Perbanas Optimistis Kredit Perbankan Bisa Tumbuh 10,6% di 2025
JAKARTA, investortrust.id - Ketua Bidang Pengembangan Kajian Ekonomi Perbankan Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) Aviliani mengungkapkan, pihaknya tetap optimistis penyaluran kredit perbankan pada 2025 mampu tumbuh 10,6% secara year on year (yoy), sejalan dengan proyeksi Bank Indonesia sebesar 11% hingga 13%.
Menurutnya, pertumbuhan kredit tersebut bisa terdorong oleh berbagai faktor, salah satunya adalah momentum Ramadan yang diperkirakan akan meningkatkan permintaan kredit. Hal ini seperti yang terjadi pada tahun-tahun sebelumnya.
“Perbanas berharap momentum Ramadan selama bulan ini dapat mendongkrak pertumbuhan kredit, sebagaimana pada tahun sebelumnya, di mana pertumbuhan kredit tertinggi terjadi pada Maret-April sebesar 12%-13%,” ujar Aviliani, dalam keterangan pers, Rabu (26/3/2025).
Data Bank Indonesia (BI), lanjut dia, menunjukkan bahwa kredit konsumsi tumbuh sekitar 9% (yoy) pada Februari 2025, pada Januari 2025 pun pertumbuhannya di kisaran 9% (yoy). Aviliani menilai ada tiga periode utama yang mendorong naiknya kredit konsumsi, yaitu Ramadan dan Idulfitri, tahun ajaran baru (Juni-Juli), serta Natal dan tahun baru.
Baca Juga
Selama periode Ramadan, pertumbuhan kredit konsumsi secara bulanan biasanya meningkat cukup signifikan. Bahkan, pada Ramadan 2024 tercatat tumbuh paling tinggi dibanding bulan-bulan lainnya sebesar 1,47% (mtm).
Namun, kata Aviliani, setelah Idulfitri masyarakat cenderung mengurangi konsumsi sehingga pertumbuhan kredit konsumsi secara bulanan ikut turun drastis, selalu tergolong terendah dibanding bulan-bulan lainnya.
“Pola yang sama juga terjadi pada periode sebelum anak masuk sekolah dan libur Nataru, di mana sebelum periode tersebut kredit akan tumbuh, namun akan melambat setelahnya,” katanya.
Baca Juga
Perbanas: Indeks Inklusi dan Literasi Keuangan Alami Tren Peningkatan dalam 10 Tahun Terakhir
Aviliani memperkirakan tren pertumbuhan kredit akan tetap stabil hingga akhir tahun, dengan faktor pendorong utama berasal dari target pertumbuhan ekonomi yang agresif sebesar 8%.
“Di sisi lain, pesimisme berasal dari daya beli masyarakat yang masih lemah (sisi demand) dan semakin ketatnya likuiditas (sisi supply), tercermin pada pertumbuhan kredit yang tinggi. Namun di sisi lain pertumbuhan DPK (dana pihak ketiga) terus melambat,” ucap dia.

