Pembiayaan SME BSI Tumbuh 12,2% Jadi Rp 22,94 Triliun di Kuartal III 2025
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Seiring dengan komitmen dalam mendorong peran usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) sebagai tulang punggung ekonomi nasional, PT Bank Syariah Indonesia Tbk atau BSI (BRIS) terus menggenjot pembiayaan di segmen small medium enterprise (SME).
Direktur Retail Banking BSI Kemas Erwan Husainy mengungkapkan, hal tersebut telah tercermin dari pertumbuhan pembiayaan di segmen SME sebesar 12,20% secara year on year (yoy) menjadi Rp 22,94 triliun di kuartal III 2025.
“Segmen ini (SME) merupakan segmen yang menjadi jembatan dari segmen mikro menuju segmen bisnis korporasi,” ujarnya, dalam keterangan pers, Selasa (4/11/2025).
Baca Juga
Menurut Erwan, pihaknya terus berupaya untuk berkontribusi aktif dalam pengembangan UMKM naik kelas hingga mapan. Mulai dari pendampingan, pelatihan kapabilitas dan kapasitas, penyediaan akses digital untuk pengembangan usaha, serta memfasilitasi business matching sehingga bisa menembus pasar internasional.
“Pertumbuhan bisnis BSI yang melesat juga didorong adanya peran besar dari segmen SME yang menjadi grassroot pertumbuhan ekonomi nasional,” katanya.
Pengembangan segmen SME yang sehat, lanjut Erwan, menjadi tantangan tersendiri bagi BSI khususnya dari sisi peningkatan kapasitas nasabah maupun pengembangan usahanya. Oleh karena itu, bank berkode saham BRIS ini memiliki strategi akselerasi segmen non bankable, mikro, hingga SME.
“Yakni melalui pemetaan usaha potensial, manajemen risiko yang tepat dan pengelolaan sektor-sektor produktif yang berkembang,” ucapnya.
Baca Juga
BSI Perkuat Edukasi Kepemilikan Emas Lewat Aplikasi Digital kepada Anak Muda
Erwan menjelaskan, dari total pembiayaan di segmen SME tersebut masih didominasi sektor pertanian, perdagangan, pendidikan, dan kesehatan. Untuk menggenjot pertumbuhan segmen SME, saat ini BSI fokus pada pembiayaan modal kerja dan investasi, mulai dari Rp 500 juta sampai dengan Rp 25 miliar.
“Terutama juga ekspansif dan agresif pada ekosistem value chain dari bisnis eksisting yang juga meningkat 88,04% (yoy),” kata Erwan.

