Antisipasi dan Edukasi Jadi Cara Jitu BCA di Tengah Maraknya Serangan Siber
JAKARTA, investortrust.id - PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) atau BCA terus memperkuat sistem informatika. Langkah ini untuk menghadapi berbagai modus serangan siber yang muncul di tengah geliat perkembangan teknologi.
Senior Vice President of IT Security Group BCA Ferdinan Marlim mengatakan, langkah antisipasi ini dilakukan karena BCA ingin menjaga data nasabah. Ferdinan mengatakan, berdasarkan laporan keuangan semester I 2024 melayani sebanyak 17 miliar transaksi.
“Saat ini kita memiliki 31 juta nasabah dengan jumlah transaksi sepanjang enam bulan pertama lebih dari 17 miliar. Jadi secara rata-rata melayani transaksi 100 juta transaksi per hari,” kata Ferdinan saat acara Secure and Trusted Integrated Data for Smart City, di JI Expo, Jakarta, Rabu (18/9/2024).
Baca Juga
Ferdinan mengatakan, transaksi tersebut dilakukan melalui berbagai kanal transaksi yang dimiliki BCA, di antaranya ATM, mobile banking, dan EDC, serta internet banking.
Ferdinan mengatakan, pengamanan data nasabah menjadi penting bagi BCA karena data tersebut merupakan aset.
“BCA berkomitmen untuk melakukan pengamanan dari seluruh data nasabah. Dari sudut pandang kami, mengamankan data nasabah bukan sekadar comply terhadap undang-undang, tapi itu memang kewajiban dan tugas tanggung jawab kita sebagai penyelenggara jasa,” kata dia.
Baca Juga
Viral! Cuitan Nasabah BCA Dilayani Cleaning Service, Ini Kata Manajemen
Ferdinan mengatakan, terdapat enam inisiatif yang dilakukan BCA untuk menjaga keamanan data pribadi. Enam inisiatif tersebut diantaranya mengikuti regulasi yang diatur pemerintah, mengidentifikasi terjadinya kebocoran data transaksi nasabah, menjaga infrastruktur dan sumber daya manusia, mendeteksi anomali yang terjadi dalam sistem. Serta merespons masalah yang dihadapi nasabah dan melakukan pemulihan data dan memberi penjelasan ke publik.
“Selain itu kami juga melakukan edukasi dan pemahaman kepada nasabah. Jadi kita tahu bahwa kebocoran data itu seringkali bukan hanya dari internal tapi juga dari sisi nasabah, yang rentan terkena phising atau malware,” ucap dia.

