Rupiah Menguat Terhadap Dolar AS, Posisi Rp 17.724 per Dolar AS
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah bergerak menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan mula Jumat (18/9/2026). Rupiah menguat 0,16% menjadi Rp 17.724 per dolar AS.
Dari pantauan data Bloomberg, indeks dolar AS bergerak melemah ke posisi 100,2. Pelemahan ini direspons dengan penguatan yuan China sebesar 0,1%, ringgit Malaysia menguat 0,37%, peso Filipina sebesar 0,2%, baht Tailan sebesar 0,02%.
Sementara itu, sejumlah mata uang di kawasan Asia terpantau melemah. Dolar Singapura melemah 0,01%, yen Jepang melemah 0,17%, dan won Korea Selatan melemah selatan 0,33%.
Baca Juga
Kepala Ekonom Bank Danamon, Irman Faiz menilai dengan kondisi yang belum stabil, rupiah masih berpotensi melemah perlahan. Ini karena harga minyak dunia yang masih bergerak tak menentu.
Berdasarkan data, harga minyak mentah dunia bergerak melemah, namun masih menembus US$ 100 per barel. Harga minyak mentah versi WTI melemah 0,5% menjadi US$ 101,41 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah Brent melemah 0,69% dan berada di posisi US$ 104,13 per barel.
Irman mengatakan bahwa kenaikan suku bunga acuan bank sentral AS turut menjadi pembatas pergerakan nilai tukar. Seperti diketahui, kenaikan Fed Fund Rate (FFR) terjadi karena pasar tenaga kerja yang tangguh dan pertumbuhan ekonomi yang terjaga. Dua pondasi ini membuat the Fed memusatkan perhatian pada pemulihan stabilitas harga.
CPI Agustus naik 0,4% secara bulanan, sehingga inflasi utama tetap berada di 3,4% secara tahunan. Sementara itu, inflasi inti CPI meningkat 0,3% secara bulanan, meskipun sedikit melandai menjadi 2,4% secara tahunan.
Baca Juga
Tekanan dari sisi hulu juga terlihat, dengan PPI utama naik 0,4% secara bulanan dan 5,4% secara tahunan, didorong oleh kenaikan harga barang sebesar 1,1%. Namun, PPI inti yang tidak memasukkan pangan, energi, dan jasa perdagangan melandai menjadi 0,3% secara bulanan.
Proyeksi ekonomi September 2026 akan memperkuat alasan the Fed untuk mempertahankan kebijakan moneter dengan suku bunga tinggi secara lebih lama. Analisis Bank Danamon menunjukkan the Fed berubah lebih hawkish secara signifikan.
“Median proyeksi kini mengindikasikan satu kali kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin lagi hingga akhir tahun,” ujar Irman.
