Menjemput 'Bonus' Window Dressing, Menyongsong Presiden Baru
Oleh Cheril Tanuwijaya,
Head of Research at Investasiku
(Mega Capital Sekuritas)
INVESTORTRUST.ID – Tanpa terasa kita telah memasuki bulan Oktober, awal dari kuartal IV menjelang akhir tahun 2024. Bagi para pekerja kantoran, akhir tahun bisa jadi momen yang ditunggu-tunggu, karena ada pembagian bonus dari perusahaan tempat bekerja. Ternyata, tidak hanya pekerja kantoran, para trader di pasar saham turut menanti bonus tahunan yang diperoleh dari fenomena window dressing.
Window dressing adalah fenomena yang terjadi pada akhir tahun, yang ditandai kenaikan harga saham akibat upaya emiten 'mempercantik' laporan keuangan perusahaan maupun manajer investasi 'mempercantik' portofolio investasinya. Cara-cara yang ditempuh emiten bisa melalui strategi pencatatan hak dan kewajiban secara akuntansi. Sedangkan manajer investasi dapat menggunakan strategi menjual posisi yang dianggap tidak menguntungkan, ke saham-saham yang sedang trending nan prospektif.
Berdasarkan data historis 10 tahun terakhir, triwulan IV merupakan kuartal dengan return terbesar seiring lonjakan indeks harga saham gabungan (IHSG), dibanding kuartal-kuartal lainnya dengan rerata return 5,22% per kuartal. Dalam 10 tahun terakhir, hanya ditemukan 2 kali IHSG mencatatkan kinerja negatif pada kuartal IV, yaitu di tahun 2016 dan 2022.
Kenaikan IHSG di kuartal IV terbesar terjadi pada 2020, mencapai 22,77%. Sebaliknya, koreksi terbesar IHSG di kuartal ini terjadi tahun 2022 sebesar 2,70%.
Melalui data tersebut, dapat dipahami jika kuartal IV menjadi masa favorit para trader dan investor, untuk melakukan transaksi. Tak mengherankan, jika nilai dan volume transaksi turut meningkat di kuartal ini.
Kinerja 2024
Lantas, bagaimana kinerja IHSG di tahun 2024? Sejak awal tahun hingga penutupan 18 Oktober 2024 di level 7.760, IHSG telah menguat sebesar 6,70%.
Namun, pada semester I 2024, kinerja IHSG year to date justru sempat -2,5%. Namun, seketika memasuki bulan Juli, IHSG berangsur menguat bahkan mencetak rekor tertinggi baru pada September di level 7.900.
Di awal tahun, IHSG tertekan oleh berbagai sentimen negatif dari global, terkait ketidakpastian penurunan suku bunga The Fed, konflik geopolitik di Timur Tengah, dan perlambatan ekonomi Tiongkok. Terlebih di dalam negeri, di paruh pertama diadakan Pemilu Nasional, yang membuat pelaku pasar menanti sosok dan kebijakan pemimpin baru.
Di paruh kedua tahun 2024, kinerja IHSG berpotensi besar akan lebih cerah. Kami memproyeksikan hingga akhir tahun IHSG berpotensi menyentuh rekor tertinggi baru, di level 8.000.
Beberapa sentimen yang mendukung keyakinan kami yaitu dimulainya tren pemangkasan suku bunga yang memacu pertumbuhan ekonomi, serta berlanjutnya arus modal asing ke dalam negeri. Selain itu, pelemahan USD yang mendukung penguatan harga komoditas.
Sementara dari dalam negeri, pelantikan pemerintahan baru pada 20 Oktober dan penyusunan menteri di kabinet baru (21 Oktober) menjadi sentimen utama penguatan IHSG. Pasalnya, kabinet baru yang akan dipimpin Presiden Terpilih Prabowo Subianto tersebut menargetkan pertumbuhan ekonomi yang ambisius di level 8%. Target ini didukung berbagai terobosan kebijakan baru, namun juga masih akan melanjutkan program pembangunan yang telah dirintis pemerintahan sebelumnya.
Apalagi, 16 calon menteri yang dipanggil berasal dari Kabinet Indonesia Maju, sehingga mempercepat masa adaptasi dan tidak banyak perubahan kebijakan. Kabinet pemerintahan baru juga akan membuat kementerian lebih banyak (44-54 menteri) dibanding sebelumnya, sehingga semakin banyak pihak dirangkul ke pemerintahan.
