Meski Laba Himbara Turun, OJK Pastikan Intermediasi Perbankan Tetap Stabil
JAKARTA, investortrust.id – Meskil aba bersih bank-bank anggota Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) tercatat turun hingga kuartal III-2025, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan kinerja intermediasi perbankan masih stabil dengan pertumbuhan kredit dan likuiditas yang tetap terjaga.
Berdasarkan data OJK yang diolah DataTrust, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) kompak mencatat penyusutan laba bersih dan penurunan return on asset (ROA) pada periode tersebut. Laba bersih BRI turun 9,5% yoy menjadi Rp 41,77 triliun. Laba bersih BNI turun 7,31% yoy menjadi Rp 15,11 triliun. Bank Mandiri mencatat penurunan laba bersih 10,2% yoy menjadi Rp 37,73 triliun.
Baca Juga
OJK Jelaskan Alasan Bunga Deposito Valas Bank Bisa Tembus 4%
Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar menyampaikan bahwa secara umum kinerja Himbara tetap baik, salah satunya didukung oleh penempatan dana pemerintah sekitar Rp 200 triliun pada September lalu.
“Kinerja Himbara dalam kondisi baik. Hal ini ditunjukkan dengan peningkatan kredit dan likuiditas yang terjaga,” ujar Mahendra dalam Konferensi Pers Hasil Rapat Berkala KSSK IV Tahun 2025 di Bank Indonesia, Senin (3/11/2025).
Tak hanya intermediasi, dia mengatakan, penyaluran kredit bank Himbara mencapai 8,62% yoy menjadi Rp 3.829 triliun. Angka tersebut menunjukkan pertumbuhan lebih kuat, dibanding pertumbuhan kredit perbankan nasional yang mencapai 7,7% yoy.
Sementara dari sisi Dana Pihak Ketiga (DPK), Himbara mencatat pertumbuhan 12,89%, juga melampaui pertumbuhan DPK industri sebesar 11,18%. Mahendra menegaskan, implementasi penempatan likuiditas pemerintah tersebut terus dipantau untuk menjaga stabilitas sistem keuangan.
Baca Juga
HSG Cetak Rekor Tertinggi Kemarin, Tren Penguatan Diprediksi Berlanjut hingga Akhir Tahun
OJK menilai stabilitas sektor jasa keuangan tetap kuat di tengah ketidakpastian ekonomi global. Pertumbuhan kredit perbankan nasional mencapai 7,7% yoy menjadi Rp 8.192 triliun hingga September 2025. Pertumbuhan didorong oleh kredit investasi tumbuh 15,18% yoy, kredit konsumsi tumbuh 7,42% yoy, dan kredit modal kerja tumbuh 3,37% yoy.
Kualitas kredit juga terjaga dengan rasio NPL gross 2,24% dan NPL net 0,87%, sementara loan at risk stabil di 9,14% yoy. Dari sisi pendanaan, DPK tumbuh 11,18% menjadi Rp 9.695 triliun dengan kenaikan giro naik 14,58%, tabungan naik 6,45%, serta deposito naik 12,37%
Ketahanan perbankan tercermin dari capital adequacy ratio (CAR) pada level 26,15%, serta LDR sebesar 84,19%. Sementara rasio alat likuid terhadap non-core deposit (ALNCD) mencapai 130,47% dan alat likuid terhadap DPK sebesar 29,3%, jauh di atas ambang batas. “Profil risiko terjaga, permodalan kuat, dan likuiditas memadai,” pungkas Mahendra.
Grafik Saham Bank Himbara

