BTN (BBTN) Harap Hunian Vertikal Jadi Solusi Selesaikan Masalah Perumahan di Perkotaan
Poin Penting
|
BANDUNG, investortrust.id - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN (BBTN) mendorong pembangunan hunian vertikal (vertical housing) sebagai solusi utama untuk mengatasi persoalan perumahan di wilayah perkotaan yang semakin kompleks, terutama akibat keterbatasan lahan dan tingginya urbanisasi.
Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu mengungkapkan, konsep hunian vertikal menjadi keniscayaan di kota-kota besar seperti Jakarta, di mana harga tanah terus meningkat sementara jumlah penduduk terus bertambah.
“Kita mesti realistis juga, tanah sudah sangat mahal. Karena jakarta tidak bertambah, penduduknya yang datang nambah, yang di dalamnya (Jakarta) juga nambah karena ada keluarga, nikah dan segala macam, tapi jumlah tanahnya tidak bertambah. Sehingga, perumahan di Jakarta sama seperti di kota besar lainnya, memang sudah harus vertical housing,” ujarnya, dalam acara Intimate Session with Media Partners, di Bandung, Jawa Barat, Kamis (9/4/2026).
Baca Juga
BTN (BBTN) Dorong Sistem Database Nasional untuk Atasi Backlog Perumahan
Menurut Nixon, hunian vertikal akan lebih diminati jika terintegrasi dengan transportasi publik. Pengalaman BTN menunjukkan bahwa proyek apartemen atau rumah susun yang dekat dengan akses transportasi publik memiliki tingkat penyerapan yang jauh lebih baik dibandingkan yang berada di lokasi terpencil.
“Vertical housing yang tak laku, memang yang terlalu jauh. Karena menurut mereka boros, kena dua kali. Sudah tidak dapat tanah, masih banyak transportasi jauh masih banyak masyarakat yang kesal,” katanya.
Selain itu, Nixon menekankan pentingnya standar kelayakan hunian, termasuk luas minimum per orang. Ia menilai banyak hunian vertikal di Indonesia masih terlalu kecil dibandingkan dengan negara lain.
“Kalau kita lihat apartemen di negara-negara lain kan tidak sekecil kita, itu yang juga menurut saya membuat orang lebih sejahtera. Kan ada minimum square meter per orang,” ucapnya.
Baca Juga
Salurkan 6 Juta KPR Senilai Rp 530 Triliun, BTN (BBTN) Perkuat Ekosistem Perumahan Nasional
“Jadi harapan kita vertical housing ini jalan, ekspektasi BTN. Karena ini menyelesaikan persoalan perumahan di perkotaan, karena itu yang paling besar persoalannya,” sambung Nixon.
BTN, kata dia, juga mengusulkan sejumlah kebijakan kepada pemerintah untuk memperkuat sektor perumahan. Salah satunya adalah optimalisasi program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) melalui skema bundling dengan pembayaran mikro berbasis Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP).
“Itu usulan kita ke pemerintah, mengatasi persoalan layak huninya. Jadi yang dulu dibangun-bangun swadaya itu kalau kita ingin perbaiki layak huninya ada bantuan tapi juga supaya nilainya lebih maksimal tambahin lagi pakai FLPP katakanlah limit Rp 25 juta - Rp 30 juta sehingga layak huninya terpenuhi,” ujar Nixon.
Sementara itu, Direktur Consumer Banking BTN Hirwandi Gafar menekankan pentingnya kebijakan pemerintah dalam menentukan arah pengembangan perumahan, khususnya terkait zonasi antara hunian tapak dan vertikal.
Ia juga menyoroti kebijakan perlindungan lahan sawah, seperti lahan sawah dilindungi (LSD) dan Lahan Baku Sawah (LBS) yang akan semakin membatasi ketersediaan lahan untuk perumahan.
“Kalau ini dijalankan secara konsisten atas perintah Pak Presiden, maka tentunya strategi perumahan harus segera mengarah ke sana. Kita tidak bisa lagi untuk misalnya menggunakan LBS ataupun LSD untuk rumah. Artinya lahan sudah sangat sempit, sudah sangat kecil untuk perumahan, mau tidak mau harus ke atas,” kata Hirwandi.

