Kebakaran Besar Los Angeles Belum Selesai, Cerita Dramatis Perubahan Iklim dan Perluasan Hunian
JAKARTA, Investortrust.id – Kebakaran hebat di Los Angeles, California tak lagi menjadi headline sejumlah pemberitaan media massa dunia. Hampir sebagian besar publik mengira bahwa kebakaran di kota terpadat di negara bagian California, AS ini telah padam. Kenyataannya, api masih merambat dan meluas, dan bahkan kini telah memasuki kawasan Laguna, sehingga muncul nama baru dengan istilah ‘Kebakaran Laguna’.
Mengutip Latimes.com, per Sabtu (25/1/2025) waktu setempat, 90% api memang telah berhasil dipadamkan pada pukul 18.00 sore. Kebakaran telah menghanguskan lebih dari 10.400 acre atau setara 4.209,53 hektare lahan di kawasan tersebut (1 acre = 0,404686 hektare, red).
Pemerintah wilayah Los Angeles County telah menurunkan status perintah evakuasi, menjadi peringatan untuk wilayah di dalam dan sekitar Danau Castaic. Zona ini secara kasar meliputi wilayah di sebelah timur jalan Ridge Route dan Old Ridge Route, di selatan Liebre Mountain Road dan di sebelah barat South Portal Road, termasuk wilayah di utara Tapia Canyon Road dan di sebelah timur Lake Hughes Road.
Pada saat yang bersamaan, Ventura County mencabut perintah dan peringatan evakuasi pada Kamis pagi (23/1/2025). Namun Kawasan Rekreasi Danau Piru tetap ditutup hingga pemberitahuan lebih lanjut.
Berdasarkan data terakhir per Sabtu (25/1/2025), setidaknya 29 orang tewas akibat kebakaran hutan, yang dipicu oleh kondisi kekeringan parah dan angin kencang, yang melanda wilayah Los Angeles. Kebakaran awalnya melanda di dua kawasan, yakni Eaton dan Palisade.
Otoritas setempat melaporkan, 84% kobaran api di Palisade telah berhasil dipadamkan per Sabtu 25 Januari 2025, dan telah menghanguskan kawasan seluas 23.400 acre atau setara 9.469,65 hektare. Sebanyak 6.809 bangunan hancur dan 972 lainnya rusak. Semnetara korban jiwa dari Palisade tercatat sebanyak 11 orang.
Footage of the Palisades from AF1…
— MJTruthUltra (@MJTruthUltra) January 25, 2025
What DEW you notice?https://t.co/rEeGE854t2 pic.twitter.com/mjVsedH1CL
Saat ini zona evakuasi wajib telah dibuka kembali untuk warga. Namun penduduk harus membawa kartu identitas berfoto yang sah yang menunjukkan nama, foto, dan alamat fisik mereka, seperti SIM. Namun demikian sebagian besar kawasan Pacific Palisades dan sebagian komunitas termasuk Malibu, Brentwood dan Topanga tetap berada di bawah perintah evakuasi yang ditetapkan sejak hari Selasa pekan lalu (21/1/2025).
Baca Juga
Peringatan 'Red Flag' di Los Angeles Berakhir, tapi Bahaya Kebakaran Masih Mengancam
Di kawasan Eaton, api di sekitar 95% kawasan telah dipadamkan, dan telah menghanguskan 14.000 acre atau setara 5.665,60 hektare. Sebanyak 9.418 bangunan hancur dan 1.073 lainnya rusak. Di kawasan ini pihak otoritas setempat memastikan 17 orang tewas akibat kebakaran. Namun status evakuasi di Eaton telah dicabut.
Munculkan Pertanyaan soal Penanganan Kebakaran
Bencana kebakaran di Los Angeles yang kerap berulang memunculkan pertanyaan besar, mengapa negera sebesar Amerika Serikat, khususnya pemerintah Negara Bagian California tak mampu menangani kasus kebakaran hutan dengan segala kemampuan dan teknologi tinggi yang mereka miliki.
Berdasarkan catatan, setidaknya dalam 100 tahun terakhir telah terjadi lima kebakaran besar di Los Angeles, termasuk yang kini tengah berusaha dipadamkan di Palisades dan Eaton.
Kebakaran pertama di seratus tahun terakhir terjadi tahun 1938 yang dikenal dengan Kebakaran Topanga. Peristiwa yang juga dikenal sebagai Kebakaran Pegunungan Santa Monica, terjadi pada akhir November 1938 ketika titik api mulai merebak pada 23 November 1938 dengan titik awal di Trippet Ranch, sebuah lembah yang menjadi anak sungai Topanga Canyon, sekitar tiga mil dari mulut Topanga Canyon.
