Banyak Bank Klaim Sebagai Bank Digital, Konsultan Transformasi Digital: Harus Ada Suatu Standar yang Baku
JAKARTA, investortrust.id – Konsultan Transformasi Digital Tjandra Gunawan membeberkan pentingnya digital maturity assessment atau penilaian tingkat maturitas digital bagi sebuah bank. Pasalnya, saat ini banyak bank yang mengklaim dirinya sebagai bank digital.
“Nah, mesti ada suatu standar yang istilahnya baku bahwa yes you are digital bank atau paling tidak istilahnya digitalisasinya itu sudah sampai di level mana,” ujar Tjandra dalam acara Investortrust Power Talk bertajuk “Digital Maturity Assessment of Banks Dipandang dari Berbagai Sisi” di Kantor Investortrust, The Convergence Indonesia, Jakarta, Senin (2/9/2024).
Seperti diketahui, tingkat kematangan tersebut diukur dengan menggunakan enam dimensi penilaian Digital Maturity Assessment for Bank (DMAB). Di mana, keenam dimensi penilaian tersebut adalah data, teknologi, manajemen risiko, kolaborasi, tatanan institusi, dan nasabah.
Secara rinci, rasio rata-rata nilai tingkat kematangan digital bank di Indonesia terhadap nilai tingkat kematangan digital maksimal berdasarkan hasil penilaian DMAB OJK pada tahun 2021, yakni data 57%, teknologi 50%, manajemen risiko 43%, kolaborasi 53%, tatanan institusi 46%, nasabah 50%.
“Kalau bicara dari persentase yang disini, kalau berdasarkan pengalaman saya saat memimpin selama tiga tahun, sebetulnya di enam area ini sudah merupakan area yang paling penting dari semua fase digitalisasi, memang antara satu dengan yang lainnya ada keterkaitan. Lalu kalau misalkan kita bicara dari sisi teknis, teknologi misalnya, tidak sedikit bank yang mengutamakan teknologinya, jadi menggembar-gemborkan teknologinya apa gitu lho,” jelas Tjandra.
Baca Juga
Sehubungan dengan hal tersebut, Tjandra menyebut, teknologi tersebut kenyatannya tidak bisa menjaga data dari nasabah. Ia menjelaskan, salah satu kejadian yang paling krusial dan sempat menghebohkan di lapangan adalah terkait data nasabah yang tidak terproteksi.
“Nah, itu menjadi suatu poin penting menurut saya saat sekarang ini, yes you have very good service, layanannya bagus, perfect, UX-nya oke, UI-nya oke, unfortunately datanya tidak terproteksi,” ungkap Tjandra.
Tjandra mengatakan, kondisi demikian akan membuat rasa percaya nasabah terhadap bank digital sedikit banyaknya akan terganggu.
“Ini keterkaitannya tidak jauh dengan manajemen risiko, istilahnya begitu, kadang kita berpikir manajemen risiko itu hanya dikaitkan dengan kredit, dengan operasional. Nah, disini data juga bisa dibilang salah satu risiko yang harus di-manage, karena pada saat kita turn to be digital bank, kita bicara mengenai menjaga supaya data tersebut protected, customer feel safe, mereka tahu bahwa data mereka tidak akan bocor, mereka transaksi tidak akan bocor,” jelas Tjandra.
Sebagai tambahan informasi, tingkat maturitas digital merupakan kondisi yang mencerminkan pemenuhan terhadap seluruh aspek dalam penyelenggaraan teknologi informasi (TI) sesuai dengan POJK Penyelenggaraan Teknologi Informasi, serta kesiapan bank dalam mendukung transformasi digital. Penilaian tingkat maturitas digital merupakan panduan untuk menentukan, menilai, dan mengevaluasi tingkat digitalisasi bank, sehingga dapat diketahui kondisi digitalisasi bank.
Baca Juga
Lebih lanjut, panduan tersebut juga dapat digunakan sebagai alat monitoring bagi bank dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terhadap perkembangan transformasi digital yang dilakukan oleh bank. Penilaian tingkat maturitas digital bank dapat menjadi salah satu acuan bagi bank untuk mengetahui keandalan infrastruktur TI, serta manajemen pengelolaan infrastruktur TI, sehingga dapat digunakan oleh bank sebagai dasar pertimbangan untuk pengembangan produk dan layanan yang lebih komprehensif bagi konsumen.
Di sisi lain, bank melakukan penilaian sendiri atas tingkat maturitas digital bank secara berkala, paling sedikit satu kali dalam satu tahun dengan mempertimbangkan adanya perubahan kondisi internal dan eksternal bank.

