AS-China Redam Lonjakan Minyak
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Amerika Serikat dan China disebut memainkan peran krusial dalam meredam guncangan pasar minyak dunia akibat perang Iran dan blokade Selat Hormuz, sehingga harga energi global tidak melonjak lebih tinggi. Laporan CNBC yang dipublikasikan Jumat (15/5/2026) pukul 10.58 EDT atau sekitar pukul 21.58 WIB menyebut pasar minyak kehilangan sekitar 10 juta barel per hari (bpd) ekspor dari kawasan Teluk Persia akibat blokade Iran di Selat Hormuz. Data tersebut mengacu pada pembaruan terbaru International Energy Agency (IEA) pekan ini.
Gangguan pasokan tersebut disebut sebagai yang terbesar dalam sejarah modern dan setara sekitar 10% konsumsi minyak global. Namun menariknya, harga minyak mentah Brent pada Kamis (14/5/2026) ditutup sedikit di atas US$100 per barel, lebih rendah dibanding lonjakan harga saat invasi Rusia ke Ukraina pada 2022 meski gangguan pasokan kala itu lebih kecil.
Menurut CNBC, salah satu faktor utama yang menahan lonjakan harga adalah langkah simultan AS dan China. Sebagai produsen sekaligus eksportir minyak terbesar dunia, AS meningkatkan ekspor minyak secara agresif. Sebaliknya, China sebagai importir minyak terbesar dunia memangkas impor dalam jumlah besar.
IEA mencatat ekspor minyak dari negara-negara di luar Timur Tengah yang dipimpin AS melonjak sekitar 3,5 juta bpd selama perang Iran berlangsung. Di sisi lain, China memangkas impor minyak sekitar 3,6 juta bpd, setara hampir seluruh konsumsi harian Jepang.
Secara total, penyesuaian kedua negara mencapai sekitar 7,1 juta bpd atau hampir 70% dari hilangnya pasokan minyak Teluk Persia akibat blokade Hormuz. Jepang, Korea Selatan, dan India juga ikut mengurangi impor minyak gabungan sekitar 3,6 juta bpd.
Baca Juga
Analis Deutsche Bank Michael Hsueh mengatakan AS dan China memberikan bentuk penyesuaian penting untuk mengompensasi gangguan ekspor minyak dari Teluk Persia. Menurutnya, langkah tersebut menjadi alasan utama harga Brent belum menembus US$120 per barel.
Pandangan serupa disampaikan analis komoditas Morgan Stanley Martijn Rats. Ia menyebut penurunan impor minyak China sebagai faktor tunggal paling penting yang menjelaskan mengapa harga minyak belum melonjak lebih tinggi. “Pengurangan impor China sangat luar biasa,” ujarnya dalam catatan kepada klien.
Perkembangan ini terjadi bersamaan dengan kunjungan Presiden AS Donald Trump ke Beijing untuk bertemu Presiden China Xi Jinping pekan ini. Gedung Putih menyatakan kedua pemimpin sepakat bahwa Selat Hormuz harus dibuka demi menjaga kelancaran arus energi global. Meski demikian, belum ada kepastian kapan lalu lintas komersial di Selat Hormuz akan benar-benar kembali normal seperti sebelum perang.
Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan dunia mengetahui komitmen Trump untuk meningkatkan pasokan minyak dan produk energi AS. Ia juga memperkirakan China akan membeli lebih banyak minyak mentah dari AS pada masa mendatang. “Ada perdagangan energi yang sangat alami di sana. Saya menduga impor minyak China dari Amerika Serikat akan meningkat,” kata Wright kepada CNBC di Port Arthur, Texas.
Namun, para analis memperingatkan kemampuan AS dan China menjaga stabilitas pasar energi tidak akan mudah dipertahankan dalam jangka panjang. Morgan Stanley menilai lonjakan ekspor AS sebagian besar berasal dari pengurasan cadangan minyak strategis, bukan peningkatan produksi baru.
China sendiri memiliki cadangan minyak strategis sekitar 1,4 miliar barel per Desember 2025, terbesar di dunia berdasarkan data U.S. Energy Information Administration. Dengan cadangan sebesar itu, Beijing dinilai mampu bertahan berbulan-bulan meski impor terus ditekan.
Sebaliknya, posisi AS mulai menghadapi tekanan. Negeri itu memiliki cadangan strategis sekitar 413 juta barel pada akhir 2025 dan pada Maret lalu telah menyetujui pelepasan sekitar 172 juta barel untuk meredam gejolak pasar akibat perang Iran.
Reuters sebelumnya juga melaporkan bahwa pasar minyak global tetap relatif stabil karena kombinasi pelepasan cadangan strategis, peningkatan ekspor AS, dan perlambatan permintaan dari Asia. Sementara Bloomberg menyebut koordinasi tidak langsung antara Washington dan Beijing menjadi faktor penting yang mencegah krisis energi global berkembang lebih parah.
Di sisi lain, BBC News menilai ketahanan harga minyak di sekitar US$100 per barel menunjukkan pasar mulai beradaptasi dengan risiko geopolitik baru, meski ancaman terhadap Selat Hormuz masih menjadi salah satu risiko terbesar bagi ekonomi dunia saat ini.

