Rupiah di Pasar Spot dan Jisdor Menguat
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Nilai tukar (kurs) rupiah pada perdagangan Kamis (10/7/2025) menguat terhadap dolar AS, baik di pasar spot maupun di Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI).
Berdasarkan Jisdor BI, mata uang Garuda menguat 34 poin (0,20%) ke level Rp 16.220 per dolar AS. Sedangkan di pasar spot antarabank Jakarta, menurut data Bloomberg, rupiah terapresiasi 33 poin (0,21%) ke level Rp 16.224 per dolar AS.
Pergerakan mata uang NKRI terhadap dolar AS antara lain dipengaruhi isu tarif resiprokal dan arah perkembangan suku bunga The Fed, Fed funds rate (FFR).
Baca Juga
Rupiah Menguat di Tengah Drama Tarif Trump, Pasar Bingung tetapi Optimistis
Risalah rapat Federal Reserve bulan Juni mengungkapkan, sebagian besar petinggi The Fed memperkirakan penurunan suku bunga lebih tepat dilakukan akhir tahun ini. Alasannya, tekanan inflasi mereda, ekonomi berpotensi melemah, dan pasar tenaga kerja melandai.
Beberapa anggota mendukung kemungkinan penurunan suku bunga pada pertemuan berikutnya, sedangkan yang lain tidak melihat perlunya perubahan kebijakan pada 2025.
"Para pembuat kebijakan umumnya memandang inflasi yang berkaitan dengan kebijakan tarif cenderung bersifat sementara atau terbatas. Mereka yakin ekspektasi inflasi tetap terjaga dengan baik," kata pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi di Jakarta, Kamis (10/7/2025).
Sementara itu, Presiden Trump pada Rabu (9/7/2025) mengumumkan tarif 50% untuk impor tembaga, efektif berlaku sejak 1 Agustus. Trump mengklaim langkah tersebut bertujuan mendorong industri tembaga dalam negeri. Sebelumnya, Donald Trump juga mengumumkan bahwa tarif timbal balik untuk Brasil akan naik menjadi 50% dari 10%.
Trump memperingatkan bahwa setiap tarif baru akan dibalas dengan tindakan balasan. Trump telah mulai mengirimkan surat tarif kepada mitra dagang utama minggu ini. Bea masuk dikenakan sebesar 25% terhadap barang-barang dari Korea Selatan dan Jepang.
Baca Juga
Gubernur BI Sepakati Asumsi Nilai Tukar Rupiah 2026 di Rp 16.500 hingga Rp 16.900 per US$
Meskipun ancaman tarif baru-baru ini berdampak terbatas pada pasar yang lebih luas, para pelaku pasar tetap waspada terhadap potensi eskalasi perdagangan di masa mendatang.
"Fokus pasar hari ini hanyalah angka klaim pengangguran mingguan di AS dan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 30 tahun, serta data consumer price index (CPI) bulanan Jerman yang akan dirilis nanti malam," jelas Ibrahim.

