AS–Iran Lanjutkan Perundingan di Pakistan
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Ketegangan geopolitik di Timur Tengah memasuki babak baru ketika Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali membuka peluang diplomasi, di tengah situasi keamanan Selat Hormuz yang semakin tidak menentu. Presiden AS Donald Trump memastikan bahwa putaran lanjutan perundingan damai akan digelar di Islamabad, Pakistan, pada Senin (20/04/2026), meskipun ancaman militer dan konflik di lapangan masih terus berlangsung.
Mengutip laporan CNBC yang dipublikasikan pada Minggu (19/04/2026) waktu AS, Trump menyatakan bahwa delegasi AS akan segera bertolak ke Pakistan untuk melanjutkan negosiasi dengan Iran. “Perwakilan saya akan menuju Islamabad, Pakistan. Mereka akan berada di sana besok malam untuk negosiasi,” ujar Trump melalui media sosial Truth Social. Ia juga menegaskan bahwa AS telah menawarkan kesepakatan yang “adil dan masuk akal”, seraya mengancam akan menghancurkan infrastruktur vital Iran jika kesepakatan gagal tercapai.
Pernyataan tersebut muncul di tengah tudingan Washington bahwa Teheran telah melanggar gencatan senjata sementara yang dijadwalkan berakhir pada Rabu (22/4/2026). Trump bahkan menyebut Iran kembali mencoba menutup Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi nadi perdagangan energi global.
Dari pihak Iran, Ketua Parlemen sekaligus negosiator utama Mohammad Bagher Ghalibaf menegaskan bahwa pembicaraan damai dengan AS masih berlangsung, namun negaranya tetap siap melanjutkan perang jika diperlukan. Dalam pernyataan yang disiarkan media pemerintah Iran pada Sabtu (18/4/2026), Ghalibaf menegaskan kesiapan militer Iran tetap siaga penuh. “Ibukan berarti karena kita bernegosiasi, angkatan bersenjata tidak siap. Sebaliknya, seperti rakyat yang turun ke jalan, militer kami juga siap,” ujarnya.
Baca Juga
Bersedia ke Meja Perundingan, Trump Ancam Infrastruktur Iran Jika Hormuz Lumpuh Lagi
Lebih jauh, Iran kembali menegaskan sikap kerasnya terhadap Selat Hormuz. Ghalibaf menyatakan bahwa Iran tidak akan membiarkan kapal negara lain melintas jika akses bagi kapal Iran dibatasi. “Tidak mungkin pihak lain bisa melintas Selat Hormuz sementara kami tidak. Jika AS tidak menghentikan blokade, lalu lintas di selat itu pasti akan dibatasi,” tegasnya.
Situasi di lapangan menunjukkan eskalasi yang mengkhawatirkan. Menurut laporan militer Inggris melalui United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO), dua kapal cepat milik Garda Revolusi Iran menembaki sebuah tanker yang melintas di Selat Hormuz pada Sabtu (18/4/2026), meskipun tidak menimbulkan korban. Informasi senada juga dilaporkan Reuters pada tanggal yang sama, yang menyebut setidaknya dua kapal lain mengalami insiden serupa saat mencoba melintasi jalur tersebut.
Kondisi ini memperparah ketidakpastian di pasar pelayaran global. Data dari perusahaan pelacakan kapal Kpler menunjukkan sejumlah tanker dan kapal kargo sempat mencoba keluar dari selat pada Jumat (17/4/2026), namun berbalik arah karena situasi yang tidak aman. Reuters juga melaporkan India memanggil duta besar Iran setelah kapal berbendera India diserang saat melintasi wilayah tersebut.
Di sisi lain, perbedaan tajam juga terlihat dalam isu nuklir. Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa negaranya tidak akan menyerahkan hak atas program nuklirnya. Pernyataan ini dikutip Reuters dari laporan Iranian Student News Agency pada Sabtu (18/4/2026). Sementara itu, Wakil Menteri Luar Negeri Iran Saeed Khatibzadeh dalam wawancara dengan Associated Press pada hari yang sama menolak klaim Trump bahwa Iran bersedia menyerahkan uranium yang telah diperkaya. “Tidak ada material yang diperkaya yang akan dikirim ke Amerika Serikat. Ini bukan hal yang bisa dinegosiasikan,” ujarnya.
Perundingan sebelumnya di Islamabad, yang berlangsung pekan lalu dengan mediasi Pakistan, gagal menghasilkan kesepakatan. Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran menyatakan proposal dari AS masih dalam tahap kajian dan menilai Washington perlu menyesuaikan tuntutannya dengan realitas di lapangan, sebagaimana dilaporkan Reuters.
Sementara itu, menurut laporan Al Jazeera (16/4/2026) dan BBC, Selat Hormuz tetap menjadi titik krusial dalam konflik ini. Ancaman Iran untuk membatasi jalur pelayaran, ditambah blokade laut oleh AS sejak 12 April 2026, telah menciptakan gangguan pasokan energi terbesar dalam sejarah modern. Sebelum konflik, sekitar 20% pasokan minyak dunia melewati selat tersebut.
Volatilitas pun langsung tercermin di pasar energi. CNBC mencatat harga minyak sempat anjlok lebih dari 10% pada Jumat (17/4/2026) ke bawah US$90 per barel, dipicu harapan bahwa jalur distribusi energi akan kembali normal. Namun ketidakpastian terbaru kembali menahan sentimen pasar.
Dengan diplomasi yang masih rapuh, ancaman militer yang terbuka, dan Selat Hormuz yang terus menjadi arena perebutan kendali, dunia kini berada dalam posisi menunggu: apakah jalur perundingan di Islamabad akan menjadi pintu keluar konflik, atau justru sekadar jeda sebelum eskalasi yang lebih besar.

