Didorong Hal Ini, Kredit SMBC Indonesia (BTPN) Naik 5% Jadi Rp 185,04 Triliun per Juni 2025
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - PT Bank SMBC Indonesia Tbk (BTPN) mencatat pertumbuhan kredit sebesar 5% secara year on year (yoy) menjadi Rp 185,04 triliun per Juni 2025. Peningkatan ini ditopang oleh pertumbuhan kredit di segmen ritel, meski di tengah tantangan ketidakpastian ekonomi global dan tingginya suku bunga.
Direktur Utama SMBC Indonesia Henoch Munandar mengungkapkan, pencapaian tersebut menunjukkan ketahanan bisnis pihaknya di tengah kondisi pasar yang dinamis dalam beberapa waktu terakhir, baik dari dalam maupun luar negeri.
“Pencapaian pada semester I 2025 memberikan motivasi lebih bagi kami untuk menjalani paruh kedua tahun ini dengan terus fokus pada kualitas kinerja operasional yang konsisten, pengelolaan risiko yang bijak, dan integrasi bisnis yang efektif,” ujarnya, dalam keterangan pers, Rabu (30/7/2025).
Baca Juga
Bank SMBC Indonesia Resmi Jadi Perusahaan Induk Konglomerasi Keuangan
Henoch menjelaskan, kontribusi utama pertumbuhan total kredit SMBC Indonesia berasal dari segmen ritel yang meningkat 25% (yoy). Jika di breakdown, kontribusi joint finance naik signifikan 156% (yoy), diikuti oleh segmen mikro 21% (yoy), Jenius (di luar digital micro) 15% (yoy), serta kontribusi Grup OTO sebesar 7% (yoy).
Sementara itu, kredit korporasi dan komersial naik 4% (yoy), meskipun kredit usaha kecil dan menengah (UKM) mengalami penurunan 2% (yoy).
Menurut Henoch, kinerja positif ini turut disokong oleh akuisisi Grup OTO, yakni PT Oto Multiartha (OTO) dan PT Summit Oto Finance (SOF), yang secara penuh dikonsolidasikan dalam laporan keuangan Januari-Juni 2025. Sebelumnya, laba rugi Grup OTO hanya dihitung mulai April 2024, sementara neraca telah dikonsolidasikan sejak Maret 2024.
Secara keseluruhan, SMBC Indonesia membukukan pendapatan operasional sebesar Rp 9,1 triliun atau tumbuh 11% (yoy). Pendapatan bunga bersih pun meningkat 15% (yoy) menjadi Rp 8 triliun, didukung oleh penyaluran kredit, aset likuid, serta kontribusi Grup OTO.
Margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) pun naik ke level 7,1% per Juni 2025, dari 6,4% pada periode yang sama 2024. “SMBC Indonesia senantiasa berupaya untuk menjaga NIM di tengah persaingan bunga atas kredit yang diberikan, cost of fund serta volatilitas pasar,” kata Henoch.
Baca Juga
Michellina Laksmi Triwardhany Appointed Deputy President Director of SMBC Indonesia
Meski begitu, biaya kredit SMBC Indonesia melonjak 52% (yoy) menjadi Rp 2,6 triliun, terutama karena pencadangan kredit pada segmen korporasi dan joint finance. Kondisi ini turut menekan laba bersih konsolidasi menjadi Rp 1 triliun per Juni 2025, turun 19% dibandingkan periode yang sama 2024.
“SMBC Indonesia senantiasa berkomitmen untuk tetap menjalankan manajemen risiko kredit yang prudent dan proaktif di tengah ekspansi kredit, termasuk penyediaan cadangan yang memadai untuk menjaga kualitas aset secara berkelanjutan,” ucap Henoch.
Dari sisi penghimpunan dana, bank berkode saham BTPN ini mencatatkan penurunan dana pihak ketiga (DPK) sebesar 8% (yoy) menjadi Rp 109,8 triliun. Hal ini disebabkan dana murah atau current account and saving account (CASA) yang menurun 9% (yoy) menjadi Rp 43,7 triliun, serta penurunan deposito 7% (yoy) menjadi Rp 66,1 triliun per Juni 2025.
Di lain sisi, anak usaha SMBC Indonesia yaitu PT Bank BTPN Syariah Tbk (BTPS) turut mendukung kinerja perseroan secara konglomerasi, dengan menorehkan pertumbuhan laba bersih Rp 644 miliar di semester I 2025, tumbuh 16,6% (yoy).