Kebakaran ini disebabkan oleh tindakan ceroboh penjaga Trippet Ranch yang membuang tumpukan abu dari kompor ke area dekat semak-semak. Abu tersebut masih mengandung bara api yang, dengan bantuan angin utara yang kencang dan kelembaban yang sangat rendah, dengan cepat menyebar ke vegetasi sekitarnya.
Kebakaran berlangsung selama beberapa hari, dari 23 hingga 30 November 1938, dan menghancurkan sejumlah properti berharga di dan sekitar area tersebut. Api menyebar dengan cepat, melompati Pacific Coast Highway, dan membakar beberapa rumah di sepanjang pantai utara Santa Monica.
Setelah Kebakaran Topanga, amukan api kembali menghanguskan sebagian Los Angeles pada tahun 1961 di kawasan elit Bel Air, sehingga disebut dengan Kebakaran Bel Air. Kebakaran pada tahun itu telah memaksa Richard Nixon, -mantan wakil presiden AS, yang belakangan menjabat sebagai Presiden AS pada tahun 1969 – harus berdiri di atap rumahnya sambil menyemprotkan air dari selang ke arah kobaran api, agar rambatan api tak menghanguskan rumahnya di Bel Air.
Baca Juga
Kebakaran Los Angeles Telah Tewaskan 24 Orang, Angin Santa Ana Masih Mengancam
Tak kapok dengan peristiwa Bel Air, kebakaran kembali terjadi pada tahun 2008 di Sayre, atau juga dikenal dengan Kebakaran Sylmar. Kebakaran ini menghanguskan 489 tempat tinggal di Los Angeles, yang dianggap sebagai "kehilangan rumah terburuk akibat kebakaran" dalam sejarah kota pada saat itu di tahun 2008. Syukurnya tidak ada korban jiwa dalam kebakaran Sayre.
Sebelum peristiwa kebakaran di Palisades dan Eaton, pada tahun 2018 juga sempat terjadi kebakaran yang dikenal dengan Kebakaran Woolsey. Kebakaran hutan yang merebak di Los Angeles County dan menyebar ke utara ke wilayah tetangga Ventura County, terjadi pada 8 November 2018 dan baru dapat dipadamkan sepenuhnya pada tanggal 21 November 2018. Kebakaran menghanguskan lahan seluas 39.234 hektare, menghancurkan 1.643 bangunan, dan menewaskan tiga orang, serta menyebabkan lebih dari 295.000 orang dievakuasi.
Dengan kembali berulangnya peristiwa kebakaran di Los Angeles, dan setidaknya tingkat fatalitasnya yang terjadi di Palisades dan Eaton jauh lebih hebat dibandingkan serangkaian peristiwa kebakaran yang terjadi dalam 100 tahun terakhir, maka wajar muncul pertanyaan seberapa kapabel pemerintah kota dan para otoritas terkait mampu menyelesaikan problem endemik kebakaran hutan di sana.
Kebutuhan Peningkatan Perekonomian hingga Minimnya Ketersediaan Rumah Murah
Kerap terjadinya kebakaran di kawasan Los Angeles membuat sejumlah tokoh menanggapi secara sarkastis peristiwa terbakarnya kawasan Palisades dan Eaton kali ini. Seorang pakar kebijakan adaptasi yang telah mempelajari dengan cermat dampak krisis iklim terhadap masyarakat di Los Angeles, Dr Edith de Guzman mengatakan, kebakaran yang melanda Los Angeles sepanjnang pekan lalu adalah badai yang sempurna , dan merupakan kombinasi dari cuaca ekstrem, iklim yang memanas, keangkuhan manusia, dan upaya keselamatan yang telah ditunda atau diabaikan selama beberapa dekade.
“Tidak seorang pun akan menyalahkan para pejabat karena dianggap tidak menghentikan badai (api). Ketika badai datang, ya badai itu tetap akan datang,” kata Guzman secara sarkastis seperti dikutip TheGuardian, Sabtu (18/1/2025).
Merunut ke belakang, Guzman menyebut terdapat sejumlah faktor yang membuat kebakaran di negara bagian California, khususnya di kota terpadat Los Angeles, menjadi sebuah peristiwa yang sifatnya endemik.
Perubahan iklim menjadi salah satu faktor yang dituding menjadi penyebab utama terjadinya kebakaran. Musim kering yang lebih panjang ditambah dengan bentang alam California yang selalu mengalami perubahan iklim ekstrem, dari kelembaban tinggi bisa berubah menurun dengan cepat.
