MIND ID Buka Jalan Indonesia dari Penjual Bahan Mentah ke Pemain Global Lewat Hilirisasi
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Laksana pedang yang ditempa dalam bara api, nilai sumber daya alam Indonesia harus diasah agar berkilau. Selama bertahun-tahun, Indonesia hanya menjadi penjual bahan mentah tambang ke mancanegara. Bijih nikel, bauksit, tembaga, hingga timah dikirim keluar negeri dengan harga murah, lalu dibeli kembali dalam bentuk produk olahan dengan harga berlipat.
Cara ini ibarat bekerja keras di ladang, tetapi panennya dinikmati orang lain. Untuk itu, hilirisasi kini menjadi keharusan. Bukan hanya demi menambah nilai ekonomi, tetapi juga untuk mengangkat martabat industri nasional.
Transformasi ekonomi Indonesia 1 dekade terakhir menunjukkan pergeseran penting dari sekadar eksplorasi sumber daya alam (SDA) menuju industrialisasi berbasis SDA. Hilirisasi pertambangan berarti mengolah hasil tambang mentah menjadi produk setengah jadi atau produk akhir sebelum diekspor. Efek gandanya jelas, yakni nilai tambah meningkat, industri pendukung tumbuh, lapangan kerja tercipta.
MIND ID sebagai BUMN tambang membuka jalan Indonesia dari penjual bahan mentah ke pemain global lewat hilirisasi
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan, kebijakan hilirisasi mineral di Indonesia harus memberikan manfaat nyata bagi daerah penghasil, pelaku UMKM lokal, serta masyarakat setempat. Keadilan ekonomi merupakan prinsip utama yang tak boleh diabaikan dalam proses industrialisasi SDA.
“Hilirisasi ke depan harus berkeadilan bagi daerah-daerah, dan UMKM. Nilai tambahnya harus dinikmati paling banyak oleh masyarakat lokal. Mereka harus jadi tuan di negeri sendiri,” kata Bahlil dikutip dari keterangan tertulis kepada Investortrust.id
Baca Juga
Tembaga RI Bebas Tarif di AS, Rosan: Nikel dan Sawit Masuk Tahap Negosiasi
Sejak 2020, pemerintah memberlakukan larangan ekspor mineral mentah. Nikel jadi komoditas pertama yang terkena kebijakan ini, disusul bauksit dan tembaga. Kebijakan ini memicu arus investasi besar-besaran ke industri pengolahan logam, baik dari investor domestik maupun asing, khususnya dari Tiongkok.
Pada November 2024, ada 147 smelter di Tanah Air yang tersebar di sejumlah wilayah, khususnya Indonesia timur. Perinciannya terdiri dari 49 smelter pirometalurgi yang beroperasi, 35 dalam konstruksi, dan 36 dalam perencanaan, serta 5 smelter hidrometalurgi yang beroperasi, 3 dalam konstruksi, dan 19 dalam perencanaan.
Program hilirisasi yang digemakan pemerintah dalam rangka kemakmuran rakyat telah menunjukkan hasil. Dampak kebijakan mulai terlihat pada neraca ekspor. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekspor besi dan baja—hasil olahan nikel—melonjak tajam dari sekitar US$ 8 miliar pada 2019, menjadi US$ 29,2 miliar pada 2023. Lonjakan lebih dramatis terlihat pada ekspor produk turunan nikel, seperti feronikel dan stainless steel yang tembus US$ 33,8 miliar pada 2023, padahal ekspor nikel mentah 2014 hanya US$ 1,1 miliar.
Baca Juga
Cadangan Nikel 5,3 Miliar Ton, Indonesia Bisa Jadi Pemain Utama Ekosistem EV
Peran Danantara
Dibentuknya Danantara Indonesia oleh Presiden Prabowo Subianto semakin menghidupkan asa bahwa hilirisasi akan semakin masif. Kepala Satgas Hilirisasi dan Ketahanan Energi, Bahlil Lahadalia pada Juli 2025 telah menyerahkan dokumen pra-studi kelayakan (feasibility study/FS) 18 proyek hilirisasi kepada Danantara Indonesia, dengan total investasi US$ 38,63 miliar atau setara Rp 618,3 triliun.
