Rupiah Terdesak Melemah Terhadap Dolar AS Jelang Rapat FOMC
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah bersama sejumlah mata uang di kawasan Asia bergerak melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Rabu (16/9/2026). Rupiah melemah sebesar 0,23% ke posisi Rp 17.735 per dolar AS.
Sementara itu, yen Jepang melemah 0,21%. Yuan China melemah 0,01%, won Korea Selatan juga terpantau melemah 0,56%, dan rupee India melemah 0,42%. Pelemahan nilai tukar juga terpantau di dolar Singapura sebesar 0,07% dan baht Tailan sebesar 0,11%.
Di sisi lain, dua mata uang di kawasan Asia Tenggara, ringgit Malaysia dan peso Filipina terpantau menguat terhadap dolar AS. Ringgit menguat 0,25% dan peso menguat 0,12%.
Baca Juga
Rupiah Perkasa, Pergantian Menkeu Diharapkan dapat Respons Positif Pasar
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan bahwa pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada Rabu (16/9/2026) waktu AS atau Kamis (17/9/2026) pagi waktu Indonesia.
Pengamat dan pasar berpandangan bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga acuan dalam pertemuan tersebut. Persentase kenaikan suku bunga mencapai 85-90%.
Akan tetapi, Ibrahim punya pandangan lain. Menurutnya, Ketua The Fed, Kevin Warsh diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan. Alasannya, pernyataan Warsh beberapa waktu lalu yang menyebut Fed Fund Rate (FFR) saat ini terbilang tinggi.
Meski demikian, Warsh diperkirakan masih memantau harga energi di AS. Dalam catatan Ibrahim, harga bahan bakar minyak (BBM) di AS telah naik dari US$ 4,8 per galon menjadi di atas US$ 6 per galon.
“Sehingga berdampak terhadap inflasi di Amerika,” kata dia.
Baca Juga
Rupiah Bergerak Menguat Terhadap Dolar AS, Sentuh Rp 17.607 per US$
Masalah kenaikan harga energi tersebut muncul karena gejolak Timur Tengah yang belum mereda. Aksi saling serang Houthi dan Arab Saudi.
Dalam pantauan di papan data Bloomberg, harga minyak mentah dunia telah menembus US$ 100 per barel. Berdasarkan WTI, harga minyak mentah mencapai US$ 104,82 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah versi Brent mencapai US$ 108,15 per barel.
