NPL dan Likuiditas Disebut Jadi Tantangan Utama Industri Perbankan Saat Ini
JAKARTA, investortrust.id - Industri perbankan tengah menghadapi berbagai tantangan yang berasal dari domestik maupun global. Senior Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI), Moch Amin Nurdin mengungkapkan, setidaknya ada dua tantangan utama yang dihadapi perbankan saat ini.
“Kalau saya melihat tantangan perbankan saat ini ada dua besarannya, dari sisi NPL (non performing loan) dan likuiditas,” ujarnya, saat dihubungi investortrust.id, Rabu (10/7/2024).
Seperti diketahui, meski permodalan perbankan nasional saat ini terpantau kuat dengan rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) yang terbilang tinggi, tantangan terkait likuiditas dan kemampuan bank dalam menjaga NPL menjadi perhatian bersama.
“Jadi yang mesti dipikirkan bagaimana kemudian bank bisa menjaga likuiditasnya dengan baik melalui berbagai macam cara. Karena saat ini cost of fund tinggi dan NIM (net interest margin) tergerus,” kata Amin.
Baca Juga
Pengamat Beberkan Sejumlah Tantangan Utama Perbankan Nasional di Tahun 2024
Di lain sisi, lanjut Amin, dengan usulan pemerintah untuk memperpanjang kebijakan relaksasi restrukturisasi kredit Covid-19, mungkin saja dapat menjaga tingkat NPL perbankan di level yang rendah.
Sebagai informasi, merujuk data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Mei 2024, tingkat kredit macet atau NPL gross bank umum berada di level 2,34%, naik tipis dibanding April 2024 yaitu 2,33%. Namun capaian ini lebih baik jika dikomparasi NPL periode Mei 2023 yang tercatat 2,52%.
Sementara untuk NPL net, pada Mei 2024 tercatat 0,79%, menurun dibandingkan April 2024 yakni 0,81%. Namun, masih lebih tinggi ketimbang periode Mei tahun lalu yang berada di level 0,77%.
Baca Juga
Bos BCA Sebut Perbankan Punya Tantangan yang Tak Boleh Diabaikan, Apa Itu?
“Dengan pemerintah akan ada usulan untuk memperpanjang relaksasi mungkin ini menjadi bagian yang bisa membantu perbankan, kemudian untuk membantu menahan laju NPL,” ucap Amin.
Dikatakan dia, untuk menghadapi dua tantangan utama tersebut, perbankan harus meningkatkan portofolio kredit yang berkualitas, sambil terus menjaganya dengan semaksimal mungkin.
“Pembentukan CKPN (cadangan kerugian penurunan nilai) cuma jadi salah satu cara saja untuk mempertebal, supaya bisa menahan ketika NPL atau laju kredit macetnya sudah tidak bisa ditahan,” ujar Amin.

