Dari Domain ke Kripto, Komdigi Ungkap Evolusi Judol yang Sulit Diblokir
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Upaya pemberantasan judi online (judol) terus dilakukan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), namun kencangnya perkembangan inovasi teknologi dari para pelaku membuat langkah penindakan tak semudah membalikan telapak tangan.
Direktur Pengawasan Sertifikasi dan Transaksi Elektronik Komdigi Teguh Arifiyadi mengungkapkan, perkembangannya sudah semakin masif. Bahkan, para pelaku judol sudah beralih dari sekadar situs berbasis domain hingga ke sistem pembayaran berbasis kripto.
“Kalau dulu cukup dengan memblokir domain seperti slot.com. Sekarang mereka sudah pakai IP address, pakai gambar bukan teks, ubah keyword jadi simbol, bahkan pembayaran pun sekarang lewat kripto,” ujarnya, di Jakarta, Selasa (5/8/2025).
Baca Juga
Teguh menjelaskan, sepanjang 2017 hingga 2023, pihaknya hanya melakukan pemblokiran terhadap sekitar 800.000 situs terkait judol. Namun, sejak 2023 hingga hari ini, jumlah pemblokiran melonjak drastis menjadi lebih dari 6,8 juta situs.
Menurutnya, ada dua kemungkinan penyebab kenaikan tersebut. Pertama, intervensi pemerintah pada periode sebelumnya belum maksimal. Kedua, ledakan jumlah situs dan aplikasi judol yang semakin tidak terkendali.
“Peningkatan masif itu di rentang antara 2023 sampai 2025. Artinya, kombinasi antara intervensi pemerintah yang dulunya kurang, ditambah jumlah situs ataupun aplikasi judol yang meningkat, itu mengakibatkan peningkatan jumlah situs ataupun website yang kita blokir,” kata Teguh.
Baca Juga
Lebih jauh, pelaku judol juga menyembunyikan data rekening. Jika dulu nomor rekening untuk deposit bisa ditemukan di halaman awal situs, kini hanya bisa diakses setelah pengguna bermain dan hendak melakukan pembayaran atau penarikan dana.
Sampai, lanjut Teguh, Komdigi harus memaksa tim untuk benar-benar menyamar sebagai pemain demi mendapatkan data rekening untuk kemudian dilaporkan.
“Akhirnya tim kami yang melakukan patroli, mau tidak mau kami main untuk mendapatkan rekening deposit pertama kali. Ketika kami main, kami, kami dapat nomor rekening deposit, tapi rekening itu hanya rekening awal. Rekening utamanya adalah rekening case out. Ketika kami menang dan kami tarik, berarti kami harus main dulu,” ucap dia.
”Dan sayangnya kadang ada yang menginformasikan jika sejumlah rekening dari pihak Komdigi terindikasi judol, dan kami dapat warning. Makanya setiap tim kami yang melakukan patroli dan ketahuan kami menggunakan rekening asli, kami buat surat pernyataan bahwa ini dalam rangka pekerjaan,” sambung Teguh.
Ia tak menampik jika perkembangan teknologi dari para pelaku judol jauh lebih cepat ketimbang kapasitas pemerintah dalam melakukan pemblokiran. Oleh karena itu, dia menyatakan bahwa filter terbaik bukanlah sistem, tapi kesadaran dan ketahanan masyarakat sendiri. Ia juga mendorong agar literasi digital dimulai sejak dini, bahkan masuk ke dalam kurikulum pendidikan formal.
“Selama pemain (judol) ada, tidak akan pernah bisa hilang. Sehingga harapannya di masa depan yang terbangun adalah resilience. Ketika anak-anak kita melihat iklan judol, mereka akan skip, karena yang terbangun adalah resilience, bukan ancaman soal pidana dan bahaya,” ujar Teguh.

