Tiga Sekuritas Rekomendasi Beli BBRI karena Dividen Menarik dan Fundamental Solid
JAKARTA, investortrust.id – Fundamental yang baik dan imbal hasil dividen yang tinggi membuat saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) direkomendasikan beli oleh tiga sekuritas ternama. Mereka adalah Sinarmas Sekuritas, Sucor Sekuritas, dan Verdhana Sekuritas. Target harga yang mereka proyeksikan beragam, berada dalam rentang Rp 4.400 hingga 5.300.
Analis Sinarmas Sekuritas Ivan Purnama Putera menilai, valuasi BBRI saat ini cukup menarik, di bawah rata-rata price to book value (P/B). Terlebih lagi, emiten pelat merah ini menawarkan imbal hasil dividen lebih dari 8%.
“Kenaikan harga saham BBRI tetap menantang meskipun ada dampak seputar penghapusan buku dan besarnya biaya kredit,” jelas Ivan, dikutip dari risetnya pada Senin (17/2/2025).
Sinarmas Sekuritas memberi target harga Rp 4.400 atau naik 10,3% untuk saham BBRI dalam kurun 12 bulan, yang mencerminkan P/B 2,1x.
Sinarmas Sekuritas memprediksi Kupedes akan tumbuh lebih hati-hati, dengan target pertumbuhan 7-10% pada 2025. Adapun pertumbuhan KUR BRI kemungkinan relatif stagnan. Namun, secara keseluruhan, segmen kredit mikro BRI tetap akan tumbuh 3-5% pada tahun ini.
Ivan melihat, BRI berencana mengandalkan segmen bisnis korporat dan menengah sebagai pendorong pertumbuhan utama tahun ini. Khususnya melalui hipotek dan pinjaman gaji, dengan panduan pertumbuhan pinjaman keseluruhan sebesar 7-9% untuk 2025.
Dividen memang menjadi daya tarik bagi BRI. Direktur Utama BRI Sunarso menekankan bahwa BRI optimistis bisa membagikan dividen tahun buku 2024 yang optimal kepada para pemegang saham, tidak lebih rendah dari tahun sebelumnya. Namun, angka pasti masih menunggu keputusan rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST).
“Gambarannya, kira-kira berapa dividend payout ratio-nya, ya pada kisaran 80% sampai 85% (dari laba),” ujarnya saat paparan kinerja keuangan kuartal IV-2024, Rabu (12/2/2025).
Optimisme pembagian dividen tersebut didorong oleh kondisi permodalan yang solid dengan capital adequacy ratio (CAR) berada di level 26% per 2024. “Dengan CAR demikian, sampai lima tahun ke depan, BRI itu tidak perlu menambah modal. Jadi artinya apa? Sampai lima tahun ke depan, berapapun labanya, layak untuk dibagi kepada pemegang saham,” tegas Sunarso.
Yang terpenting, kata dia, selain memastikan modal tetap kuat, perseroan juga harus mampu memanfaatkannya secara optimal untuk mendorong pertumbuhan bisnis.
Analis Sucor Sekuritas Edward Lowis juga memberi rekomendasi beli (buy) pada saham BBRI namun dengan target harga yang lebih tinggi dibandingkan Sinarmas Sekuritas, yakni Rp 5.300. Target ini menyiratkan P/B 2,4x pada proyeksi 2025.
“Kami memang melihat tantangan jangka pendek yang dihadapi BRI masih ada, termasuk likuiditas yang ketat dan prospek pertumbuhan ekonomi yang kurang kondusif,” tulis Edward dalam risetnya. Atas dasar itu, Sucor Sekuritas akan mengambil sikap yang lebih konstruktif, setelah kondisi likuiditas bank dan indikator ekonomi makro membaik.
Edward Lowis menyebutkan, BRI memberikan panduan (guidance) target pertumbuhan konservatif pada 2025. Perseroan menetapkan, target pertumbuhan pinjaman moderat di kisaran 7-9% tahun ini, sejalan dengan pertumbuhan 7% yang tercatat pada 2024.
BBRI melihat pinjaman UKM dan konsumen, khususnya hipotek dan pinjaman berbasis gaji, sebagai pendorong pertumbuhan utama. Bank juga memperkirakan NIM tahun ini akan berada dalam kisaran 7,3%-7,7%.
