AS Menunggu Respons Iran terhadap Proposal Perdamaian
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Pemerintah Amerika Serikat (AS) menyatakan tengah menunggu respons resmi Iran terhadap proposal perdamaian terbaru untuk mengakhiri perang yang telah mengguncang kawasan Timur Tengah dan pasar energi global selama beberapa bulan terakhir. Dunia menunggu respons Iran untuk melihat prospek perdamaian di tengah blokade Selat Hormuz.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan Washington memperkirakan jawaban dari Teheran akan diterima pada Jumat (08/05/2026). Pernyataan itu disampaikan Rubio kepada wartawan di Roma saat melakukan kunjungan ke Vatikan dan bertemu Paus Pope Leo XIV. Menurut laporan CNBC yang dipublikasikan Jumat (08/05/2026) pukul 08.16 EDT atau Jumat (08/05/2026), pukul 19.16 WIBdan diperbarui pukul 12.27 EDT atau Jumat (08/05/2026), pukul 23.27 WIB, Rubio menyatakan, “Kami seharusnya mengetahui sesuatu hari ini. Kami menunggu respons dari mereka.”
Ia menambahkan harapan AS adalah agar respons Iran dapat membuka jalan menuju proses negosiasi yang serius untuk mengakhiri konflik. Pernyataan Rubio muncul setelah sejumlah media internasional, termasuk Axios, melaporkan bahwa AS dan Iran semakin dekat pada kesepakatan memorandum of understanding (MoU) 14 poin yang bertujuan mengakhiri perang sekaligus melanjutkan pembicaraan mengenai program nuklir Iran.
Baca Juga
Perang AS vs Iran Bakal Jadi Topik Utama Pertemuan Trump dan XI Jinping
Media pemerintah Iran pada Kamis (07/05/2026) juga mengonfirmasi Teheran sedang meninjau pesan-pesan dari AS yang disampaikan melalui mediator Pakistan. Namun hingga saat itu Iran belum mengambil keputusan final ataupun memberikan jawaban resmi.
Di tengah proses diplomasi tersebut, situasi keamanan di kawasan Teluk Persia masih memanas. AS dan Iran kembali terlibat saling serang di sekitar Selat Hormuz dalam beberapa hari terakhir. Kedua negara saling menuduh sebagai pihak yang memulai serangan.
Presiden AS Donald Trump pada Kamis (07/05/2026) tetap bersikeras bahwa gencatan senjata dengan Iran masih berlaku. Trump bahkan menyebut baku tembak terbaru di Selat Hormuz hanya sebagai “love tap” atau benturan kecil.
Trump juga mengatakan Iran sangat ingin mencapai kesepakatan damai dengan AS. Pernyataan itu sejalan dengan meningkatnya tekanan internasional akibat gangguan pasokan energi global setelah blokade de facto Iran di Selat Hormuz.
Rubio dalam konferensi pers di Roma juga menyinggung laporan bahwa Iran berupaya membentuk badan khusus untuk mengontrol lalu lintas kapal di Selat Hormuz. Menurutnya, langkah tersebut akan menjadi masalah besar dan “tidak dapat diterima”.
“Kami melihat laporan semalam bahwa Iran membentuk atau mencoba membentuk lembaga yang akan mengontrol lalu lintas di selat itu. Itu akan menjadi masalah. Itu tidak dapat diterima,” ujar Rubio.
Baca Juga
Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia. Gangguan di kawasan tersebut telah memicu lonjakan volatilitas harga minyak dan kekhawatiran global terhadap keamanan energi. International Energy Agency (IEA) bahkan menyebut situasi di Selat Hormuz sebagai “ancaman keamanan energi terbesar dalam sejarah”.
Laporan senada juga disampaikan Reuters, BBC News, dan Al Jazeera yang menyebutkan bahwa meskipun jalur diplomasi mulai terbuka melalui mediasi Pakistan, bentrokan sporadis antara AS dan Iran masih terus terjadi di sekitar Selat Hormuz.
Sebelumnya, CBS News melaporkan militer AS menembaki dua kapal tanker berbendera Iran yang dituduh mencoba menerobos blokade menuju pelabuhan Iran di Teluk Oman. Iran menuduh aksi tersebut sebagai pelanggaran gencatan senjata, sementara Washington menyatakan serangan dilakukan sebagai langkah defensif terhadap ancaman terhadap kapal perang AS di kawasan itu.

