Rupiah Melemah Jelang Presiden Gelar Economic Outlook
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Jumat (13/2/2026). Rupiah terdepresiasi terhadap dolar AS jelang Presiden Prabowo Subianto dan para menteri-menteri ekonomi menggelar Indonesia Economic Outlook (IEO) 2026.
Rupiah turun 0,06% terdorong ke Rp 16.836 per US$ pada Jumat (13/2/2026) pukul 09.58 WIB. Indeks dolar AS atau DXY bergerak naik ke posisi 96,94.
Tak hanya rupiah yang terdesak. Dolar AS menguat terhadap yen Jepang (0,28%), yuan China (0,06%), won Korea Selatan (0,12%), baht Tailan (0,05%), dolar Singapura (0,06%), dan ringgit Malaysia (0,08%).
Baca Juga
Sementara itu, rupee India dan peso Filipina terapresiasi terhadap dolar AS, masing-masing 0,12% dan 0,04%.
Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro menjelaskan bahwa imbal hasil US Treasury 10 tahun turun ke bawah 4,17% pada Kamis (12/2/2026), setelah sempat naik hingga 4,2% pada sesi sebelumnya.
Kondisi ini terjadi seiring investor mencermati data pasar tenaga kerja terbaru yang meredam ekspektasi pemangkasan suku bunga the Fed. Laporan ketenagakerjaan yang dirilis kemarin menunjukkan penambahan 130.000 lapangan kerja pada Januari, lebih kuat dari perkiraan.
Baca Juga
DXY Turun tapi Rupiah Belum Menguat, BI Sebut Volatilitas Global Masih Tinggi
Andry juga mencermati penurunan tingkat pengangguran, di tengah revisi turun yang tajam pada data sebelumnya. Sementara itu, klaim pengangguran awal tercatat di atas proyeksi.
Pelaku pasar kini menanti rilis data CPI besok untuk petunjuk lanjutan mengenai arah tekanan harga. Pasar saat ini memperkirakan The Fed akan menahan suku bunga pada Maret, dengan dua kali pemangkasan suku bunga diproyeksikan terjadi tahun ini, masing-masing pada Juni dan September.
Klaim pengangguran awal AS turun tipis 5.000 menjadi 227.000 pada pembacaan pertama Februari, lebih tinggi dari ekspektasi pasar sebesar 222.000, dan masih mendekati level tertinggi delapan minggu dari angka periode sebelumnya yang direvisi naik.
Secara konsisten, klaim pengangguran naik 21.000 menjadi 1.862.000 pada Januari, setelah sebelumnya sempat turun ke level terendah sejak September 2024 di pertengahan bulan.
Kenaikan ini masih dikaitkan dengan gangguan aktivitas bisnis akibat rangkaian badai musim dingin di berbagai wilayah negara tersebut, yang mendorong rumah tangga mengajukan tunjangan pengangguran. Klaim awal yang diajukan pegawai federal, yang menjadi sorotan pasar dalam mengukur dampak penutupan pemerintah AS, naik 47 menjadi 615.