Di sisi lain, analis PT Verdhana Sekuritas Indonesia Erwin Wijaya juga memberi rekomendasi beli pada saham BBRI dengan target harga Rp 5.000. Dalam risetnya, Erwin menjelaskan bahwa target ini berdasarkan analisis DuPont dengan tingkat bebas risiko sebesar 6,5%, premi risiko ekuitas sebesar 7,8%, pertumbuhan sebesar 9,3% , beta 0,85x dan ROAE yang disesuaikan dengan CAR sebesar 18%.
“Kami juga menggunakan proyeksi buku 2025 sebagai referensi,” sambung dia.
Sebagai informasi, peringkat ‘beli’ pada Verdhana menunjukkan prakiraan analis bahwa saham tersebut akan mengungguli benchmark selama 12 bulan ke depan.
Menurut Erwin, BBRI harus intensif fokus pada segmen korporasi atau komersial, setidaknya dalam jangka menengah sekitar tiga tahun. Pasalnya, hapus buku atau hapus tagih untuk pinjaman mikro dan ultra mikro kemungkinan masih berlanjut.
Erwin mengestimasi laba BRI periode 2025-2026 tumbuh konservatif karena kenaikan biaya kredit dan penghapusan pinjaman. Pertumbuhan pinjaman diprediksi tumbuh sekitar 7,5% pada 2025-2026.
Pada kuartal I-2025, manajemen BRI memperkirakan biaya kredit (cost of credit/COC) meningkat karena bank melakukan provisi front-load, dengan CoC ditargetkan berada pada level 3-3,2% akhir tahun ini.
Jurus Pertahankan Kinerja
Sementara itu, Direktur Utama BRI Sunarso menegaskan, pihaknya menyiapkan sejumlah strategi untuk mempertahankan kinerja positifnya ke depan, di tengah tantangan ekonomi global dan domestik yang akan dihadapi pada tahun ini.
Sunarso menjelaskan, ada berbagai faktor yang berpotensi memengaruhi pertumbuhan ekonomi di dalam negeri, termasuk kebijakan proteksi perdagangan dari sejumlah negara, serta kebijakan moneter The Fed yang cenderung hawkish.
“Pertumbuhan ekonomi global masih diliputi ketidakpastian. Kebijakan proteksi dan tarif yang dikenakan oleh Amerika Serikat (AS) terhadap China, Meksiko, dan Kanada, serta kebijakan The Fed yang cenderung hawkish akan menjadi tantangan pertumbuhan ekonomi domestik,” ujarnya.
Sunarso menilai, perang dagang dapat menyebabkan peningkatan barang-barang impor ke Indonesia, yang akhirnya mengganggu industri dalam negeri dan berdampak pada lapangan kerja. Selain itu, daya beli masyarakat dan konsumsi rumah tangga juga tertekan, padahal merupakan pendorong utama permintaan kredit, terutama di sektor usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).
Guna menghadapi sejumlah tantangan tersebut, lanjut Sunarso, BRI menetapkan strategi yang pruden alias hati-hati, dengan menargetkan pertumbuhan kredit di kisaran 7-9%, serta menjaga margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) di kisaran 7,3-7,7%.
”Di UMKM, kita masih menghadapi isu-isu yang terkait kualitas kredit. Maka kemudian kita harus jaga-jaga dengan guidance tentang cost of credit sekitar 3-3,2%. Kalau bisa lebih rendah dari itu akan lebih baik,” katanya.
Sedangkan untuk menjaga kualitas aset, BRI menargetkan rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) tetap di bawah 3%. Efisiensi operasional juga menjadi fokus utama, dengan target cost to income ratio (CIR) di kisaran 42-44% melalui optimalisasi digitalisasi dan peningkatan produktivitas.
“Jadi kita sudah bekerja dengan lebih produktif menggunakan instrumen-instrumen digital dan lain-lain. Operational cost kita tekan, kemudian produktivitas kita naikkan,” ucapnya.
Sunarso tetap optimistis terhadap tren profitabilitas 2025-2026. Dengan mengedepankan prinsip kehati hatian, BRI pun berstrategi ‘wait and see' untuk merespons dinamika pasar sekaligus mengembangkan pendekatan yang fleksibel dan terukur.
