Pefindo Biro Kredit Prediksi Pemakaian Pay Later Capai Rp 47,35 Triliun di 2025, Generasi Ini Terbanyak
JAKARTA, investortrust.id – PT Pefindo Biro Kredit (IdScore) memprediksi nilai outstanding penggunaan buy now pay later (BNPL) di Indonesia pada 2025 diprediksi mencapai Rp 47,35 triliun.
Jumlah tersebut berasal dari prediksi pertumbuhan bisnis BNPL tahun ini berkisar kisaran 24-30%, dibandingkan 2024. Sedangkan realisasi portofolio kredit BNPL sampai November 2024 telah mencapai Rp 35,14 triliun.
Kemudian secara setahun penuh, penggunaan BNPL sepanjang 2024 diproyeksi mencapai Rp 36,43 triliun atau meningkat 27,6% (yoy). “Saat ini bisnis BNPL semakin diterima dan diintegrasikan ke dalam layanan perbankan konvensional” ujar Direktur Utama IdScore Tan Glant Saputrahadi dalam Media Gathering yang memaparkan hasil riset bertajuk Tren dan Pertumbuhan Bisnis Buy Now Pay Later di Indonesia di Bursa Efek Indonesia, Kamis (16/1/2025).
Baca Juga
Ternyata Ini Alasan OJK Batasi Usia Peminjam Pay Later Minimal 18 Tahun
Menurut Pefindo, angka pertumbuhan BNPL mengindikasikan perilaku konsumtif masyarakat yang masih tinggi. Pertumbuhan BNPL tahun ini sejalan dengan prediksi pertumbuhan portofolio kredit nasional yang juga diperkirakan mencapai dua digit.
Merujuk hasil riset yang sama, bank umum juga terlihat semakin agresif memasuki bisnis BNPL, dengan pertumbuhan tahunan yang signifikan, mencapai 68,24%.
Lebih jauh, Glant mengungkapkan, meskipun penetrasi BNPL masih terkonsentrasi di pulau Jawa, terutama wilayah Jabodetabek dengan porsi mencapai 31,71%, potensi pertumbuhan di wilayah lain masih sangat besar.
Dari sisi pengguna, generasi muda yakni Gen Z dan Milenial masih mendominasi sebagai debitur BNPL. Tujuan penggunaan fasilitas BNPL pun beragam, seperti belanja e-commerce sebanyak 33%, pembelian tiket termasuk travel 21,1%, dan transaksi lainnya seperti pembayaran via QRIS yang tercatat sebanyak 41,9%.
“Kabar baik lainnya adalah tren non-performing loan (NPL) atau kredit bermasalah pada BNPL terus menunjukkan penurunan cukup signifikan,” imbuh Glant.
Baca Juga
Lebih rinci, penurunan NPL dari titik tertinggi 6,66% pada September 2023 menjadi 3,21% pada November 2024. Penurunan signifikan ini didorong perbaikan kualitas portofolio kredit dan akuisisi kredit, terutama di sektor fintech dan semakin banyaknya Bank Buku IV yang terjun ke industri ini.
Beberapa faktor utama yang memengaruhi portofolio kredit BNPL antara lain adalah BI Rate, inflasi, indeks konsumsi rumah tangga, dan NPL.
“Dengan pengelolaan yang baik terhadap faktor-faktor tersebut, pertumbuhan industri BNPL diharapkan dapat terus berkelanjutan dan memberikan kontribusi positif bagi perekonomian nasional,” pungkasnya.

