Memupuk Asa Potensi IHSG Tembus ATH di Tahun 2025
JAKARTA, investortrust.id – Hampir selama 20 tahun terakhir, IHSG selalu mencatatkan penguatan sepanjang bulan Desember. Kecuali pada tahun 2022, juga pada Desember 2024 pun, IHSG mencatatkan pelemahan mendalam.
Setelah mencatatkan rekor kenaikan sepanjang masa atau all time high (ATH) pada level 7.910 pada bulan September 2024, IHSG terus mengalami penurunan, hingga terkontraksi 130,63 poin (1,84%) ke level 6.977,23 pada Kamis lalu (19/12/2024).
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatatkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga akhir November 2024 mengalami pelemahan sebesar 6,07% secara bulanan atau month to date (mtd) ke level 7.114.
Sedangkan secara year to date (ytd) melemah sebanyak 2,18%, dengan nilai kapitalisasi pasar tercatat Rp12 ribu triliun atau turun 5,48 % mtd dan naik sebesar 2,87% secara ytd.
Lebih lanjut net sell hingga November 2024 tercatat sebesar Rp16,81 triliun mtd, sementara secara year to date tercatat net buy sebesar Rp21,56 triliun.
Baca Juga
Beri Angin Segar, IHSG Naik ke Posisi 7.079 di Penutupan Perdagangan 2024
Apabila melihat tren historikal selama 20 tahun kebelakang, indeks harga saham gabungan (IHSG) pada akhir tahun kerap mencatatkan perbaikan, kecuali pada tahun 2022. Sehingga, potensi adanya perbaikan kinerja IHSG masih terbuka lebar.
Kinclongnya kinerja IHSG memang tak terlepas dari aksi window dressing yang nyaris selalu terjadi pada akhir tahun selama 20 tahun terakhir, kecuali pada tahun 2022. Pada tahun ini, beberapa analis pun menyebut sebagai tahun tanpa window dressing seperti halnya pada tahun 2022, akibat sejumlah sentimen negatif yang menyebabkan pelemahan IHSG, khususnya pada saham big banks yang kerap menjadi saham pilihan untuk window dressing.
Sekadar informasi, window dressing bertujuan untuk meningkatkan kinerja portofolio secara keseluruhan pada saat periode pelaporan. Manajer investasi akan mengubah komposisi portofolionya dengan menjual saham yang telah melaporkan kerugian besar dan menggantinya dengan membeli saham yang diprediksi dapat menghasilkan keuntungan dalam jangka waktu pendek sehingga pada penutupan tahun kinerja portofolionya terlihat baik.
Fenomena ini dilakukan oleh hampir seluruh manajer investasi di seluruh dunia. Secara tidak langsung hal ini menyebabkan kenaikan harga pada saham-saham unggulan di pasar modal sehingga pada akhir tahun pun indeks harga saham umumnya akan bergerak naik secara signifikan.
Dan sejatinya, pasar saham Indonesia pun memiliki kemungkinan yang cukup tinggi untuk menikmati efek window dressing pada penghujung tahun 2024.
“Berdasarkan data historis kinerja pasar saham Indonesia, memiliki probabilitas yang tinggi untuk mengalami kenaikan di bulan Desember,” ujar Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori Fajar Dwi Alfian saat dihubungi investortrust.id, Selasa (17/12/2024).
Baca Juga
Menjemput 'Bonus' Window Dressing, Menyongsong Presiden Baru
Kendati demikian, beberapa sekuritas menyatakan bahwa saat ini IHSG masih berpotensi melemah disebabkan oleh saratnya sentimen positif. Infovesta Kapital Advisori menilai, sentimen global yang kurang suportif di antaranya berupa kenaikan indeks dollar AS dan yield obligasi AS yang juga menyebabkan asing terus mencatatkan net sell, sehingga menekan kinerja saham-saham domestik.
Namun, ia meyakini bahwa peluang masih terbuka lebar, terutama pascapengumuman suku bunga BI dan juga The Fed yang akan merilis proyeksi suku bunga di tahun depan, yang diharapkan akan membawa sentimen positif bagi investor.
Hal yang sama juga dituturkan oleh Deputy Presiden Director Samuel Sekuritas Suria Dharma yang mengatakan bahwa sejumlah sentimen seperti melemahnya rupiah menyebabkan keluarnya dana asing yang cukup besar. Akibatnya, ia memprediksi bahwa Bank Indonesia masih belum akan memangkas BI rate.
la mencermati bahwa kondisi market hingga saat ini masih belum cukup bagus, setidaknya tampak pada sejumlah saham-saham perbankan yang masih mengalami tekanan aksi jual. Hal ini semakin menekan potensi window dressing di akhir tahun 2024. Kendati The fed menurunkan tingkat suku bunga di akhir tahun 2024.