Menurut Sunarso, berbagai langkah strategis telah disiapkan BRI untuk menjaga stabilitas dan kinerja bisnis, termasuk rencana cadangan untuk mengantisipasi potensi krisis. Dalam konteks ini, Sunarso kerap menggambarkan pendekatan BRI dengan analogi kompetisi sepak bola. Menurutnya, prinsip utama yang dipegang BRI adalah untuk tetap meraih kemenangan, meskipun hasilnya tidak selalu sempurna.
Sebagai gambaran, dalam keadaan normal, BRI dapat menang 3-0, yang berarti likuiditas, kualitas, dan profitabilitas berada dalam kondisi baik. Sebaliknya, dalam situasi penuh ketidakpastian, BRI cukup menang 2-1, yakni dengan tetap menjaga likuiditas dan kualitas untuk memastikan keberlanjutan. "Meskipun profitabilitas bisa sedikit menurun, yang penting adalah kita tetap bertahan," tambah Sunarso.
Berbekal prinsip tersebut, Sunarso yakin BRI dapat menjaga momentum pertumbuhan BRI di tengah dinamika global dan domestik, serta tetap konsisten memberikan nilai tambah yang signifikan bagi pemegang saham. Daya tahan BRI yang kuat dalam menghadapi tantangan eksternal maupun internal telah membuktikan bahwa Perseroan mampu tumbuh secara berkelanjutan.
Menciptakan Ketakutan di Pasar
Tentang penurunan harga saham BBRI belakangan ini, Direktur Utama BRI Sunarso menyatakan bahwa penurunan ini bukan hanya dialami BRI, tapi juga bank-bank lain yang masuk kategori kapitalisasi pasar besar (big cap). Menurut Sunarso, pergerakan saham di pasar modal dipengaruhi oleh banyak faktor eksternal di luar kendali perusahaan. Oleh karena itu, BRI akan tetap fokus pada aspek-aspek yang bisa dikendalikan untuk menjaga fundamental bisnis tetap kuat.
“Sebagai CEO, saya akan lebih fokus mengerjakan hal-hal yang di bawah kontrol saya, yang bisa saya kendalikan. Pertama, menggerakkan tim untuk bekerja dengan GCG (good corporate governance), dengan governance yang benar,” katanya.
Kedua, dalam situasi yang tidak mudah, BRI tetap harus tumbuh secara berkelanjutan. Untuk itu, tegas Sunarso, BRI harus menerapkan risk management yang bagus. “Dari kedua strategi itu kita bisa me-manage dan mendapatkan resiliensi dari sisi performance,” sambung Sunarso.
Sunarso menekankan, kondisi fundamental BRI hingga saat ini tetap solid, meskipun ada pihak-pihak yang mencoba menciptakan ketakutan di pasar. “Kalaupun pasarnya merespons negatif, pasti bukan karena persoalan fundamental. Tapi ada yang membuat rasa takut lah, atau memang berkepentingan untuk menjatuhkan harga saham,” ucap Sunarso.
“Saya tegaskan sekali lagi, fundamental BRI tetap baik. Jadi tugas saya adalah fokus kepada hal-hal yang bisa saya kendalikan atau kontrol, yaitu risk management dan GCG,” katanya.
Pada penutupan perdagangan di Bursa Efek Indonesia, Jumat (21/1/2025), harga saham BBRI ditutup pada level Rp 3.890.
Laba Terbesar
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) tercatat masih menjadi bank dengan raihan laba terbesar di Tanah Air. Bank pelat merah dengan kode emiten BBRI ini membukukan laba Rp 60,64 triliun secara konsolidasi di sepanjang 2024, naik 0,33% dibandingkan tahun sebelumnya (year on year/yoy) Rp 60,4 triliun. Adapun laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik mencapai Rp 60,15 triliun di 2024.
Sementara laba bank only 2024 mencapai Rp 54,84 triliun, naik 3,18% dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 53,15 triliun. Secara keseluruhan, kinerja positif ini menunjukkan kemampuan BRI dalam menghadapi tantangan ekonomi global dan domestik, serta tantangan likuiditas yang ketat sepanjang tahun 2024.
