Tiga Sekuritas Ini Pertahankan Rekomendasi Beli Saham BRI (BBRI) dengan Target Harga Menggiurkan Berikut
JAKARTA, investortrust.id – Tiga sekuritas ini mempertahankan rekomendasi beli saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), meskipun bank BUMN dengan kapitalisasi terbesar ini catatkan penurunan laba bersih Januari 2025 sebanyak 58,33% menjadi Rp 2 triliun, dibandingkan Januari 2024 senilai Rp 4,82 triliun.
Penurunan dipicu atas peningkatan pesat provisi dari Rp 1,95 triliun menjadi Rp 5,62 triliun. Penurunan pendapatan bunga juga memicu dari Rp 13,86 triliun menjadi Rp 12,99 triliun. Sedangkan beban bunga berhasil ditekan perseroan sebanyak 3% dari Rp 4,20 triliun menjadi Rp 4,07 triliun.
Baca Juga
BRI Salurkan Kredit Rp 500 Miliar dan Forex Line USD 50 Juta untuk IFF
Rekomendasi beli saham BBRI datang dari Sucor Sekuritas dengan target harga Rp 5.300. Sekuritas ini menyebutkan bahwa pergerakan harga saham BBRI dalam jangka pendek masih penuh tantangan, tapi saham ini tetap menarik.
Begitu juga dengan Verdhana Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli saham BBRI dengan target harga Rp 5.000. Target harga ini didasarkan analisis DuPoont dengan risk free rate 6,5%, ROE sekitar 9,3%, dan beta 0,85 kali.
Rekomendasi beli saham BBRI juga datang dari Mandiri Sekuritas. Saham ini ditargetkan menuju Rp 3.800. Target harga tersebut mempertimbangkan dividen jumbo tahun ini.
Terkait prospek kinerja keuangan BBRI tahun ini, analis Sucor Sekuritas Edeward Lowis mengatakan, tekanan terhadap laba perseroan akan berlanjut setidaknya sampai semester I-2025. Tekanan dari potensi provisi yang masih tinggi dalam bebearpa bulan ke depan.
“Likuditas yang ketat memang berdampak terhadap NIM perseroan. Meski demikian manajemen meyakini bahwa biaya dana Januari diperkirakan sebagai bulanan tertinggi tahun ini dan penurunan diperkirakan mulai terjadi dalam beberapa bulan ke depan,” tulisnya dalam riset terbarunya.
Baca Juga
Sucor Sekuritas memperkirakan laba bersih BBRI tahun ini akan turun menjadi Rp 56,1 trilun akibat kenaikan biaya kredit dan tekanan terhadap NIM. Sedangkan pertumbuhan laba diharapkan mulai terjadi tahun depan.
Begitu juga dengan analis Verdhana Sekuritas Indonesia Erwin Wijaya. Menurut dia, laba bersih perseroan tahun ini diperkirakan hanya mencapai Rp 58,65 triliun. Hal ini dipicu atas peningkatan provisi dan pertumbuhan pendapatan yang melambat.
Proyeksi penurunan laba bersih BBRI juga datang dari analis Mandiri Sekuritas Kresna Hutabarat dan Boby Kristanto Chandra. Menurut dia, laba perseroan memang cenderung turun tahun ini dipicu aksi manajemen membersikan kredit bermasalah yang berasal dari beberapa tahun lalu. Sedangkan dividen jumbo menjadi sentimen positifnya.