Pilarmas Investindo Sekuritas mencermati bahwa pelemahan IHSG juga masih sejalan dengan laju bursa Asia. Indonesia sebagai emerging market memang masih mengandalkan pergerakan pasarnya dari perdagangan dengan mitra dagang terbesar, yaitu China. Jika China mengalami pelemahan, maka pelemahan ekspor pun akan dialamim oleh Indonesia.
“Maka sejauh mana kita bisa mendorong konsumsi domestik untuk mampu bertahan. Dan sejauh mana kita mampu mempercepat hilirisasi. Di tengah kondisi geopolitik saat ini (sebenarnya perekonomian) Indonesia masih cukup baik,” ungkap Nico saat dihubungi investortrust.id, Rabu (18/12/2024)
Optimistis IHSG Kembali Menguat di 2025
Pilarmas Investindo Sekuritas memproyeksi di tahun Ular Kayu, IHSG dapat kembali menyentuh level 7.740 - 7.920. Menurutnya, kemenangan Trump dapat memberikan dampak yang cukup baik bagi kondisi pasar. Sektor keuangan, consumer non cyclical, consumer cyclical, energi, dan properti dinilai masih cukup menarik untuk dimiliki oleh investor.
“Walaupun pemangkasan BI rate tahun depan cukup terbatas, namun masih tetap akan turun. Kita yakin properti masih cukup baik, karena rumah merupakan kebutuhan utama. Sementara energi khususnya energi terbarukan kami yakin memiliki prospek yang baik walaupun harganya masih turun, namun dengan dukungan oleh kebijakan pemerintah akan EV akan meningkatkan ekosistem EV di Indonesia,” terangnya.
Baca Juga
BEI Naikkan Tarif PPN Transaksi Saham Jadi 12% Mulai 1 Januari 2025
Sementara Infovesta meyakini bahwa IHSG dapat tumbuh 7,66% di 2025 seiring dengan ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed dan kebijakan pro pertumbuhan dari Presiden Prabowo. Menurutnya, sejumlah sektor yang dapat dicermati adalah sektor konsumer primer, energi, dan perbankan.
Sementara itu, NH Korindo Sekuritas memproyeksi bahwa indeks harga saham gabungan (IHSG) tahun 2025 mampu mencapai level 7.800-8.100. Sama halnya dengan Infovesta, NH Korindo sepakat bahwa sentimen yang dinilai mampu mendorong pergerakan IHSG adalah peluang pemangkasan suku bunga The Fed dan BI Rate yang saat ini masih berada di 6%.
“Jadi tahun 2025, suku bunga the Fed yang saat ini berada di 5,0% ini akan berada di sekitar 3,0- 3,5%,” ujar Head of Research NH Korindo Sekuritas Liza Camelia Suryanata dalam Market Outlook 2025 di kantor NH Korindo, Jakarta, Rabu (18/12/2024).
Liza mengatakan, apabila ada potensi pemangkasan suku bunga dari Bank Indonesia, maka hal tersebut dapat mendongkrak pasar saham Indonesia, khususnya pada sektor perbankan.
Lebih lanjut, Liza mengatakan bahwa IHSG saat ini masih tertekan, yang terlihat dari net sell asing juga cukup deras.
“Minimnya sentimen positif yang ada di market, akhirnya membuat IHSG harus dibuang lagi asing seperti ini, dan juga pasar lain yang terbilang lebih seksi, seperti Vietnam, India, China, kalau mereka rajin memberikan stimulus yang sedikit mengangkat stock market mereka, yang secara PE ratio, valuasi itu jauh lebih murah daripada Indonesia,” paparnya.
Ia pun menyarankan investor untuk wait and see sambil mencermati keadaan pasar.
Harapan Pelaku Pasar
Untuk mendukung pasar saham Indonesia kembali bergairah, Infovesta Kapital Advisori meminta regulator untuk dapat memberikan aturan yang jelas dan sifatnya yang lebih pro investor domestik, utamanya pada penerapan GCG. Harapannya akan lahir trust pada investor baik dari luar maupun dalam negeri.
