Poin Penting Dampak dan Strategi yang Harus Ditempuh RI atas Tarif Resiprokal Trump
JAKARTA, investortrust.id -- Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump resmi memberlakukan tarif resiprokal yang tinggi terhadap Indonesia dan sejumlah negara lain. Barang ekspor Indonesia ke AS dikenai tarif 32%, sebagai balasan atas kebijakan Indonesia yang memberikan tarif 64% terhadap produk-produk AS.
Trump mengumumkan kebijakan tarifnya pada „Hari Pembebasan atau Liberation Day“, di Gedung Putih, Rabu (2/4/2025) waktu AS atau Kamis pagi WIB. Kebijakan Trump dituangkan dalam dokumen “2025 National Trade Estimate Report on Foreign Trade Barriers”.
Indonesia masuk dalam daftar 60 negara yang terkena tarif karena dianggap menganggu kepentingan ekonomi domestik AS. Indonesia dipandang telah menaikkan tarif impor secara progresif selama 10 tahun terakhir.
Selain Indonesia, negara lain yang dikenakan tarif resiprokal tinggi adalah Kamboja sebesar 49% karena memberikan tarif impor 97% terhadap produk AS. Laos dikenai tarif 48%, Madagaskar 47%, Vietnam 46%, serta Sri Lanka dan Myanmar 44%.
Tarif resiprokal atau khusus itu baru dikenakan mulai 9 April, sedangkan pada tahap awal AS memberlakukan tarif impor 10% untuk semua negara mulai 5 April. Dalam selang waktu antara tanggal 5 sampai 9 itu terbuka untuk negosiasi bilateral. Khusus untuk mobil, tarif impor 25% berlaku mulai 3 April 2025.
Berdasarkan laman kemendag.go.id, terdapat 22 komoditas yang diekspor ke AS, antara lain alas kaki, gula kelapa, hasil hutan (kayu), kakao, kopi, kosmetik, mainan anak, minyak atsiri, minyak sawit, obat herbal, pangan olahan, peralatan listrik dan elektronik, peralatan medis, perhiasan, produk karet, produk kimia organik, produk (komponen) otomotif, produk kulit, produk perikanan, produk tekstil, rempah-rempah, dan udang.
Baca Juga
Imbas Tarif Trump, Pemerintah Diminta Berikan Stimulus Besar-besaran untuk Pelaku Usaha
Apa Tuduhan AS ke RI?
Khusus untuk Indonesia, AS menuding 99% produk pertaniannya dikenai tarif di atas 25% yang dinilai Trump sebagai sikap proteksionis Indonesia. Demikian pula tarif 35,5% untuk sektor otomotif dan besi- baja AS, serta produk kimia tertentu bertarif di atas 35%.
AS juga mengkhawatirkan penetapan tarif produk teknologi informasi (TI) dan telekomunikasi masuk ke Indonesia, seperti produk switching dan routing sebesar 10%.
Trump juga memprotes penetapan cukai minuman beralkohol impor kadar 5% dan 20% sebesar 24% di atas minuman buatan lokal. Pun cukai minuman beralkohol impor kadar 20% dan 55%, cukainya 52% lebih tinggi dari produk lokal.
AS mengkritik pula perluasan lisensi impor dari 5 komoditas menjadi 19 produk yang memerlukan kajian pemerintah Indonesia.
Selain itu, AS menyoroti sistem perpajakan karena proses audit yang tidak transparan dan rumit, denda yang besar untuk kesalahan administratif, mekanisme sengketa yang panjang, kurangnya preseden hukum di pengadilan pajak, penambahan jumlah barang impor yang dikenakan PPh pasal 22, klaim pengembalian lebih bayar PPh memakan waktu bertahun-tahun.
Presiden Trump menegaskan, kebijakan tarif resiprokal diberlakukan karena banyak negara menerapkan hambatan non-moneter dan hambatan moneter bidang perdagangan. Dalam banyak kasus, hambatan non-meneter dinilai lebih buruk dibanding hambatan moneternya.
Dia menyebut pekerja dan produsen AS telah dirugikan selama beberapa dekade oleh perjanjian perdagangan bebas yang memicu defisit perdagangan barang melebihi US$ 1,2 triliun.