Guzman mencatat pada tahun 2024, Los Angeles mencatat curah hujan sekitar 12 inci dalam periode 24 jam, yang curah hujannya hampir sama dengan jumlah rata-rata curah hujan di wilayah tersebut dalam setahun penuh. Namun begitu masuk kemusim dingin 2024 dan awal 2025, California mengalami musim hujan terkering dari yang pernah dialami sebelumnya.
Baca Juga
Trump Sebut Gubernur California Tak Becus Tangani Kebakaran Hutan Los Angeles, Ini Tanggapan Newsom
Tanaman yang tumbuh dan berkembang selama bertahun-tahun dengan cepat mengering dan mati ketika kelembapannya hilang, meninggalkan lahan kering yang ditumbuhi tanaman yang siap terbakar.
“Ekstrem baru ini semakin menyatu dengan fenomena lama, yakni angin kering kencang yang terjadi sepanjang tahun ini,” tuturnya.
Embusan angin juga dilaporkan bisa mencapai kecepatan 90 mil per jam, atau setara 144,84 km per jam, sebuah kekuatan angin yang mampu merobohkan pepohonan yang akhirnya bisa memutuskan jaringan kabel listrik di pegunungan. Angin yang bertiup kencang ini berlangsung selama berhari-hari, sejak 31 Desember 2024. Kencangnya angin mengakibatkan petugas pemadam kebakaran sulit melakukan pemadaman, karena angin layaknya menjadi siraman bensin pada bara api, yang membuat api makin membesar. Bahkan embusan kencang angin tersebut kerap membahayakan para petugas pemadam.
“Saat angin kencang berembus, bara api terbang ke udara dan bahkan sampai melambung berkilo meter dari pusat api, dan akhirnya menjadikan bentang alam Los Angeles terbaka ,” kata Hugh Safford, seorang ahli ekologi kebakaran di Universitas California, Davis, yang juga direktur regional Consorsium California Fire Science seperti dikutip Guardian.
Bara api yang diterbangkan angin tadi akhirnya mendarat di atap-atap kayu rumah, yang segera mengubah bencana kebakaran hutan menjadi bencana kebakaran dari satu rumah ke rumah lainnya. Ini terjadi baik di Eaton, maupun Palisades.
As President Trump shakes hands with brave firefighters from the Los Angeles Fire Department, one of them says “Thank you for saving America, Mr. President” ❤️🇺🇸 pic.twitter.com/dvyhijpWAR
— Karoline Leavitt (@PressSec) January 25, 2025
Menjamurnya Perumahan, Jadi ‘Bahan Bakar’ Kebakaran
Bicara kebakaran di hampir menjadi pristiwa rutin Los Angeles, sejarawan lingkungan di Pomona College, Char Miller menyoroti menjamurnya hunian di perbukitan sekitar Los Angeles. Selama ini hunian di perbukitan Los Angeles menawarkan privilege bagi penghuninya berupa pemandangan yang indah ke arah lembah, lingkungan hijau, serta dekat dengan jalur pendakian yang amat disukai para pegiat alam bebas.
Menjamurnya perumahan yang menawarkan sejumlah privilege tadi, dibarengi dengan pengembangan jaringan kelistrikan dengan kabel-kabel menjuntai melintasi hutan, plus mobil-mobil para pemilik hunian, dikatakan oleh Miller sebagai bahan-bahan yang siap menjadi pemicu kebakaran di setiap musim kering melanda California.
Sejumlah foto yang menggambarkan Richard Nixon tengah menyirami atap rumah kayunya saat kawasan Bel Air mengalami kebakaran, sejatinya telah menumbuhkan kesadaran baru bahwa kebakaran di Los Angeles membutuhkan penanganan spesifik.
Sayangnya pertumbuhan kawasan hunian di pinggiran hutan terus berlanjut. Bagi Miller, in bukan soal ketidakberdayaan pemerintah, tapi soal mengalirnya uang di kawasan Los Angeles lewat menjamurnya hunian-hunian yang langsung berhadapan dengan hutan.
“Para politisi lokal dari kedua partai terus menandatangani kontrak pembangunan rumah baru di zona kebakaran, perusahaan pembiayaan pun ikut berperan menyiapkan pembiayaan, sementara perusahaan asuransi telah menyiapkan polis untuk mengasuransikan rumah tersebut sampai sekarang,” kata Miller dikutip Guardian.