Bahlil mengatakan, berdasarkan hasil rapat terbatas (ratas) dengan Presiden Prabowo Subianto, tim satgas melakukan kajian mendalam terhadap 18 proyek, kemudian akan dieksekusi di bawah naungan Danantara.
"Kami sudah ada sekitar 18 proyek yang sudah siap pra-FS-nya, dengan total investasi sebesar US$ 38,63 miliar atau sekitar Rp 618,3 triliun. Ini di luar ekosistem baterai mobil," ungkapnya dalam sambutan.
Secara terinci, 18 proyek hilirisasi tersebut meliputi 8 proyek hilirisasi di sektor mineral dan batu bara (minerba), 2 proyek transisi energi, 2 proyek ketahanan energi, 3 proyek hilirisasi pertanian, serta 3 proyek hilirisasi kelautan dan perikanan.
MIND ID jadi motor
Direktur Utama MIND ID, Maroef Sjamsoeddin, menegaskan hilirisasi mineral menjadi fondasi menuju Indonesia Emas 2045. MIND ID mendorong pengelolaan mineral yang berkelanjutan melalui eksplorasi, penambangan, dan pengolahan dengan tata kelola kelas dunia.
Baca Juga
MIND ID Dukung Antam (ANTM) Bangkitkan Ekonomi Nasional Melalui Program Hilirisasi
Proyek-proyek strategis, seperti smelter grade alumina refinery (SGAR) fase I berkapasitas 1 juta ton per tahun telah beroperasi di Mempawah. Fase II sedang dipersiapkan untuk menambah kapasitas produksi 1 juta ton per tahun lagi.
MIND ID juga menargetkan peningkatan kapasitas produksi aluminium nasional menjadi 900.000 ton per tahun pada 2029, naik drastis dari kapasitas 275.000 ton saat ini. Kebutuhan aluminium domestik diperkirakan naik 600% dalam 30 tahun ke depan, seiring pertumbuhan industri EV dan energi terbarukan.
Integrasi rantai pasok terus dikuatkan, mulai dari bijih bauksit, alumina, hingga aluminium. MIND ID juga mengembangkan fasilitas washed bauxite 1,47 juta ton per tahun untuk menjamin ketersediaan bahan baku. Maroef menegaskan bahwa setiap proyek dijalankan dengan prinsip keberlanjutan, efisiensi, dan menjaga kesejahteraan masyarakat sekitar.
Namun, jalan hilirisasi tidak selalu mulus. Biaya pembangunan smelter bisa mencapai miliaran dolar AS, belum termasuk infrastruktur dan logistik. Tantangan lain adalah kebutuhan energi—mayoritas smelter masih bergantung pada PLTU batu bara. Ironisnya, bahan tambang untuk industri energi hijau masih diolah dengan energi fosil. Infrastruktur dasar yang belum merata dan regulasi yang kerap berubah menambah hambatan.
Baca Juga
Dirut MIND ID: Alam Terjaga, Peradaban Masa Depan Lebih Kuat
Ketua Umum Apindo Shinta W Kamdani mengingatkan pemerintah agar tidak hanya berfokus pada hilirisasi SDA, tetapi juga mendorong produk hilirisasi di sektor lain agar daya saing nasional lebih luas. “Penting untuk tidak fokus pada hilirisasi SDA,” kata dia saat dihubungi Investortrust.id.
Jika dikelola dengan visi jangka panjang, hilirisasi bukan hanya mesin pertumbuhan ekonomi, tetapi juga penentu kedaulatan Indonesia atas sumber daya alam. Indonesia akan bertransformasi dari sekadar penjual tanah menjadi penentu harga di pasar global. Hilirisasi adalah lokomotif baru untuk membawa Indonesia menuju industri yang kokoh, mandiri, dan berdaya saing dunia.

