Investortrust Gelar Goes To Campus "Kripto Untuk Mahasiswa: Melek Ilmu Cuan Mengalir" di Binus University
Poin Penting
| ● | Literasi Keuangan & Kripto Jadi Prioritas untuk Generasi Muda. |
| ● | Industri Kripto Tumbuh Signifikan, tapi Risiko Juga Meningkat. |
| ● | Kripto Dipandang Sebagai Infrastruktur Baru & Peluang Ekonomi. |
JAKARTA, investortrust.id– PT Pintu Kemana Saja (Pintu) bekerjasama dengan PT Investortrust Indonesia Sejahtera (Investortrust.id) menggelar Investortrust Goes To Campus bertajuk "Kripto Untuk Mahasiswa: Melek Ilmu Cuan Mengalir" di Binus University, Jakarta, Rabu (3/12/2025).
Dalam kesempatan tersebut, Wakil Pemimpin Redaksi Investortrust.id Abdul Aziz menyoroti pentingnya memperkuat literasi keuangan di kalangan mahasiswa sebagai garda terdepan menghadapi maraknya fraud keuangan di Indonesia.
Aziz menjelaskan, kesenjangan antara literasi keuangan (66,46%) dan inklusi keuangan (80,51%) masih terlalu lebar. Menurut Aziz, gap inilah yang menjadi ruang bagi berbagai ancaman seperti pinjol ilegal, investasi bodong, hingga judi online.
"Semakin tinggi gap literasi dengan inklusi, semakin besar peluang masyarakat terjerumus dalam fraud keuangan," ujar Aziz.
Data Indonesia Anti-Scam Center mencatat betapa seriusnya ancaman tersebut, yakni 323.841 laporan penipuan keuangan masuk hanya dalam setahun, dengan kerugian mencapai Rp 7,5 triliun. Aziz menekankan bahwa generasi muda harus menjadi bagian dari solusi.
"Gap ini harus terus kita kikis. Tidak harus hilang sepenuhnya, tapi makin kecil gap-nya, makin terlindungi masyarakat kita," tegasnya.
Baca Juga
Memanfaatkan Kripto untuk Mencapai Target Pertumbuhan Ekonomi 8%
Sementara itu, Kepala Direktorat Perizinan dan Pengendalian Kualitas Pengawasan Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital dan Aset Kripto Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Catur Karyanto Pilih menyatakan bahwa minat masyarakat terhadap aset kripto kian meningkat. Berdasarkan data terbaru, nilai transaksi aset kripto mencapai Rp 409,56 triliun pada Oktober tahun ini.
Tidak hanya nilai transaksi, jumlah konsumen aset kripto juga meningkat. Berdasarkan data, jumlah konsumen aset kripto mencapai 19,08 juta orang pada Oktober, meningkat dari 18 juta orang pada bulan sebelumnya.
Menurut Catur, meningkatnya jumlah konsumen ini menunjukkan bahwa aset kripto semakin populer di kalangan masyarakat. "Dan ini mencerminkan antusiasme yang cukup tinggi terhadap bentuk investasi baru yang berbasis teknologi blockchain," ungkap Catur.
Namun, di balik potensi manfaat aset kripto tersebut, Catur membeberkan bahwa terdapat risiko yang tidak bisa diabaikan, seperti volatilitas harga yang sangat tinggi, marak penipuan berkedok investasi kripto, dan potensi penyalahgunaan aset kripto untuk kejahatan.
"Dan juga yang perlu menjadi perhatian kita adalah terkait dengan potensi penyalahgunaan aset kripto tersebut, baik untuk kejahatan seperti pencucian uang atau ini juga menjadi tantangan serius," ungkap Catur.
Literasi Hal Mutlak
Sejalan dengan hal tersebut, Catur menuturkan bahwa literasi digital dan keuangan menjadi syarat mutlak bagi masyarakat yang ingin terjun ke dalam dunia aset kripto. Dengan memiliki literasi yang baik, masyarakat dapat memahami teknologi secara baik dan aman, serta membuat keputusan investasi yang lebih bijak.
Literasi keuangan digital merupakan suatu bentuk pemberdayaan (empowering) masyarakat di era digital. Menurut Catur, semakin tinggi tingkat literasi digital, maka semakin besar kemampuan masyarakat dalam mengenali risiko. Kemudian, masyarakat dapat mengambil keputusan dan langkah yang tepat dalam menggunakan layanan keuangan digital, dan masyarakat juga dapat mengambil keputusan investasi yang lebih cerdas dan sifatnya jangka panjang.
Catur menambahkan, inisiatif OJK untuk meningkatkan literasi keuangan digital ini salah satunya adalah menyusun dan mensosialisasikan modul terkait inisiatif literasi keuangan digital bagi masyarakat. Selain itu, terdapat juga Buku Saku Pengaturan dan Pengawasan Aset Keuangan Digital dan Aset Kripto, Kuliah Umum Digital Financial Literacy yang telah terlaksana 15 kali di 15 kota, serta Bulan Literasi Kripto.
Dalam kesempatan yang sama, Chief Marketing Officer (CMO) - Marketing & Community PT Pintu Kemana Saja (Pintu) Timothius Martin menyatakan bahwa perekonomian global memiliki pengaruh signifikan terhadap harga kripto, terutama perekonomian negara-negara besar seperti China, India, dan Amerika Serikat (AS).