“Ini benar-benar soal modal (uang), bukan pemerintah,” imbuhnya. Perusahaan asuransi terus menyetujui pengajuan polis kebakaran “Karena, setidaknya hingga saat ini berdasarkan perhitungan mereka, masih akan ada keuntungan jika rumah-rumah tersebut terbakar,” sergah Miller.
Baca Juga
Kebakaran Hutan di Los Angeles, Rumah Selebritas dan Bintang Hollywood Ludes Terbakar
Di sisi lain para politisi juga menilai menggeliatnya sektor properti di Los Angeles telah ikut berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi negara bagian. Sektor perumahan bahkan dianggap sebagai etalase sebuah pertumbuhan ekonomi, dan ini telah berlangsung sejak Perang Dunia II berakhir.
Setidaknya sejak tahun 1990, lebih dari 1,4 juta unit rumah baru dibangun di California, di kawasan yang berbatasan dengan habitat satwa liar. Para peneliti di University of Wisconsin, Madison telah memperingatkan otoritas kota Los Angeles bahwa kecenderungan pengembangan kawasan hunian di wilayah antarmuka habitat liar dan perkotaan ini menyimpan risiko kebakaran yang tinggi.
Pada tahun 2020, ditemukan lebih dari 5 juta unit rumah di wilayah ini di seluruh negara bagian. Sementara itu di tahun 2024 sebuah perusahaan data real estat mengidentifikasi hampir 250.000 rumah punya risiko kebakaran hutan di level sedang atau besar.
Sebelumnya di tahun 1988, legislator California memberlakukan peraturan yang memperketat perusahaan asuransi menaikkan tarif premi. Alhasil dengan premi yang terus rendah, mendorong lebih banyak warga California untuk tinggal di wilayah yang paling berbahaya di negara bagian tersebut.
Sejatinya langkah untuk menghentikan pembangunan hunian di wilayah berisiko tinggi di kawasan pinggiran hutan telah dilakukan. Setidaknya hal ini telah dilakukan Henry Stern, seorang senator negara bagian yang rumahnya terbakar pada kebakaran Woolsey tahun 2018. Ia berulang kali mencoba meloloskan undang-undang yang membatasi pembangunan perumahan di wilayah paling rawan kebakaran. Tapi sayang, langkahnya tak didukung para koleganya.
“Banyak sekali penentangnya. Sehingga setiap ke arah sana belum bisa berhasil,” kata Stephanie Pincetl, direktur California Center for Sustainable Communities di University of California, Los Angeles. Lobi para pengembang sangat kuat, kata Pincetl. Sejauh ini kerap muncul tekanan dari para pengembang agar pemerintah daerah memberi lampu hijau pada proyek-proyek hunian, di tengah backlog perumahan yang telah berlangsung selama beberapa dekade di seluruh negara bagian.
Hunian Murah di Pinggiran Hutan
Krisis perumahan yang terjadi di California terdengar begitu mengenaskan di Amerika Serikat, sebuah ironi antara pertumbuhan ekonomi dan minimnya rumah dengan harga terjangkau. Situasi ini akhirnya menciptakan tekanan politik untuk menggelar pembangunan hunian sebanyak-banyaknya. Nah, walaupun hunian di kawasan berisiko tinggi kebakaran hutan merupakan “real estat termahal di dunia”, namun bagian lain dari kawasan perbatasan hutan ini menawarkan cara bagi keluarga pekerja atau berpendapatan rendah untuk mendapatkan rumah dengan biaya minim.
Disampaikan Miriam Greenberg, sosiolog di Universitas California, Santa Cruz, tinggal di daerah perkotaan yang padat memang lebih aman dari kebakaran dan bahaya iklim lainnya. Tapi perumahan di kawasan perkotaan tak bisa dijangkau banyak orang. Akibatnya banyak dari mereka pindah ke daerah yang mampu mereka beli, di bagian lain dari kawasan yang berbatasan dengan hutan Los Angeles.
Bahkan setelah rumah mereka terbakar, tetap saja mereka tak punya pilihan untuk keluar dari kawasan itu. Seperti diduga, mahalnya biaya sewa di kawasan perkotaan lah yang mencegah mereka ‘turun’ dan tinggal di kota.
Senada dengan Miriam, sejarawan Mike Davis dalam bukunya “The Case for Letting Malibu Burn” menggambarkan bahwa masyarakat sejatinya memahami betapa berbahayanya jika mereka tetap bertahan tinggal di “pinggiran” Los Angeles. Namun berulang kali peristiwa kebakara terjadi, berulang kali pula masyarakat membangun ulang hunian mereka yang terbakar, di tempat yang sama.
