Reli di Wall Street Berlanjut, S&P 500 dan Nasdaq Cetak Rekor Tertinggi Sepanjang Masa
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Bursa saham Amerika Serikat kembali mencetak rekor pada Kamis waktu AS atau Jumat (17/4/2026) WIB. Indeks S&P 500 dan Nasdaq cetak ‘all time high’, didorong oleh optimisme investor terhadap kemungkinan berakhirnya konflik antara AS dan Iran.
Indeks acuan S&P 500 naik 0,26% ke level penutupan tertinggi sepanjang masa di 7.041,28. Sementara itu, Nasdaq Composite menguat 0,36% ke 24.102,70, mencatat kenaikan selama 12 sesi berturut-turut - terpanjang sejak 2009. Indeks Dow Jones Industrial Average juga naik 115 poin atau 0,24% ke 48.578,72.
Baca Juga
Trump Umumkan Gencatan Senjata 10 Hari Israel-Lebanon di Tengah Negosiasi Iran-AS
Sepanjang pekan ini, S&P 500 dan Nasdaq masing-masing telah naik 3,3% dan 5,2%, sementara Dow mencatat kenaikan lebih dari 1%.
Sentimen positif pasar dipicu oleh perkembangan geopolitik. Presiden Donald Trump menyatakan telah berbicara dengan Presiden Lebanon Joseph Aoun dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yang menghasilkan kesepakatan gencatan senjata selama 10 hari antara Israel dan Lebanon.
Gencatan senjata tersebut menjadi prasyarat penting bagi dimulainya kembali negosiasi antara AS dan Iran. Trump juga menyebut bahwa konflik “hampir berakhir” dan peluang kesepakatan damai semakin terbuka.
Saham-saham telah naik dalam beberapa hari terakhir karena harapan akan kesepakatan perdamaian AS-Iran. S&P 500 memulai minggu ini dengan menghapus semua kerugiannya sejak awal perang Iran.
S&P 500 dan Nasdaq sama-sama mencapai tonggak penting pada hari Rabu, dengan S&P 500 ditutup di atas 7.000 untuk pertama kalinya dan Nasdaq mencatatkan penutupan pertamanya di atas 24.000.
Baca Juga
Wall Street Cetak Rekor, Optimisme Berakhirnya Konflik AS–Iran Dongkrak Pasar
Namun demikian, pelaku pasar tetap mewaspadai dampak ekonomi jangka pendek. Kepala strategi investasi di Sage Advisory, Rob Williams, memperingatkan bahwa ekonomi AS berpotensi menghadapi beberapa kuartal pertumbuhan di bawah 2%.
“Kita harus melewati beberapa kuartal pertumbuhan PDB yang kurang memuaskan,” kata Rob Williams, seperti dikutip CNBC. Saat ini, menurut dia, orang menunggu Iran untuk menyelesaikan masalahnya sendiri, dan itu akan menjadi hal yang sangat positif. “Tetapi ekonomi masih [pada] pertumbuhan 2%. Kita mungkin akan mengalami beberapa kuartal di bawah 2%,” tambahnya.