Baca Juga
Legislator Minta Pemerintah Respons Tarif Trump dengan Aksi Nyata dan Berani
Respons Pemerintah
Menanggapi kebijakan Trump, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan, pemerintah sedang menghitung dampak keseluruhan dari penerapan tarif Trump, termasuk sektor mana saja yang terpengaruh.
Pemerintah akan berkomunikasi dengan AS, mengirimkan delegasi tingkat tinggi untuk bernegosiasi. Tim akan menyiapkan jawaban atas berbagai tuduhan AS.Tim lintas kementerian dan lembaga, perwakilan Indonesia di AS dan para pelaku usaha nasional, telah berkoordinasi secara intensif untuk persiapan menghadapi tarif resiprokal AS.
Indonesia telah berkomunikasi dengan Malaysia selaku pemegang Keketuaan ASEAN untuk mengambil langkah bersama mengingat 10 negara ASEAN terdampak pengenaan tarif AS.
Presiden Prabowo telah menginstruksikan Kabinet Merah Putih untuk melakukan langkah strategis dan perbaikan struktural serta kebijakan deregulasi berupa penyederhaan regulasi dan penghapusan regulasi yang menghambat, khususnya Non-Tariff Barrier.
Pemerintah Indonesia berkomitmen terus memperbaiki iklim invetasi guna penciptaan lapangan kerja yang luas.
Pemerintah berkomitmen menjaga stabilitas yield Surat Berharga Negara (SBN), menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah, dan memastikan likuiditas valas tetap terjaga.
Baca Juga
Saran Ekonom dan Analis
Berikut ini rangkuman saran, usulan, dan rekomendasi para ekonom dan analis tentang strategi yang perlu ditampuh Indonesia menyikapi penetapan tarif resiprokal.
@ Realokasi anggaran ke stimulus besar-besaran kepada pelaku usaha, terutama UMKM, untukmembangkitkan pasar dalam negeri.
@ Rekalibrasi APBN. Program boros perlu dikurangi untuk memprioritaskan program jangka pendek yang berdampak langsung pada daya beli dan penciptaan lapangan kerja.
@ Pemerintah perlu segera mengeluarkan kebijakan komprehensif yang konkret dan realistis serta dinarasikan dengan baik.
@ Memperkuat kerja sama perdagangan dan investasi dengan negara senasib, Eropa, ASEAN, India, Timur Tengah, bahkan Afrika dan Amerika Latin. Menggalang kerja sama ekonomi lebih erat di ASEAN, OKI, BRICS plus.
@ Membentuk tim negosiasi untuk bernegosiasi dengan AS.
@ Sinkronisasi program Asta Cita terhadap kondisi global akibat penerapan tarif Trump.
@ Perlu konsolidasi politik, ekonomi, dan sosial seluruh elemen bangsa untuk menghadapi situasi terburuk.
@ Indonesia perlu memperkuat cadangan devisa untuk menghadapi reli perang mata uang yang panjang. Kebijakan penyimpanan devisa hasil ekspor sumber daya alam (DHE SDA) perlu segera diterapkan dengan tuntas.
@ Pengetatan impor legal dan penghentian impor ilegal secara total.
@ Penguatan industri jasa keuangan, terutama perbankan dan pasar modal.
Dampak ke Indonesia
enetapan tarif resiprokal 32% kepada Indonesia pasti memberikan dampak luas dan memicu efek berantai. Berikut ini sejumlah dampak yang diungkapkan sejumlah ekonom dan analis kepada investortrust:
@ Neraca pembayaran akan terpengaruh dan berdampak pada fundamental rupiah dalam jangka panjang, karena besarnya surplus perdagangan yang dinikmati Indonesia dengan AS senilai US$ 16,3 miliar.
@ Surplus perdagangan bulanan akan menyusut ke level US$ 700-900 juta, dari sekitar US$ 3 miliar saat ini.
@ FDI akan beralih ke negara yang dikenai tarif rendah seperti Australia dan Eropa, dari ASEAN yang terkena tarif tinggi.
@ Rupiah berpotensi tembus ke Rp 17.000/US$, indeks harga saham di Bursa Efek Indonesia diprediksi turun pada pembukaan perdagangan pasca-Lebaran 8 April.
@ Kondisi ini justru memberi peluang buy on weakness bagi investor yang memiliki toleransi tinggi terhadap risiko.