Sejalan dengan hal tersebut, Pengamat pasar modal Teguh Hidayat memandang saat ini sejumlah program dan kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah kurang memberikan sentimen positif bagi pasar modal Indonesia. Contohnya, penerapan pajak pertambahan nilai (PPN) yang dinaikkan menjadi 12% tahun 2025.
“Itu kan jelas sentimen yang sangat-sangat negatif. Harga-harga bakal naik, ya kinerja perusahaan bakal bertekan,” ujar Teguh saat dihubungi investortrust, baru-baru ini.
Lebih lanjut, pemerintah Indonesia juga dinilai kurang memberikan perhatian pada pasar saham Indonesia. Di samping itu, ia juga menilai banyaknya IPO dari perusahaan yang kinerjanya kurang baik serta adanya penerapan kebijakan full call auction (FCA) akan merugikan investor.
Tak hanya itu, investor Indonesia juga dapat berpotensi keluar dari pasar saham dan lebih memilih untuk masuk ke jenis investasi lain yang lebih menguntungkan. Salah satunya adalah kripto, logam mulia, hingga Surat Berharga Negara (SBN).
“Ketika mereka tahu bahwa memang di pasar modal kita dibiarkan, mau turun sedalam apa biarin aja. Mereka juga tidak akan ke sini lagi. Mereka akan pindah ke instrumen investasi lain yang lebih baik. Banyak. Jadi pada pindah ke Singapura, China, Jepang,” jelasnya.
Teguh berharap, sejumlah kebijakan yang berpotensi melahirkan sentimen negatif bagi pasar saham dapat dikaji ulang. Apabila kebijakan yang dinilai merugikan tetap diberlakukan, akan membuat pasar saham Indonesia semakin anjlok dan menimbulkan larinya investor asing.
“Nah, tapi kalau dari sudut pandang investor asing yang sebenarnya mereka juga banyak berinvestasi di pasar modal kita, mereka tidak melihat ada peluang. Rupiah melemah terus. Kebijakan pemerintah seperti kenaikan pajak dianggap sangat tidak bersahabat dengan iklim investasi,” ungkapnya.
Kendati demikian, Teguh mencermati, setelah tren pelemahan IHSG terjadi hingga akhir tahun 2024, maka diprediksi IHSG akan mengalami rebound sebagai imbas dari penurunan yang sangat dalam.
Ia mengaku optimistis memandang tahun 2025. Diyakininya IHSG akan kembali meningkat, mengingat adanya sentimen positif seperti pembagian dividen dari sejumlah emiten. Selain itu, terdapat sejumlah sentimen positif yang juga dinilai dapat menaikkan kembali IHSG seperti adanya kebijakan yang dapat mengimbangi dampak negatif dari kenaikan PPN 12% tahun depan.
“Jadi tergantung pemerintah. Biasanya pemerintah memang nggak akan meluncurkan satu kebijakan saja tapi akan ada kebijakan penyimbangnya. Kenaikan UMP juga bisa jadi sentimen positif ya. Dan mungkin ada lagi berita yang lain misal asing masuk lagi karena udah lihat saham-saham kita murah. Dan itu bisa muncul nanti bulan Januari nanti,” paparnya.
Dalam kesempatan berbeda, Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffrey Hendrik mengatakan bahwa tren pelemahan IHSG saat ini merupakan refleksi permintaan dan penawaran di pasar. “Fungsi kami adalah menyelenggarakan perdagangan yang teratur, wajar dan efisien,” jelasnya saat dihubungi investortrust.id, beberapa waktu lalu.
Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa Bursa Efek Indonesia selalu berupaya untuk meningkatkan likuiditas dengan terus melakukan pendalaman pasar baik dari sisi demand maupun supply.
Hal ini terbukti pada tahun 2024 rata rata nilai transaksi harian di Bursa mencapai 12,8 triliun rupiah per hari. Angka ini meningkat dari 11,75 triliun dari tahun sebelumnya.
Dari sisi demand, tahun 2024 telah diwarnai penambahan 2,6 juta investor pasar modal sehingga tercatat ada 14,7 investor. Sedangkan dari sisi supply selain penambahan perusahaan tercatat, BEI juga senantiasa menambah instrumen yang dapat dipilih oleh investor seperti ETF, waran terstruktur dan Single Stock Future.
Jeffrey memaparkan, BEI juga akan memberikan izin anggota bursa (AB) yang akan berpartisipasi dalam short selling dan penambahan indeks asing sebagai underlying produk derivatif. “Semoga dapat memberikan alternatif bagi investor untuk mengoptimalkan keuntungan,” pungkasnya. (CR-4)

