Perbankan Hadapi Tantangan Likuiditas, Bukan Kredit
JAKARTA, investortrust.id - Industri perbankan nasional tengah menghadapi tantangan serius dalam kompetisi perebutan likuiditas yang ketat. Chief Economist PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, Andry Asmoro, menyebut bahwa tekanan terhadap perolehan Dana Pihak Ketiga (DPK) semakin meningkat seiring pelemahan daya beli masyarakat, pergeseran preferensi investasi rumah tangga, dan perebutan likuiditas dengan instrumen investasi lainnya.
“Saya selalu sampaikan baik di internal (Bank Mandiri) dan juga ke beberapa teman-teman di regulator bahwa tantangan perbankan bukan dari sisi pertumbuhan kredit. Tapi likuiditas. When we talk about the banking sectors, it's always be liquidity, liquidity, and liquidity,” tegas Andry dalam Podcast Road to Investortrust Best Bank 2025, Kamis (12/6/2025).
Menurut dia, satu tantangan dalam perebutan dana pihak ketiga (DPK) bagi perbankan adalah adanya fenomena 'makan tabungan' atau mantab. Fenomena tersebut, kata dia, terjadi akibat menurunnya pendapatan rumah tangga yang dipicu oleh pemutusan hubungan kerja (PHK) dan menurunnya pendapatan masyarakat. Hal ini tercermin pada penurunan penempatan dana sektor rumah tangga di perbankan sejak 2023.
Di sisi lain, dana masyarakat banyak dialihkan ke instrumen investasi alternatif seperti emas dan kripto. “Banyak yang beli emas, banyak yang sewa safe deposit box, dan juga diversifikasi aset ke tempat lain. Ini membuat likuiditas bank menjadi terbatas,” ungkapnya.
Bank akhirnya mengejar DPK yang berasal dari korporasi. Sayangnya, ujar Andry, jumlah korporasi di Indonesia relatif tidak bertambah banyak dalam 10-20 terakhir alias hanya yang itu-itu juga. Kompetisi perebutan dana di korporasi itu sangat tinggi. Inilah salah satu penyebab mengapa transmisi kebijakan penurunan suku bunga yang sudah dilakukan Bank Indonesia berjalan lambat.
Andry menjelaskan, jika masalah likuiditas ini tidak segera teratasi, tantangan bagi perbankan berikutnya tentu tidak bisa menyalurkan kredit secara optimal. Menurutnya, perbankan harus memastikan terlebih dahulu bahwa dana tersedia sebelum mendorong pertumbuhan kredit.
Ia menekankan bahwa meskipun pertumbuhan kredit tahun ini tetap ada, kemampuannya sangat bergantung pada strategi perolehan likuiditas.
Baca Juga
Chief Economist Mandiri: Volatilitas Tinggi Berlangsung Hingga 2026
Digitalisasi Jadi Kunci
Dalam menghadapi tantangan tersebut, Andry menekankan pentingnya efisiensi operasional serta diversifikasi sumber pendapatan. Salah satu strategi utama adalah meningkatkan kontribusi pendapatan berbasis komisi (fee-based income) melalui digitalisasi layanan.
“Digitalisasi adalah kunci. Bank Mandiri sudah investasi sejak 2021 untuk mendukung pertumbuhan transaksi. Ke depan, transaksi adalah pendorong utama profitabilitas,” ujarnya.
Ia mengakui saat ini penurunan margin bunga bersih (Net Interest Margin/NIM) sulit dihindari oleh perbankan. Namun, strategi efisiensi dan penguatan bisnis diharapkan dapat memperlambat penurunan tersebut. Perbankan juga diharapkan mampu memanfaatkan potensi pasar domestik dengan membaca secara detail data sektoral dan regional.
“Tidak cukup hanya melihat data makro atau nasional. Kami di Mandiri bahkan menganalisis hingga level kabupaten/kota agar bisa men-tapping potensi bisnis lebih akurat,” jelasnya.
Andry menambahkan bahwa kesiapan sektor perbankan Indonesia dalam menghadapi situasi ini tidak terlepas dari pengalaman krisis sebelumnya seperti 1998, 2008, dan pandemi Covid-19.
“Kita sudah belajar dari banyak episode. Kini kita lebih siap dalam mitigasi risiko dan pengambilan keputusan strategis,” katanya.
Menutup pernyataannya, Andry optimistis bahwa melalui inovasi digital dan strategi adaptif, industri perbankan nasional tetap mampu bertahan dan tumbuh meski dalam kondisi ekonomi global yang tidak menentu.
Baca Juga

