Layanan Buy Now Pay Later Kian Digemari Gen Z dan Milenial
JAKARTA, investortrust.id - Menurut Chief Data Officer Lokadata, Suwandi Ahmad, kalangan generasi muda seperti gen z dan milenial, semakin adaptif dengan kemajuan teknologi finansial (fintech). Data dari Lokadata, sebanyak 78% masyarakat Indonesia menggunakan aplikasi fintech setiap hari, termasuk dompet digital, layanan pinjaman dan pembayaran digital.
Dia mengungkap salah satu layanan fintech yang paling banyak digunakan oleh generasi muda adalah buy now pay later (BNPL). Data dari Lokadata menunjukkan 67% pengguna fintech memanfaatkan layanan BNPL. Faktor yang mendorong penggunaannya adalah keterbatasan dana tunai dan penawaran promosi khusus dengan durasi cicilan yang paling populer adalah antara 1 hingga 3 bulan, yang mencerminkan keinginan untuk menyelesaikan utang dengan cepat.
“Generasi muda saat ini sudah sangat terbiasa dengan teknologi finansial yang memberikan mereka kemudahan dan fleksibilitas. Tak kalah penting yaitu memastikan bahwa layanan ini digunakan secara bijaksana, terutama terkait literasi keuangan dan risiko penggunaan yang berlebihan,” ujar Suwandi di Jakarta, Rabu (9/10/2024).
Fenomena yang menarik lainnya, lanjut Suwandi, adalah lebih dari 50% Gen Z secara rutin melakukan perencanaan keuangan bulanan, aksesibilitas yang mudah serta integrasi dengan layanan seperti e-commerce dan investasi menjadi faktor utama pendorong hal ini.
Baca Juga
Di kesempatan yang sama Direktur PT Indodana Multi Finance, Iwan Dewanto, menyatakan BNPL menjadi game changer di kalangan anak muda, khususnya terhadap penggunaan aplikasi fintech, karena memberikan fleksibilitas dalam berbelanja. Namun dia mengungkap ada kebutuhan tersendiri untuk meningkatkan literasi keuangan agar generasi muda tidak terjebak dalam utang yang berlebihan.
"Kami di Indodana terus berupaya untuk memberikan panduan keuangan yang tepat kepada pengguna,” kata Iwan.
Meski fintech menunjukkan pertumbuhan yang signifikan, terdapat kekhawatiran terkait risiko gagal bayar. Data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan pembiayaan konsumtif melalui skema BNPL melonjak hingga 89,20% year on year (YoY) dengan nilai mencapai Rp 7,99 triliun pada Agustus 2024. Namun, non performing financing (NPF) tetap terkendali di angka 2,52%.
Meskipun pertumbuhan BNPL sangat pesat, direktur Indodana itu mengingatkan penting untuk menjaga keseimbangan di antara para stakeholders. Dia menyebut kolaborasi antara regulator, penyedia layanan, merchant, asosiasi dan konsumen sangat penting untuk menciptakan ekosistem fintech yang sehat dan berkelanjutan di Indonesia.
"Kami di Indodana sebagai penyedia layanan berupaya memastikan bahwa pengguna tidak melebihi batas kemampuan finansial mereka dengan memberikan batasan kredit yang disesuaikan dengan pendapatan,” ucap dia.
Baca Juga
Dari 98 Fintech Lending, 16 Diantaranya Belum Penuhi Ekuitas Minimum Rp 7,5 Miliar
Tren lain yang mencolok adalah 73% anak muda menggunakan bank digital. Ini menunjukkan bagaimana fintech telah mengubah pola konsumsi. Berdasarkan riset, kebutuhan tersier seperti pembelian baju, elektronik, dan produk digital mulai berubah menjadi kebutuhan primer. Sebagai contoh, di Pontianak, rata-rata pengeluaran mingguan anak muda untuk barang digital mencapai Rp 22-28 miliar, melebihi pengeluaran untuk kebutuhan protein.
Kemudian Head of Growth & Acquisition PT Bank Digital BCA Albert Kurniawan, menyebut pihaknya menangkap tren yang tengah berkembang tersebut. Melalui Blu by BCA, sebagai bank digital tanpa cabang, dia menjelaskan BCA Digital hadir untuk memberikan solusi keuangan yang praktis dan inovatif bagi generasi yang melek teknologi.
"Melalui aplikasi mobile, kami menyediakan fitur-fitur seperti pengelolaan tabungan multi tujuan, layanan patungan, investasi, hingga fitur loyalitas, yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan finansial generasi muda. Dengan kemudahan akses dan kecepatan transaksi yang ditawarkan, Blu by BCA terus berinovasi agar relevan dan mendukung gaya hidup digital yang berkembang pesat saat ini,” tutur dia.
Dengan kemudahan digitalisasi tersebut tak jarang muncul beberapa kekhawatiran di antaranya doom spending. Yaitu perilaku konsumtif yang impulsif juga terkait literasi keuangan, hanya 32% Gen Z yang memahami secara baik definisi bank digital dan perlindungan data pribadi, di mana pengguna BNPL menyuarakan kekhawatiran terkait hal ini.