Baca Juga
Pasar saham Indonesia bersikap netral, tak peduli siapa sosok pemimpin terpilih. Asalkan situasi politik kondusif dan damai, maka bursa saham akan rally, seperti yang terjadi pada kondisi saat ini.
Pasalnya, satu pekan menjelang pelantikan presiden baru, IHSG menguat 3,18% sepekan. Investor asing pun tidak ingin ketinggalan momentum, sepekan terakhir, melakukan akumulasi net buy di seluruh pasar sebesar Rp 841,20 miliar dan secara ytd akumulasi net buy telah mencapai Rp 44,24 triliun.
Secara sektoral, sektor yang terkait dengan program kerja 100 hari pemerintahan baru kompak menguat. Sektor-sektor tersebut yaitu makanan minuman, properti, peternakan, konstruksi, kesehatan, tambang mineral, dan tentunya perbankan. Bahkan saham-saham yang terkait kepemilikan atau berkorelasi dengan calon menteri yang dipanggil menghadap presiden terpilih tiba-tiba menguat signifikan.
Namun para trader dan investor khususnya yang pemula perlu berhati-hati pada volatilitas yang tinggi, pada saham-saham terkait calon menteri. Sebab bisa saja calon menteri yang dipanggil namun tidak jadi menjabat sebagai menteri, sehingga harga saham yang terkait dengan cepat bisa berbalik arah. Untuk meminimalisasi risiko, perlu memahami juga profil perusahaan dan kondisi fundamental emiten.
Partisipasi
Lalu, bagaimana pelaku pasar bisa berpartisipasi pada moment window dressing dengan nuansa peralihan pemerintahan baru? Fenomena penguatan harga saham ini terjadi dalam jangka pendek, dengan target keuntungan di bulan Desember atau paling lambat Januari awal tahun depan.
Pelaku pasar yang cocok berpartisipasi dalam momen ini datang dari kalangan trader, baik yang harian maupun swing trader. investor yang memiliki jangka waktu panjang, hingga tahunan, tidak terlalu terpengaruh atas fenomena window dressing.
Agar tidak tertinggal momentum penguatan harga saham, sebaiknya trader mulai mengakumulasi saham sejak saat ini. Jika baru mulai mengkoleksi saham di bulan Desember, riskan harga sudah naik terlalu tinggi, kecuali ada rotasi sektor.
Pertanyaan berikutnya, saham apa yang lantas cocok dikoleksi untuk menyambut window dressing? Ada beberapa kriteria dari sahamyang berpotensi menguat hingga akhir tahun, diantaranya: sektor yang dalam beberapa waktu terakhir baru saja berbalik arah dari melemah lantas jadi menguat, didukung sentimen kebijakan pemerintahan baru, punya prospek bisnis yang cerah di masa depan, dan sehat secara fundamental.
Beberapa contoh sektor tersebut yaitu subsektor makanan dan minuman, properti, bahan baku mineral, dan perbankan. Sektor-sektor yang tidak sedang memiliki sentimen biasanya cenderung konsolidasi bahkan melemah, karena pelaku pasar akan mengalihkan uangnya ke sektor yang punya sentimen sejalan dengan kondisi yang ada.
Selain itu, hindari pula sektor/saham-saham yang memiliki sentimen namun hanya sesaat. Ini karena seketika sentimennya reda, maka harga saham akan turun signifikan.
Baca Juga
Sepekan Asing Jual Neto Rp 1,09 Triliun di Pasar Keuangan, Apa Sebab?
Langkah terakhir yang perlu dilakukan trader dalam menjemput bonus akhir tahun melalui fenomena window dressing adalah melakukan penjualan atau profit taking. Target harga bisa disesuaikan sejak awal transaksi, berdasarkan persentase laba/batas kerugian atau bisa juga berdasarkan batas waktu dengan estimasi pertengahan bulan Desember hingga pertengahan Januari mendatang.
Namun, jika tidak menentukan target harga atau waktu penjualan, bisa saja ‘realisasi bonus’ dari window dressing tahun ini baru dipanen di tahun mendatang. Mungkin, juga beserta bunga dividennya.😊