Dengan capaian ini, laba per saham BRI pada 2024 mencapai Rp 399, naik dari Rp 398 pada tahun sebelumnya. Kemudian pendapatan konsolidasi BRI mencapai Rp 145,3 triliun, naik 4,1% dari sebelumnya Rp 139,56 triliun. Pendapatan ini ditopang dari bunga yang mencapai Rp 199,26 triliun, naik 9,96% dari posisi 2023 yang mencapai Rp 181,21 triliun.
Dalam paparnnya (12/2/2025), Sunarso menyatakan, konsistensi BRI dalam melayani dan memberdayakan UMKM tidak hanya berhasil memperkuat ekonomi kerakyatan, namun juga menghasilkan kinerja keuangan yang stabil.
"Di tengah tantangan tekanan ekonomi global yang berdampak pada pertumbuhan ekonomi domestik, serta tantangan likuiditas bagi industri perbankan, BRI mampu menunjukkan resiliensi kinerja. Pencapaian ini menunjukkan resiliensi kinerja dan kemampuan BRI dalam meng-create value secara konsisten bagi pemegang saham, pemangku kepentingan, serta masyarakat luas ditengah keberpihakan BRI kepada UMKM,” jelas Sunarso.
Sementara itu, total aset BRI hingga akhir Desember 2024 mencapai Rp 1.992,98 triliun atau tumbuh 1,42% secara year on year (yoy). Pertumbuhan ini didorong penyaluran kredit yang selektif dan berkualitas dengan tetap berfokus pada UMKM.
Dari sisi penyaluran kredit, BRI mencatatkan penyaluran kredit sebesar Rp 1.354,64 triliun atau tumbuh 6,97% yoy. Seluruh segmen pinjaman tercatat tumbuh positif. “Penyaluran kredit BRI didominasi oleh segmen UMKM dengan porsi mencapai 81,97% dibandingkan dengan total kredit BRI, atau setara nominal sebesar Rp 1.110,37 triliun,” imbuh Sunarso.
Pertumbuhan penyaluran kredit tersebut juga diikuti dengan perbaikan kualitas kredit. Hal ini ditunjukkan dengan membaiknya rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) dari semula 2,95% pada akhir Desember 2023 membaik menjadi 2,78% pada akhir Desember 2024. Di samping itu, BRI juga mempersiapkan pencadangan yang mencukupi dengan NPL Coverage sebesar 215,01%.
Dari sisi simpanan atau Dana Pihak Ketiga (DPK), BRI berhasil menghimpun simpanan sebesar Rp 1.365,45 triliun. Dana murah (CASA) mendominasi penghimpunan simpanan BRI dengan proporsi mencapai 67,30% atau setara dengan Rp 918,98 triliun. “Keberhasilan BRI dalam meningkatkan porsi CASA secara berkelanjutan tidak terlepas dari strategi BRI untuk terus fokus pada peningkatan CASA berkualitas, salah satunya adalah CASA yang berbasis transaksi,” ujar Sunarso.
Selain itu, pencapaian CASA BRI tersebut didukung pertumbuhan transaksi digital Super App BRImo yang semakin memperkuat posisi BRI dalam layanan digital banking di Indonesia. Hingga akhir Desember 2024, jumlah pengguna Super Apps BRImo tumbuh 22,12% yoy menjadi 38,61 juta user. Adapun volume transaksi yang diproses melalui BRImo juga tercatat naik 34,57% yoy menjadi sebesar Rp 5.596 triliun.
Sunarso juga menjelaskan bahwa capaian kinerja positif BRI pada tahun 2024 tersebut didukung kondisi likuiditas yang memadai dan permodalan yang kuat. Indikatornya, Loan Deposit Ratio (LDR) BRI berada di level 88,85% dengan rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) sebesar 26,63%.
8 Program Unggulan Pemberdayaan UMKM
Selain dominasinya dalam pembiayaan UMKM, lanjut Sunarso, sebagai agent of development BRI juga berkomitmen dalam mendukung Asta Cita Pemerintah, terutama dalam meningkatkan lapangan kerja yang berkualitas, mendorong kewirausahaan, mengembangkan industri kreatif, pemerataan ekonomi dan pengentasan kemiskinan.
