IHSG Cetak Rekor Tertinggi Kemarin, Tren Penguatan Diprediksi Berlanjut hingga Akhir Tahun
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali mencetak rekor penutupan tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) pada perdagangan, Senin (3/11/2025), menembus level 8.282,16. Momentum penguatan ini diperkirakan masih berlanjut dengan potensi menuju kisaran 8.350–8.450 hingga akhir tahun.
Founder Republik Investor sekaligus analis pasar modal Hendra Wardana menyatakan bahwa peluang kenaikan IHSG dapat semakin terbuka apabila tren net buy investor asing terus berlanjut serta dampak MSCI effect memberikan tekanan positif pada pasar saham domestik.
Baca Juga
Danantara Pastikan Proyek Sampah Jadi Listrik Tidak Ganggu Pasokan Batu Bara
“Bukan tidak mungkin IHSG akan kembali mencetak rekor baru menjelang akhir tahun, dengan target teknikal di kisaran 8.350–8.450,” ujarnya kepada investortrust.id di Jakarta, Senin (4/11/2025).
Hendra memaparkan bahwa penguatan IHSG dipengaruhi oleh kombinasi sentimen, yaitu euforia rebalancing indeks MSCI, optimisme kinerja emiten kuartal IV-2025, dan tren masuknya kembali dana asing secara agresif.
Baca Juga
Dua Sekuritas Pasang Rekomendasi Beli Kalbe Farma (KLBF), Peluang Cuan Segini
Investor asing tercatat melakukan net buy Rp 999 miliar di pasar reguler hari ini. Sejak awal November, akumulasi pembelian asing telah mencapai lebih dari Rp 4 triliun. Pasar disebut mulai mengantisipasi potensi masuknya saham-saham besar seperti BREN, BRMS, ANTM, MDKA, dan EMTK ke dalam indeks MSCI. Sementara itu, saham defensif seperti KLBF dan ICBP dinilai berisiko terdepak karena faktor free float terbatas.
“Dengan demikian, kenaikan IHSG hari ini tidak semata teknikal, tetapi mencerminkan rotasi portofolio global yang kembali berpihak ke Indonesia,” kata Hendra. Penguatan didukung beberapa saham yang menopang penguatan IHSG antara lain BREN, BBCA, BMRI, ANTM, dan ASII.
Tantangan ke Depan
Meski sentimen masih positif, IHSG tetap berpotensi menghadapi volatilitas menjelang penerapan metodologi baru MSCI terkait perhitungan free float pada Januari 2026. “Jika pendekatan konservatif MSCI digunakan, porsi beberapa saham besar Indonesia dapat berkurang sehingga berpotensi memicu capital outflow,” jelasnya.
Baca Juga
Archi (ARCI) Ditargetkan Produksi 150 Koz Emas Tahun Depan, Sahamnya Dipertahankan Beli
Selain itu, faktor global seperti arah kebijakan The Fed yang belum pasti, pergerakan rupiah di kisaran Rp 16.200 per USD, rencana kenaikan PPN menjadi 12% tahun depan, diperkirakan menjadi tantangan lanjutan bagi keberlanjutan tren bullish IHSG.
Terkait saham pilihan, Hendra merekomendasikan saham dengan peluang lanjutkan penguatan, yaitu ADRO dengan target harga Rp 2.100, PGAS target harga Rp 1.860, ELSA target harga Rp 600, dan SCMA target harga Rp 420.