"Kripto pada dasarnya adalah salah satu aset yang sifatnya global. Jadi, suka atau tidak suka, pergerakan dari aset global itu dipengaruhi oleh perekonomian terbesar di dunia, ada China, India, AS," kata Timothius.
Timothius menjelaskan, pergerakan aset kripto sangat dipengaruhi kondisi ekonomi global, khususnya kebijakan moneter AS. Menurut Timothius, meskipun banyak negara memiliki peran dalam ekonomi dunia, suku bunga AS adalah faktor paling menentukan.
Dinamika kripto termasuk Bitcoin tidak bisa dilepaskan dari kebijakan dan peristiwa ekonomi yang terjadi di AS. Penurunan suku bunga The Fed disebutnya sebagai salah satu momentum yang sering memicu pergerakan harga kripto.
Baca Juga
Minat Masyarakat Terhadap Aset Kripto Naik Terus, OJK Tekankan Pentingnya Literasi Digital
Dalam gelaran ini, turut hadir Pegiat Kripto Sulianto Indria Putra atau yang akrab disapa Suli. Ia membagikan tips dan pengalamannya dalam berinvestasi kripto. Suli mengungkapkan, pergerakan pasar kripto tidak pernah ditentukan oleh satu faktor tunggal. Menurutnya, dinamika harga Bitcoin dan aset digital lainnya merupakan hasil dari berbagai variabel ekonomi global yang saling berkaitan.
"Jadi Bitcoin naik itu bukan gara-gara satu faktor saja. Banyak sekali faktornya," ujar Suli.
Suli mencontohkan bagaimana People's Bank of China mampu menggerakkan harga emas dunia hingga naik 50% hanya melalui aktivitas pembelian besar-besaran. Hal ini menggambarkan bahwa pasar global selalu digerakkan oleh berbagai kekuatan, bukan satu penyebab saja.
"Jadi kalau dicek tuh faktornya banyak. Dan kalian bisa cek di Google. Namanya itu NFCI," katanya.
Genjot Perekonomian
Sementara itu, Direktur Eksekutif Institute For Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti membeberkan bahwa kripto dapat menjadi peluang bagi generasi muda untuk meningkatkan investasi dan tabungan.
"Kenapa sih kripto ini penting gitu kan. Nah kripto ini penting karena yang pertama ya sudah ada mulai investasi, mulai nabung ya kan. Berarti kita sungguh sangat gembira. Karena negara yang maju itu misalnya tingkat investasi dan tingkat tabungannya itu besar gitu ya," ujar Esther.
Esther menjelaskan, di Indonesia, masih banyak masyarakat yang belum memiliki akses ke layanan keuangan formal, sehingga kripto dapat menjadi salah satu alternatif untuk meningkatkan inklusi keuangan. Terlebih, sekitar 80% masyarakat Indonesia masih unbankable.
Lebih lanjut, Esther menyebut, pentingnya kripto juga terletak pada kemampuannya meningkatkan tingkat tabungan dan investasi, yang kemudian dapat mendorong pertumbuhan ekonomi. Dalam teori ekonomi, investasi dan tabungan yang tinggi dapat meningkatkan produk domestik bruto (PDB) dan pada akhirnya mendorong pertumbuhan ekonomi.
Dengan demikian, Esther mengharapkan dengan banyaknya orang yang menabung dan berinvestasi, terutama di bidang kripto, dapat membantu mencapai target pertumbuhan ekonomi yang tinggi, seperti yang dicanangkan oleh Presiden Prabowo sebesar 8%. Ini menunjukkan bahwa partisipasi aktif masyarakat dalam investasi dan tabungan dapat berperan penting dalam mencapai tujuan ekonomi nasional.
Adapun Dosen Binus University Hugo Prasetyo menuturkan, aset kripto dan teknologi blockchain bukan lagi sekadar tren spekulatif, melainkan telah menjadi infrastruktur baru. Menurutnya, sangat krusial bagi institusi pendidikan untuk memastikan mahasiswa memahami transisi ini secara mendalam, bukan hanya di permukaan. Hugo menekankan bahwa literasi keuangan digital adalah fondasi penting bagi generasi muda di era ekonomi digital.
"Kenapa literasi itu sangat penting? Ada tiga hal. Teman-teman mesti tahu ya. Yang pertama adalah pemahaman kritis. Di dalam teknologi yang kita tahu blockchain itu adalah dari istilah block dan chain," terang Hugo.
Hugo menjelaskan, pemahaman kritis terhadap blockchain sangat diperlukan untuk mengembangkan teknologi ini lebih lanjut. Menurut Hugo, blockchain bukan hanya terkait dengan mata uang kripto, tetapi juga dapat digunakan dalam berbagai industri, seperti rumah sakit.
Contoh penggunaan blockchain di rumah sakit adalah dalam sistem rekam medis. Dengan menggunakan blockchain, informasi dapat disimpan dan diintegrasikan dengan lebih efektif, sehingga mengurangi biaya dan meningkatkan efisiensi.
Student Support Office Manager Binus University Kemanggisan Rahmat Ilahi pun mengapresiasi gelaran literasi kripto kali ini. Menurut Rahmat, banyak informasi dan wawasan yang diberikan dari para narasumber yang hadir kepada para mahasiswa Binus University atau sering dikenal juga sebagai Binusian.
"Mudah-mudahan pertemuan ini memberikan banyak manfaat buat kita dan teman-teman Binusian siap menjadi inovator. Siap menjadi orang-orang yang siap mengembangkan dirinya terkait finansial literasi," pungkas Rahmat.