Begitulah, kenyataannya biaya sosial untuk keselamatan di pesisir Malibu dan Laguna, serta ratusan kawasan mewah lainnya di kawasan pinggiran kota, di puncak bukit, merupakan komponen biaya yang tinggi. Namun sayangnya biaya sosial ini tak pernah menjadi isu yang mengemuka, dibandingkan isu kesejahteraan dan imigrasi.
Dan, tak dianggap sebuah ironi, etika Wali Kota Los Angeles, Karen Bass, dan Gubernur negara bagian California, Gavin Newsom selalu berjanji membantu warga untuk membangun kembali rumah mereka yang terbakar, secepat mungkin. Keduanya juga termasuk dalam kelompok yang ikut menangguhkan undang-undang lingkungan hidup dan pengetatan persyaratan perizinan pembangunan hunian.
Dengan risiko kebakaran hutan yang menjadi bagian dari sejarah kawasan ini, serta keberadaan rumah dan lingkungan di kawasan ini, pertanyaannya adalah apakah Los Angeles bisa lebih siap menghadapinya?
Ring Footage from a home during the Eaton Fires in California shows how embers traveling ahead of the fire help it easily spread rapidly as time goes on 👀 pic.twitter.com/B37hBHiLA5
— ryan 🤿 (@scubaryan_) January 17, 2025
Haruskah pemadam kebakaran LA menempatkan lebih banyak unit di daerah berisiko tinggi sebelum terjadinya angin berbahaya? Haruskah walikota meningkatkan anggaran pemadam kebakaran pada rapat anggaran sebelumnya? Haruskah wali kota menunda perjalanannya ke luar negeri karena mengetahui ada risiko tinggi terjadinya kebakaran di hari-hari mendatang?
Beberapa ahli menyebut perselisihan politik soal perubahan anggaran pemadam kebakaran Los Angeles yang relatif kecil, sebagai isu yang tidak tepat sasaran: “Anda pikir penambahan 100 petugas pemadam kebakaran akan membuat perbedaan, dan 50 truk pemadam kebakaran lagi? Di ‘neraka’ itu? Yang bener aja,” kata Pincetl.
Satu hal lagi, perdebatan politik lokal nyaris tak pernah menyentuh kesiapan lembaga pemerintah untuk menghadapi tantangan besar akibat krisis iklim.
Baca Juga
Bantu Korban Kebakaran di Los Angeles, Selebritas Hollywood ‘Bongkar Isi Lemari’
Ada problem lainnya yang tapaknya luput dari perhatian, yakni rendahnya bayaran para petugas pemadam kebakaran federal. Tak heran banyak yang meninggalkan profesi ini, justru ketika terjadi kebakaran Eaton di Altadena.
Sistem pengairan perkotaan di Pacific Palisades juga disebut-sebut tidak dilengkapi dengan peralatan memadai untuk memadamkan kobaran api yang begitu hebat. Para ahli mengatakan bahwa sistem air perkotaan mana pun di AS kemungkinan besar juga akan gagal jika harus menghadapi kebakaran serupa di Eaton dan Palisade. Karena sistem tersebut dibangun hanya untuk menangani kebakaran skala kecil.
“
Saya tidak yakin tingkat kesiapsiagaan dari sisi pengairan dapat menghentikan kebakaran,” kata peneliti perairan UCLA, Dr Gregory Pierce melalui email keda Guardian. Sistem yang ada dirancang hanya untuk “menyelamatkan bangunan, dan bukan gunung”, katanya. “Mereka kewalahan karena sistem yang ada tidak dibangun untuk mengatasi kebakaran hutan, dan ini adalah kebakaran hutan yang sangat cepat dan ganas.”
Hal ini dibenarkan oleh David Torgerson, Kepala Eksekutif Wildfire Defense Companies, perusahaan yang melakukan pencegahan dan respons kerugian akibat kebakaran hutan bagi perusahaan asuransi. “Kebakaran telah membesar begitu cepat, tidak ada yang bisa mengimbanginya hanya dengan menambahkan orang dan mesin.”
Ia menyebut solusi akhir terhadap seluruh masalah ini bukanlah upaya mengendalikan api, namun hidup berdampingan dengan api. Torgeson mengemukakan, pendekatannya adalah merancang bangunan dan lingkungan yang dapat bertahan dan aman meskipun ada risiko kebakaran, dengan menggunakan standar konstruksi dan teknik yang dirancang khusus. (Dari berbagai sumber)