Karena itulah, BRI mendesain berbagai program unggulan pemberdayaan UMKM, serta inisiatif untuk memberikan akses layanan keuangan seluas-luasnya kepada masyarakat. Setidaknya ada 8 program yang sudah berjalan dengan baik, yaitu:
Pertama, Holding Ultra Mikro, yakni sinergi BRI sebagai induk bersama Pegadaian dan Permodalan Nasional Madani (PNM) untuk memberikan akses layanan keuangan yang lengkap, terintegrasi, dan memenuhi kebutuhan pelaku usaha, khususnya di segmen Ultra Mikro (UMi). Setelah terbentuk pada 2021, Holding UMi telah memperluas layanannya melalui 1.032 outlet Sentra Layanan Ultra Mikro (Senyum) yang tersebar di seluruh Indonesia. Kini Holding Ultra Mikro telah melayani lebih dari 180 juta nasabah simpanan dan 36,9 juta nasabah pinjaman dengan penyaluran kredit sebesar Rp 628,67 triliun.
Kedua, Kredit Usaha Rakyat (KUR). KUR merupakan program pemerintah untuk meningkatkan akses pembiayaan kepada UMKM. Sumber dana KUR 100% berasal dari sumber dana bank, sedangkan sebagian porsi bunga yang harus dibayar oleh nasabah mendapat subsidi pemerintah.
"Sepanjang tahun 2024, BRI berhasil menyalurkan KUR sebesar Rp 184,98 triliun, menjadikannya yang tertinggi diantara perbankan nasional lainnya. Penyaluran KUR BRI mampu menjangkau lebih dari 4 juta pelaku UMKM di seluruh wilayah Indonesia dan memberikan dampak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional," tutur Sunarso.
Ketiga, Agen BRILink. AgenBRILink merupakan perluasan layanan BRI di mana BRI menjalin kerja sama dengan nasabah BRI sebagai agen/mitra yang dapat melayani transaksi perbankan bagi masyarakat secara real-time online dengan konsep sharing fee. Hingga akhir Desember 2024, jumlah AgenBRILink mencapai 1,06 juta, meningkat 324 ribu agen dibanding tahun lalu dengan volume transaksi sebesar Rpv1.583 triliun. Agen-agen tersebar di lebih dari 67 ribu desa atau menjangkau lebih dari 80% dari total desa di Indonesia.
Keempat, Desa BRILian, yang merupakan program pengembangan ekonomi desa sesuai potensi spesifik, seperti desa wisata, desa kerajinan, desa pertanian dan sebagainya. Hingga akhir Desember 2024 BRI telah membina 4.327 Desa BRILian di seluruh Indonesia.
Kelima, PARI (Pasar Rakyat Indonesia), platform terintegrasi yang memberikan kemudahan bagi pelaku UMKM ekosistem berdasarkan komoditas. Hingga saat ini tercatat telah digunakan oleh 85 ribu user PARI.
Keenam, Klasterku Hidupku, yaitu program pemberdayaan berdasarkan kesamaan usaha dalam klaster/kelompok usaha. Saat ini BRI telah membina 38.574 klaster usaha di seluruh Indonesia.
Ketujuh, LinkUMKM. Ini adalah platform online yang bertujuan melakukan tracking dan monitoring UMKM Indonesia naik kelas melalui rangkaian program pemberdayaan terpadu. Saat ini sudah terdapat 8,9 juta user yang menggunakan LinkUMKM.
Kedelapan, Rumah BUMN, yang merupakan wadah kolaborasi BUMN dalam membentuk ekosistem ekonomi digital melalui pembinaan UMKM. Kini BRI telah memiliki 54 rumah BUMN dengan 433 ribu pelaku UMKM binaan.
Sunarso menegaskan bahwa di tengah berbagai tantangan di pasar, BRI akan fokus untuk menjaga stabilitas dan resiliensi kinerja. "BRI juga terus berkomitmen untuk mendukung ekonomi kerakyatan, utamanya melalui pembiayaan yang inklusif dan berkelanjutan, serta berbagai inisiatif pemberdayaan untuk menumbuhkembangkan UMKM menjadi pilar utama pertumbuhan ekonomi Indonesia," tegasnya. ***
***

