AAUI Catat Premi Asuransi Umum Tumbuh 0,3% Jadi Rp 30,53 Triliun di Kuartal I 2024
JAKARTA, investortrust.id - Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) mencatat, industri asuransi umum di dalam negeri sukses membukukan pendapatan premi sebesar Rp 30,53 triliun di kuartal I 2025, tumbuh 0,3% dibanding periode yang sama tahun lalu yaitu Rp 30,45 triliun.
Wakil Ketua AAUI Bidang Statistik dan Riset Trinita Situmeang mengungkapkan, kenaikan tipis tersebut ditopang oleh sejumlah lini bisnis utama seperti asuransi properti, kendaraan bermotor, dan kredit.
“Memang kita lihat ada beberapa lini bisnis penyangga. Malah dua bisnis utama yaitu asuransi kendaraan bermotor dan asuransi harta benda (properti) mengalami kontraksi,” ujarnya, dalam paparan kinerja asuransi umum kuartal I 2025 AAUI, di Jakarta, Jumat (13/6/2025).
Baca Juga
AAUI Ungkap Penyebab Hasil Investasi Asuransi Umum Tumbuh 19,8% di 2024
Trinita merinci, ada empat lini bisnis menjadi kontributor utama industri dalam menyumbang premi, yakni lini asuransi properti dengan pangsa 25,9%, asuransi kendaraan bermotor 17,3%, asuransi kredit 13,3%, serta asuransi kesehatan dengan market share 12,2%.
Namun dua lini penyumbang premi teratas industri mengalami masa yang menantang. Di lini asuransi properti misalnya, pertumbuhan preminya mengalami kontraksi 14,1% secara year on year (yoy) menjadi Rp 7,80 triliun, lalu asuransi kendaraan bermotor yang tumbuh negatif 5,3% (yoy) menjadi Rp 5,24 triliun.
Sementara, untuk premi dari lini asuransi kredit tumbuh tipis 0,3% (yoy) menjadi Rp 3,98 triliun di kuartal I 2025. Diikuti premi asuransi kesehatan yang meningkat 9,8% (yoy) menjadi Rp 3,77 triliun.
“Yang naik adalah secara persentase, namun secara jumlah memang masih cukup jauh dibawah, itu adalah personal accident. Untuk health insurance juga kita lihat disini naiknya 9,8% saja,” kata Trinita.
Baca Juga
AAUI Catat Premi Asuransi Umum Tumbuh 8,7% Jadi Rp 112,86 Triliun di 2024
Sementara untuk klaim, data AAUI mencatat total klaim asuransi umum secara industri naik 4,8% dari Rp 10,48 triliun pada kuartal I 2024 menjadi Rp 10,98 triliun di periode yang sama tahun ini. Secara persentase, kenaikan klaim tertinggi terjadi di lini bisnis asuransi liability, diikuti kecelakaan diri (personal accident), dan surety ship, namun jumlah klaim yang dibayarkan bisa dibilang tidak besar.
“Secara persentase loss ratio, asuransi kredit masih cukup menantang dengan loss ratio mencapai 90,3%. Artinya, antara klaim yang dibayar dengan pendapatan premi bruto untuk asuransi kredit berada di level yang cukup tinggi,” ucap Trinita.

