Pelemahan Rupiah Beri Tekanan ke Stabilitas Harga Pangan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Dosen Sosial Ekonomi Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) Hani Perwitasari menyebut gejolak nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dapat memberi tekanan ke stabilitas harga pangan nasional. Salah satu pengaruh nilai tukar rupiah ini terhadap komoditas pangan impor.
“Fluktuasi nilai tukar ini akan berpengaruh terhadap stabilitas harga pangan, bervariasi bisa sampai 2%-8% tergantung jenis makanan,” kata Hani, dikutip dari laman resmi UGM, Senin (30/3/2026).
Hani menjelaskan kerentanan pelemahan rupiah berbeda antarkomoditas pangan. Hani menjelaskan, produk yang sulit disubstitusi dan memiliki ketergantungan tinggi pada pasokan tertentu cenderung lebih sensitif terhadap perubahan kurs.
Dalam kondisi seperti ini, tekanan biaya dapat lebih cepat diteruskan ke harga jual. Dampak tersebut kemudian dirasakan langsung masyarakat melalui kenaikan harga pangan sehari-hari.
“Komoditas yang paling rentan seperti daging, telur, susu yang memang sulit untuk disubstitusi, maka dia akan lebih rentan terhadap dampak dari pelemahan rupiah,” ujar dia.
Ketergantungan ini membuat sistem pangan lebih rentan terhadap gejolak eksternal, termasuk fluktuasi nilai tukar. Semakin besar porsi impor, semakin tinggi pula risiko tekanan terhadap harga domestik. “Semakin tinggi impornya, maka ini akan sangat rentan terhadap gejolak kurs yang ada,” kata dia.
Selain memengaruhi harga pangan secara langsung, pelemahan rupiah juga berdampak pada biaya produksi di sektor pertanian dan peternakan. Menurutnya, sejumlah input produksi masih terkait dengan pasar global sehingga sensitif terhadap perubahan nilai tukar.
Baca Juga
Kenaikan biaya input pada akhirnya akan meningkatkan total biaya produksi yang harus ditanggung pelaku usaha. Kondisi ini berpotensi mendorong penyesuaian harga di tingkat produsen hingga konsumen.
“Nilai tukar akan mempengaruhi biaya produksi, terutama ketika barang-barang produksi ini merupakan barang tradable, sehingga harganya akan naik dan total biayanya meningkat,” ujar dia.
Dalam jangka pendek, langkah pengendalian harga menjadi penting untuk meredam dampak pelemahan rupiah. Hani mengatakan pemerintah perlu memastikan ketersediaan data yang akurat terkait produksi dan kebutuhan pangan nasional
“Kalau kurang ya perlu impor, kalau tidak kurang ya tidak perlu impor, sehingga kebijakan bisa diambil dengan lebih tepat,” tuturnya.
Upaya jangka pendek tersebut perlu diiringi strategi jangka panjang untuk memperkuat produksi pangan domestik. Hani menambahkan dukungan terhadap petani menjadi kunci agar kapasitas produksi dapat meningkat secara berkelanjutan.
Akses terhadap pembiayaan, subsidi input seperti pupuk dan benih, serta perlindungan melalui asuransi pertanian perlu diperkuat. Stabilitas harga di tingkat petani juga penting agar kegiatan produksi tetap menarik secara ekonomi.
“Peran seluruh pihak termasuk konsumen juga penting, karena memilih produk dalam negeri akan mendorong penguatan produksi pangan nasional,” kata dia.

