya “tidak akan pernah tunduk” kepada musuh-musuhnya.
Di pasar energi, harga minyak kembali mendekati US$100 per barel. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) ditutup naik 2,78% menjadi US$98,07 per barel.
Fokus investor pekan ini juga tertuju pada laporan indeks harga konsumen (CPI) April yang dijadwalkan rilis Selasa pagi waktu AS.
Baca Juga
Ekonom yang disurvei FactSet memperkirakan inflasi tahunan AS naik menjadi 3,7% dari 3,3% pada Maret. Sementara inflasi inti — yang tidak memasukkan harga pangan dan energi — diperkirakan naik menjadi 2,7% dari 2,6%.
Angka tersebut masih jauh di atas target inflasi Federal Reserve sebesar 2%.
Kepala ekonom Wolfe Research Stephanie Roth mengatakan kenaikan harga pangan dan energi akan terus menekan inflasi utama. “Pemulihan mekanis pada biaya sewa dan owner equivalent rent setelah penutupan pemerintahan Oktober 2025 juga akan memberikan tekanan tambahan pada inflasi inti,” tulis Roth.
Ia juga menyoroti kenaikan tarif penerbangan akibat lonjakan harga bahan bakar jet serta potensi kenaikan harga kendaraan bekas.
Di sisi lain, pasar tenaga kerja AS menunjukkan kinerja lebih baik dari perkiraan pada April. Nonfarm payrolls tercatat naik 115.000, meski lebih rendah dibanding kenaikan 185.000 pada Maret, namun masih jauh di atas proyeksi ekonom sebesar 55.000. Tingkat pengangguran tetap stabil di level 4,3%.
Baca Juga
Payroll AS Lampaui Ekspektasi, tapi Sinyal Pelemahan Ekonomi Mulai Membayangi
Presiden Federal Reserve Bank of Chicago Austan Goolsbee menyebut pasar tenaga kerja AS stabil meski belum bisa disebut kuat. “Belum banyak bukti bahwa pasar tenaga kerja sedang runtuh, tetapi tingkat perekrutan memang masih rendah,” ujarnya kepada CNBC.

