Iran Peringatkan AS, Project Freedom di Hormuz Langgar Gencatan Senjata
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah pemerintah Iran memperingatkan bahwa rencana operasi militer Amerika Serikat (AS) di Selat Hormuz berpotensi melanggar kesepakatan gencatan senjata yang rapuh. Peringatan ini muncul menyusul pengumuman Presiden AS Donald Trump terkait misi angkatan laut bertajuk Project Freedom.
Berdasarkan laporan live update Al Jazeera yang diterbitkan Senin (04/05/2026), Trump menyatakan bahwa operasi tersebut akan segera dimulai dalam hitungan jam, dengan tujuan mengawal kapal-kapal yang terjebak keluar dari Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi global. Namun, langkah ini langsung menuai respons keras dari Teheran.
Baca Juga
“Project Freedom” untuk Evakuasi Kapal di Hormuz Dimulai Hari Ini
Anggota parlemen senior Iran, Ebrahim Azizi, menegaskan bahwa setiap bentuk intervensi militer AS di wilayah tersebut akan dianggap sebagai pelanggaran terhadap gencatan senjata yang sebelumnya disepakati. Pernyataan ini mempertegas posisi Iran yang menolak kehadiran militer asing di jalur strategis tersebut.
Di sisi lain, Kementerian Luar Negeri Iran juga mengonfirmasi bahwa pihaknya tengah mengevaluasi respons Washington terhadap proposal perdamaian terbaru yang diajukan Teheran. Proposal yang terdiri dari 14 poin itu bertujuan mengakhiri konflik, namun oleh Trump disebut sebagai “tidak dapat diterima”.
Perkembangan ini terjadi di tengah situasi kawasan yang masih memanas. Serangan militer Israel ke Lebanon dilaporkan terus berlanjut dan bahkan melukai sejumlah tenaga medis, sementara di Gaza, militer Israel memperluas wilayah kontrolnya melalui deklarasi garis baru yang disebut “Orange Line”.
Informasi senada juga dilaporkan oleh BBC dan Reuters dalam sejumlah laporan sebelumnya pada akhir April hingga awal Mei 2026. Kedua media tersebut mencatat bahwa Selat Hormuz tetap menjadi titik krusial konflik, dengan Iran secara konsisten menolak pembukaan jalur tersebut selama blokade AS masih berlangsung. Bahkan, dalam beberapa laporan, Iran menegaskan bahwa normalisasi lalu lintas kapal “tidak mungkin” terjadi tanpa pencabutan tekanan militer dan ekonomi dari Washington.
Baca Juga
Trump Siapkan “Project Freedom” untuk Bebaskan Kapal di Selat Hormuz
Sementara itu, analis keamanan internasional menilai bahwa rencana operasi militer AS berisiko memperkeruh situasi dan memicu eskalasi baru, terutama jika Iran menindaklanjuti ancamannya. Mengingat sekitar sepertiga perdagangan minyak dunia melewati Selat Hormuz, setiap gangguan di kawasan ini berpotensi mengguncang pasar energi global dan memperburuk ketidakpastian ekonomi.
Dengan posisi kedua pihak yang masih saling berseberangan —AS bersikeras membuka jalur pelayaran, sementara Iran menilai langkah tersebut sebagai provoka— prospek perdamaian jangka pendek tampaknya masih jauh dari kenyataan.