@ Memicu kenaikan inflasi dan akan semakin menunda penurunan suku bunga. Tapi terbuka negosiasi, mengingat gaya Trump sejak dilantik pada Januari menggunakan tarif impor sebagai alat negosiasi politik.
@ Potensi PHK dan banyak perusahaan mempailitkan diri.
@ Efek domino terhadap rantai perdagangan dari perusahaan besar dengan UMKM.
@ Penerimaan pajak menurun
@ Daya beli masyarakat kian turun
@ Harga emas dunia berpotensi ke US$ 3.200 per troy ons
@ Waspadai impor otomotif dari Thailand, Malaysia, dan Vietnam karena Indonesia terikat Asean Free Trade Agreement (AFTA).
@ Efek berantainya besar meskipun ekspor Indonesia ke AS cuma 10,5% dari total ekspor non-migas. Ancaman terutama bagi industri otomotif dan elektronik beserta komponen. Total ekspor produk otomotif Indonesia tahun 2023 ke AS US$ 280,4 juta. Produsen otomotif Indonesia tidak semudah itu shifting ke pasar domestik, karena spesifikasi berbeda.
@ Ada potensi resesi ekonomi di AS akibat melemahnya permintaan (mahalnya harga barang akibat kenaikan tarif). Setiap penurunan pertumbuhan ekonomi AS sebesar 1% menyebabkan ekonomi Indonesia turun 0,08%.
@ Tarif Trump dinilai memperlambat ekonomi global, meningkatkan risiko resesi, menaikkan biaya hidup keluarga AS, menyulitkan perencanaan operasional pebisnis. Tambahan 20% menaikkan menelan biaya hidup US$ 3.400 bagi rata-rata rumah tangga AS.
Video: Courtesy of Skynews
Potongan Pidato “Kemarahan” Trump
Baca Juga
Pimpin Kerugian di Asia, Nikkei 225 Jepang Anjlok Setelah Pengumuman Tarif Trump
Tindakan Presiden Trump yang “membabi-buta” bisa tercermin dalam beberapa potongan pidato berikut ini.
Selama bertahun-tahun, AS telah dijarah dan dicuri oleh negara-negara dekat dan jauh, teman dan musuh. Pekerja baja Amerika, pekerja otomotif, petani, dan pekerja berketerampilan benar-benar menderita. „Selama bertahun-tahun, penduduk Amerika yang bekerja keras terpaksa duduk di pinggir saat negara lain menjadi kaya dan berkuasa, kebanyakan dengan biaya kita,“ tegas Trump.
Mereka memanipulasi nilai tukar mereka, mensubsidi ekspor mereka, mencuri hak intelektual kita, menerapkan pajak yang besar pada produk kita, menerapkan peraturan yang tidak adil dan standar teknis.
Dalam banyak kasus ternyata teman lebih buruk dari musuh dalam hal perdagangan.
Saya tidak menyalahkan negara lain untuk kejahatan ini. Saya menyalahkan presiden dan pemimpin sebelumnya yang tidak melakukan pekerjaan mereka. Mereka membiarkannya.
Pada tahun lalu saat Joe Biden menjabat, AS kehilangan 100.000 lapangan kerja manufaktur. Defisit perdagangan kita US$ 1.2 triliun, yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Sejak awal NAFTA, perjanjian perdagangan terburuk yang pernah kita lakukan merupakan hal menakutkan. Sekitar 5 juta lapangan kerja manufaktur telah hilang. Itulah perjanjian perjanjian terburuk yang pernah kita lakukan.
Sebaliknya, negara-negara asing sekarang memiliki US$ 26 triliun dolar lebih dari aset-aset Amerika.
Amerika Serikat tidak bisa lagi memproduksi antibiotik yang cukup untuk menjaga kita dari penyakit. Kita mengimpor hampir semua komputer, televisi, telepon dan elektronik kita. Kita dulu menguasainya dan sekarang kita mengimpor semuanya dari negara-negara yang berbeda.
Tapi tarif baru ini tergolong lunak, karena hanya 50% dari tarif yang diterapkan oleh negara-negara mitra dagang terhadap produk AS.
Dengan kebijakan baru di bidang tarif impor ini, Trump yakin mampu mewujudkan “America Great Again”. (Tim Investotrust)

