Danamon Bidik Pertumbuhan 15% Bisnis Wealth Management, Mengapa?
Head of Consumer Funding & Wealth Business Consumer Funding Bank Danamon Ivan Jaya mengungkapkan, tahun lalu, bisnis wealth management bank berkode saham BDMN ini tumbuh di kisaran 15%-20%. Hal itu didorong oleh instrumen investasi obligasi.
”Karena wajar ada pemotongan suku bunga (di 2024), tentunya instrumen yang paling menarik adalah bonds atau obligasi. Tahun ini pun kami masih melihat ada potensi untuk BI menurunkan suku bunga, mungkin satu kali lagi ya, 25 basis poin. Sehingga, bonds masih menjadi penggerak,” ujarnya, menjawab pertanyaan Investortrust, Jakarta, Senin (10/3/2025).
Baca Juga
Pospek Investasi Valas
Selain obligasi, lanjut Ivan, Bank Danamon juga melihat peluang pertumbuhan pada bisnis valas. Sebab, fluktuasi signifikan nilai tukar mata uang dinilai dapat memberikan potensi bagi investor untuk mendapatkan keuntungan.
“Setelah obligasi, kemudian nomor dua adalah forex. Tentunya dengan mata uang yang berfluktuasi akan memberikan potensi untuk forex ini untuk tumbuh juga,” katanya.
Baca Juga
Bisnis Baru dan Buyback Obligasi Dongkrak Kinerja PGN (PGAS), Capex Rp 5 Triliun
Di sisi lain, Ivan melihat bahwa reksa dana masih akan berpotensi mengalami tekanan akibat sentimen foreign capital outflow atau arus keluar investasi, yang menekan indeks harga saham. Meski begitu, dalam seminggu terakhir, ia menilai pasar saham mulai tren membaik.
“Tentunya, diharapkan katalis ini masih bisa berlanjut,” ucap dia.

