AS Sita Kapal Iran di Hormuz, Teheran Umumkan Pembalasan
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali meningkat setelah Washington menyita kapal kargo berbendera Iran di sekitar Selat Hormuz, yang langsung dikecam Teheran sebagai tindakan “pembajakan bersenjata” dan memicu ancaman balasan. Mengutip laporan Al Jazeera Live yang diterbitkan pada Senin (20/04/2026), Iran secara resmi mengutuk penyitaan kapal tersebut dan menegaskan akan merespons langkah militer AS, yang terjadi hanya beberapa jam setelah Presiden Donald Trump mengumumkan pengiriman tim negosiasi ke Islamabad, Pakistan, untuk melanjutkan pembicaraan damai.
Informasi lebih terperinci disampaikan oleh NDTV dalam laporan yang diperbarui pada 20 April 2026 (tayang awal 19 April 2026), yang menyebut kapal kargo Iran bernama M/V Touska dicegat oleh kapal perusak Angkatan Laut AS di kawasan Laut Arab Utara dekat Selat Hormuz. Trump menyatakan kapal tersebut dihentikan secara paksa, bahkan dengan serangan yang merusak ruang mesin, sebelum akhirnya dikuasai oleh Marinir AS. Ini menjadi penyitaan pertama sejak blokade terhadap pelabuhan Iran diberlakukan pada 12 April 2026.
Baca Juga
Trump Ancam “Hancurkan Iran” Jika Gagal Deal, Negosiasi Mandek
Pihak militer Iran melalui komando gabungan menegaskan bahwa tindakan AS merupakan bentuk pelanggaran hukum internasional dan menyebutnya sebagai “piracy”, serta memastikan bahwa respons akan segera dilakukan. Sumber Iran juga menyatakan bahwa Teheran tidak akan menghadiri perundingan lanjutan di Pakistan selama blokade AS belum dicabut, memperbesar ketidakpastian terhadap kelanjutan diplomasi.
Sejumlah laporan lain dari Reuters dan BBC pada periode 19–20 April 2026 juga mengonfirmasi meningkatnya risiko eskalasi di Selat Hormuz, termasuk insiden penembakan terhadap kapal niaga dan terganggunya lalu lintas pelayaran global. Selat ini sendiri merupakan jalur vital yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia, sehingga setiap gangguan langsung berdampak pada pasar energi global.
Baca Juga
Bersedia ke Meja Perundingan, Trump Ancam Infrastruktur Iran Jika Hormuz Lumpuh Lagi
Di sisi lain, situasi regional tetap rapuh meski terdapat titik stabil sementara. Al Jazeera melaporkan gencatan senjata 10 hari antara Israel dan Lebanon masih bertahan, dengan ribuan warga mulai kembali ke wilayah selatan untuk memeriksa rumah mereka yang hancur akibat konflik. Namun, secara keseluruhan, perang yang telah memasuki pekan kedelapan ini telah menelan korban besar, lebih dari 3.000 orang di Iran, sekitar 2.300 di Lebanon, serta korban di Israel dan negara-negara Teluk, sebagaimana dihimpun berbagai laporan internasional termasuk NDTV.
Dengan penyitaan kapal ini, jalur diplomasi kembali dibayangi eskalasi militer. Harapan perpanjangan gencatan senjata yang akan berakhir pada 22 April 2026 kini semakin tidak pasti, sementara dunia menghadapi risiko gangguan energi yang lebih dalam dan potensi konflik terbuka yang lebih luas di kawasan strategis tersebut.

