Perbanas: Perlambatan DPK Jadi Tantangan Serius Perbankan
JAKARTA, investortrust.id - Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) menyatakan bahwa tantangan utama industri perbankan pada tahun 2025 adalah perlambatan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK), yakni giro, tabungan, dan deposito.
Ketua Umum Perbanas Kartika Wirjoatmodjo mengungkapkan, tantangan utama industri perbankan dalam beberapa tahun terakhir ini adalah perlambatan pertumbuhan DPK.
"Jadi perlambatan DPK ini menjadi tantangan utama, di mana memang tingkat LDR (Loan To Deposit Ratio) perbankan saat ini berada di kisaran 87%," ujar Kartika dalam acara Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) dengan Komisi XI DPR RI di Gedung Nusantara II, DPR RI, Jakarta, (13/3/2025).
Kartika menjelaskan, dalam beberapa bulan terakhir pertumbuhan DPK memang terlihat sedikit melambat. Sementara itu, pertumbuhan kredit industri perbankan masih berada di atas 10%.
Lebih lanjut, Kartika menyebut, Perbanas memiliki kesepakatan bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia (BI), bahwa industri masih bisa mencapai pertumbuhan di kisaran 10% hingga 12% pada tahun 2025.
"Mungkin di lower double digit di kisaran 10-12% dan tentunya ini dipersyaratkan dengan kondisi likuiditas yang baik dan bisa memadai untuk bisa memungkinkan pertumbuhan perbankan secara lebih sehat," ungkap Kartika.
Di sisi lain, Kartika membeberkan bahwa tingkat DPK perorangan menunjukkan perlambatan pertumbuhan yang lebih dalam. Sementara itu, DPK korporasi masih mencatat perumbuhan.
"Bahwa memang simpanan ini mengalami penurunan ini akan memengaruhi kemampuan kami untuk tumbuh dengan biaya murah ke depan," kata Kartika.
Ke depan, Kartika menuturkan, tantangan terbesar industri perbankan terdapat pada tingkat LDR. Sepanjang tahun 2024, tingkat LDR perbankan berada di level 89%.
"Jadi bagaimana memastikan bagaimana terdapat pertumbuhan DPK yang memadai untuk mendukung pertumbuhan kredit di 2025," imbuh Kartika.
Baca Juga
Perbanas: Indeks Inklusi dan Literasi Keuangan Alami Tren Peningkatan dalam 10 Tahun Terakhir
Sebelumnya diberitakan investortrust.id, kinerja intermediasi perbankan tumbuh positif dengan profil risiko yang terjaga. Pada Januari 2025, pertumbuhan kredit tetap melanjutkan double digit growth sebesar 10,27% yoy (Desember 2024: 10,39%) menjadi Rp 7.782 triliun.
Di sisi lain, DPK tercatat tumbuh sebesar 5,51% yoy (Desember 2024: 4,48% yoy) menjadi Rp 8.879,2 triliun, dengan giro, tabungan, dan deposito masing-masing tumbuh sebesar 6,86%, 6,59%, dan 3,49% yoy.
Likuiditas industri perbankan pada Januari 2025 tetap memadai, dengan rasio Alat Likuid/Non-Core Deposit (AL/NCD) dan Alat Likuid/Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) masing-masing sebesar 114,86% (Desember 2024: 112,87%) dan 26,03% (Desember 2024: 25,59%), masih di atas threshold masing-masing sebesar 50% dan 10%. Adapun Liquidity Coverage Ratio (LCR) berada di level 211,20%.
Baca Juga
Efisiensi Anggaran Pemerintah Bisa Berdampak ke Perbankan? Ini Pandangan Perbanas

